Cabut Laporan, Istri Ismaya: Suami Saya Tidak Melakukan Penganiayaan

Rabu, 06 Februari 2019 | 15:28 WIB
Share Tweet Share

(Kiri ke kanan) Advokat Togar Situmorang bersama I Ketut Putra Ismaya Jaya dan Yuyun Yulianti. [foto: indonesiakoran.com/ san edison]

[DENPASAR, INDONESIAKORAN.COM] I Ketut Putra Ismaya Jaya alias KERIS dilaporkan ke Polresta Denpasar, Rabu (30/1/2019) lalu. Ismaya dilaporkan istrinya sendiri, Yuyun Yulianti, 32, dengan tuduhan terlibat kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di rumah mereka Jalan Seroja, Perumahan Nuansa Seroja Gang Belimbing Nomor 3 Denpasar.

Menariknya, laporan ini justru dilakukan setelah Ismaya bebas dari penjara tanggal 20 Januari lalu. Saat itu, Ismaya dipenjara karena kasus penurunan baliho. Sementara kini, calon anggota DPD RI Dapil Bali itu dilaporkan istrinya sendiri karena dugaan kasus KDRT yang dilatarbelakangi masalah sepele, yakni salah paham karena bakso.

Menariknya selang sehari setelah melaporkan sang suami, Yuyun Yulianti justru mencabut kembali laporannya di Polresta Denpasar. Kondisi ini menimbulkan banyak pertanyaan dari publik.

Agar tak kembali menjadi 'bola liar', Yuyun Yulianti didampingi suaminya Ismaya serta kuasa hukum Togar Situmorang, SH, MH, MAP, memberikan keterangan pers di Denpasar, Selasa (5/2/2019) malam.

Menurut Yuyun, ia sudah mencabut laporannya di Polresta Denpasar. Ia melakukan hal tersebut, bukan karena intimidasi dari pihak manapun.

"Saya sudah cabut laporan saya di Polresta Denpasar. Saya harap pihak kepolisian menindaklanjuti hal ini sekaligus menghentikan kasus tersebut," tutur Yuyun.

Ia menjelaskan, dirinya telah melakukan kesalahan dengan melaporkan suaminya sendiri ke polisi. Apalagi faktanya, sang suami ternyata tidak pernah melakukan penganiayaan sebagaimana laporan yang dilayangkannya ke Polresta Denpasar.

Selain itu, ia mengaku dalam keadaan tidak sadar seperti kalap, saat melaporkan suami tercinta ke polisi. Yuyun menyebut seperti ada kekuatan lain yang merasukinya saat kejadian yang berujung pelaporan ke polisi tersebut.

"Saya melaporkan suami saya di luar kesadaran saya. Saya akhirnya histeris sendiri setelah sadar bahwa saya telah melaporkan suami saya ke polisi. Apalagi beberapa saksi dan om kandung saya mengatakan bahwa suami saya tidak menganiaya saya," kata Yuyun.

Ia menambahkan, kejadian pada waktu itu begitu cepat. Suaminya sesungguhnya tidak pernah melakukan penganiayaan, hingga menyebabkan luka robek di mata kanannya.

"Mata saya terluka karena kena kuku atau cincin saya sendiri. Sama sekali tidak ada pemukulan ataupun penganiayaan berat oleh suami kepada saya, sebagaimana isu yang beredar di luar," ucapnya.

"Kalau suami saya melakukan penganiayaan, misalnya memukul, minimal saya terkapar dan muka saya lenam. Tetapi kenyataannya, saat melapor ke Polresta Denpasar, saya sendiri yang menyetir mobil," imbuh Yuyun.

Soal dirinya diduga depresi sehingga sempat histeris di Polresta Denpasar akibat penganiayaan tersebut, Yuyun menepisnya. Yang justru terjadi, kata dia, dirinya histeris bahkan mengancam akan bunuh diri jika suaminya malah dipenjara karena ulahnya.

"Saya kaget, stres, depresi, saat saya tahu bahwa saya melaporkan suami. Kok bisa seperti ini? Kok suami saya malah saya laporkan. Entah ada apa di dalam pikiran saya waktu itu," tandas Yuyun.

Ia bahkan mengaku tambah depresi, saat pihak kepolisian di Polresta Denpasar tidak segera menindaklanjuti pencabutan laporannya dan mengatakan laporan itu tidak bisa dicabut sehingga ada kemungkinan kasus ini berlanjut.

"Saya tambah depresi, saat tahu katanya laporan saya tidak bisa dicabut. Saya trauma dan sakit, karena saya merasa bersalah laporkan suami, bukan karena dianiaya. Saya teriak sampai mau bunuh diri, jika laporan tidak bisa dicabut. Padahal saya dan suami baru ketemu sejak dia ke luar dari penjara," ujarnya.

Yuyun pun merasa sangat berdosa atas kesalahannya, melaporkan sang suami. Ia bingung memikirkan nasibnya dan anak-anak yang dalam kondisi sakit, apabila sang suami kembali dijebloskan ke penjara.

Karena itu, atas dasar pertimbangan kemanusiaan dan demi keutuhan rumah tangganya, Yuyun berharap pihak Polresta Denpasar benar-benar menghentikan kasus ini. Ia meminta pihak kepolisian tidak menambah beban keluarganya dengan melanjutkan kasus ini.

"Mohon kepolisian hentikan kasus ini. Tolong tidak diperpanjang lagi. Jangan sampai keluarga saya hancur karena suami ditahan. Saya ingin keluarga kami bahagia dan tidak ada persoalan lagi," pungkas Yuyun.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar