Valentine, Milenial dan Pilpres 2019

Rabu, 13 Februari 2019 | 18:24 WIB
Share Tweet Share

Rian Agung/Penulis

Oleh Rian Agung, Penulis Lepas

[INDONESIAKORAN.COM] Valentine's Day atau perayaan hari kasih sayang yang jatuh pada 14 Februari setiap tahunnya, masih menuai polemik. Hal itu dilatari oleh pro-kontra di kalangan masyarakat Indonesia perihal keabsahan perayaan tersebut.

Ada yang berpandangan perayaan hari Valentine bukan budaya kita, tetapi susupan dari perayaan budaya Barat yang nota bene dianggap kafir. Apalagi jika dikait-kaitkan dengan agama akan menjadi makin ruwet. Sementara di kubu lain ada yang menganggap itu kebiasaan yang baik karena merayakan apa yang paling eksistensial dalam hidup manusia, yakni cinta dan sayang. Makanya hari Valentine dimaknai sebagai hari kasih sayang.

Begitulah kedua kubu selalu memiliki dalil masing-masing untuk mengakui dan merayakan Valentine's Day bagi satu pihak, dan menolak untuk merayakannya bagi pihak yang lain. Yang pro tentu saja dengan antusias mengakui Valentine's Day sebagai momen yang spesial. Di hari Valentine mereka bisa berbagi kasih sayang, tidak saja dengan pasangan hidup dan orang terdekat, melainkan juga dengan orang lain di luar keluarga dan komunitasnya, terutama berbagi dengan mereka yang terlantar dan kaum papa.

Belum lagi kalau Anda membuka bisnis yang laris manis di hari Valentine. Misalnya toko bunga, coklat, boneka dan baju-baju couple yang biasanya diserbu pembeli menjelang hari Valentine. Sebagai pedagang Anda pasti mengaku diri turut menikmati keuntungan yang berlipat di hari Valentine. Valentine dengan demikian, selain bernilai solidaritas tinggi, juga bernilai ekonomis.

Pihak yang kontra atau menolak Valentine's Day menilai perayaan Valentine berasal dari budaya barat. Valentine menurut mereka merupakan produk kapitalis yang tidak sesuai dan bertolak belakang dengan budaya Indonesia, terlebih dalam budaya dan ajaran agama tertentu. Pada perayaan Valentine's Day beberapa tahun silam misalnya, beberapa wilayah di Indonesia, seperti di Aceh, Pekanbaru, Palembang, Banten, ada larangan mengenai perayaan hari Valentine. Bahkan mereka juga menghimbau supaya pusat perbelanjaan, Mal, Hotel, Restoran tidak menjual barang-barang berbau Valentine atau memberikan fasilitas untuk acara Valentine.

Sikap kelompok ini berkelindan dengan kenyataan, perayaan Valentine yang terjadi di kalangan remaja dan anak muda sekarang sungguh memprihatinkan. Banyak anak muda yang justru menyalahartikan perayaan Valentine dengan menjadikannya sebagai hari kebebasan yang kebablasan. Tidak sedikit anak gadis yang katanya demi cinta rela mengorbankan keperawanannya buat sang kekasih. Pesta alkohol dan narkoba pun juga tidak ketinggalan di perayaan Valentine bagi sebagian orang.

Tapi, apakah kesemuanya itu semata-mata hanya terjadi pada hari Valentine? Menutup matakah kita terhadap seks bebas, kasus pemerkosaan, penggunaan obat-obat terlarang di luar sana yang terjadi tanpa mengenal ruang dan waktu. Bahkan, di hari yang kita cap paling suci sekalipun hal-hal semacam itu rentan terjadi dan kita tidak bicara banyak. Dan tiba saat Valentine datang, kita sepertinya muak, dan ramai-ramai mengutuknya sebagai hari sial dan membawa banyak petaka.

Tapi sudahlah, beda pendapat terkait satu isu di alam demokrasi seperti sekarang ini tak menjadi soal. Takutnya, kalau kita ngotot dengan dalil yang kita punya, kita malah dikatai radikal, tidak toleran dan memberi sinyal akan memonopoli kebenaran.

Catatannya adalah, beda pendapat dalam menyikapi suatu hal jangan sampai memantik konflik, caci maki, dan umpatan di ruang publik dan media sosial. Kita profesional dan adem-adem saja. Apalagi, ini soal kemanusiaan dengan satu proposal utama, perlukah satu hari khusus bagi kita untuk merayakan hari kasih sayang. Sebagaimana kita merayakan hari ibu misalnya, demikianpun sedianya pengakuan sebagian kelompok akan hari Valentine. Itu saja!

Namun terlepas dari itu semua, yang menarik adalah, dua soal di atas tidak terlalu berpengaruh signifikan bagi generasi Milenial. Generasi milenial ternyata masih tertarik untuk merayakan hari Valentine atau hari kasih sayang.

Berdasarkan survei pola perilaku belanja untuk valentine yang dilakukan ShopBack pada tahun 2018 menunjukkan, sebanyak 54,9% responden mengaku akan membelikan hadiah pasangannya untuk hari Valentine. Uniknya sebesar 54,1% responden wanita yang paling bersemangat untuk memberikan sesuatu kepada pasangannya
di hari kasih sayang tersebut. Survei yang dilakukan secara online terhadap lebih dari 1.100 responden dengan rentang usia 18—38 tahun ini dilakukan di Jabodetabek, Bandung, Medan, Surabaya, dan Makassar.

Yang menarik juga dari survei ini adalah generasi melenial mulai beralih membeli hadiah untuk Valentine secara online. Hal ini tidak terlepas dari maraknya e-commerce serta didukung dengan infrastruktur yang memadai. Bahkan, sebanyak 47,7% responden mengaku dengan adanya e-commerce semakin sering membeli barang untuk hadiah Valentine.

"Berdasarkan survei yang kami lakukan, sebelum e-commerce marak di Indonesia, sebanyak 74.1% responden biasanya membeli hadiah untuk Valentine di toko offline, dan 25,6 % selalu membeli hadiah Valentine di toko online,” ujar Indra Yonathan, Co-Founder dan Country Head of ShopBack Indonesia seperti dilansir SINDOnews.

"Angka ini naik hampir dua kali lipat dari sebelumnya. Adapun barang-barang yang paling banyak dibeli secara online adalah cokelat (45.8%), voucher makanan di restoran mewah (32.5%) dan boneka (19,9%)," sambungnya.

Antusiasme generasi Milenial merayakan Valentine dengan berbagai cara dan variannya menjadi daya pikat tersendiri untuk dibicarakan dalam konteks pemilihan presiden (Pilpres) mendatang. Hal ini tentu saja berkenaan dengan posisi milenial yang bernilai strategis dalam konteks Pilpres sebagai pertarungan untuk mencari suara terbanyak.

Diketahui, generasi milenial menjadi pemilih yang potensial dalam Pemilu 2019. Sebab, generasi yang berusia di bawah 40 tahun ini jumlah populasinya mencapai 30 persen dari total pemilih. Maka, untuk menggaet suara pemilih muda ini, pasangan capres dan cawapres harus benar-benar memperhatikan isu faktual seputar kehidupan mereka. Perayaan Valentine yang kebetulan berdekatan dengan Pilpres hemat saya, bisa menjadi salah satu isu strategis yang bisa dikreasikan untuk menggaet pemilih muda ini. Hal ini tentu saja tidak bermaksud menafikan isu penting lain yang dinilai bisa memikat generasi Milenial seperti ketersediaan lapangan kerja.

Isu-isu lain seperti itu tentu saja penting, tetapi tidak cukup. Kreativitas untuk memahami karakter mereka yang beragam juga dinilai sangat urgen dan mendesak. Memang, sejak awal kedua pasangan capres dan cawapres ini sudah menargetkan kemenangan Pilpres dengan salah satunya, mendekatkan diri dengan kaum milenial sebagai pemilih yang potensial.

Pasangan 01 Jokowi-Marut misalnya mencoba mengidentifikasikan diri dengan kaum milenial, berusaha menggunakan simbol-simbol milenial, kemudian mengangkat Erick yang bisa menyasar kaum milenial. Sedangkan Prabowo-Sandi tampil dengan campaign the new Prabowo, berusaha me-rebranding untuk mendapat simpati generasi milenial. Di kubu 02 ini, Sandi sendiri dengan seluruh penampilan dan gaya hidupnya dianggap sudah mewakili generasi milenial.

Sekarang, kita menunggu Kreativitas kedua pasangan capres dan cawapres menjadi Milenial di hari Valentine. Apakah kedua-duanya cukup kreatif memahami karakter milenial dengan turut mengambil bagian memeriahkan hari Valentine's Day, atau justru sebaliknya malah dibayang-bayangi oleh Valentine's Day yang menuai pro-kontra? Atau dengan pertanyaan yang sedikit agak "nakal", Sejauh mana keduanya tampil milenial dan meyakinkan semua orang bahwa Valentine's Day itu baik adanya dan tidak perlu diributkan.

Mungkinkah Sandi, yang katanya doyan dengan film Dilan itu, akan membuktikan pengakuannya sebagai milenial dengan turut berbagi kado kepada kepada siapapun termasuk kepada lawan politiknya. Atau jika itu terlampau jauh, akankah Sandi membuat vlog khusus yang berisi ucapan selamat hari Valentine kepada seluruh masyarakat yang merayakannya secara khusus kepada milenial Penggemarnya. Mungkin saja selama ini Sandi telah memberi banyak, tetapi dengan memberi di hari Valentine ia mengidentifikasikan diri dengan kebiasaan milenial pada umumnya.

Demikian halnya dengan Maruf Amin. Dengan latar belakang keilmuannya sebagai pakar ekonomi sya’irah, sejauhmana ia menangkap peluang menggerakkan kegiatan ekonomi berbasis online yang menyasar generasi milenial? Akankan pula di hari Valentine, selain mengucapkan seuntai kata kasih kepada pihak yang merayakannya, ia juga menyatakan komitmen dengan mendukung dan menfasilitasi penuh kegiatan-kegiatan milenial yang juga mengandalkan dan berbasis teknologi (e-commerce) termasuk Valentine?

Akhirnya saya mau mengatakan, tulisan ini sama tidak berpretensi mereduksi makna Valentine dengan menjadikannya sebagai komoditas politik. Tulisannya ini sebaliknya hanya mau menguji sejauh mana sensitivitas kedua kubu berhadapan dengan dengan isu faktual seputar kehidupan milenial.

Ingat karakter pemilih milenial itu beragam. Selain kritis dan kreatif mereka juga emosional. Selain ingin dispulai dengan visi-misi dan kampanye berbasis data,mereka juga membutuhkan sentuhan dan uluran tangan pemimpin yang menyasar sisi emosional mereka.

Selamat hari Valentine, selamat berbagi kasih sayang.

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Opini

Koalisi Solid Vs Koalisi Ruwet

Rabu, 08 Agustus 2018
Opini

Membedah Kekuatan Adidaya Ulama

Kamis, 09 Agustus 2018

Komentar