Jeritan Para Mahasiswa Doktor, Mengetuk Hati Presiden Jokowi

Minggu, 03 Februari 2019 | 00:30 WIB
Share Tweet Share

Istimewa

Oleh: Maksimus Ramses Lalongkoe
(Dosen Universitas Mercu Buana Jakarta dan Direktur Eksekutif Lembaga Analisis Politik Indonesia)

Pertama-tama saya ingin katakan, tulisan bernafas ringan ini tak mewakili isi hati rekan-rekan dan sahabat-sahabatku para mahasiswa program doktoral di seluruh Indonesia khususnya yang saat ini sedang berjuang mendapatkan keadilan dari pemerintah. Untuk itu, bila ada kata dan kalimat yang kurang tepat ijinkan saya menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya.

Perjuangan memang butuh pengorbanan. Pengorbanan pikiran, tenaga, energi, waktu, bahkan pula materi demi mendapatkan sesuatu yang diperjuangkan. Namun kadang, apa yang diperjuangkan belum tentu yang didapat dan apa yang didapat belum tentu yang diperjuangkan. Tapi, setiap perjuangan selalu memiliki konsekuensi, sebagai bagian yang tak terpisahkan dari suatu nafas perjuangan.

Tentunya saya sulit melukiskan dan menguraikan secara detail untuk menggambarkan bagaimana upaya perjuangan sahabat-sahabatku para mahasiswa program doktor di seluruh Indonesia yang saat ini sedang berjuang keras sekuat tenaga ingin mendapatkan kepastian keadilan dari pemerintah, khususnya kebijakan Presiden Joko Wododo (Jokowi), melalui Kementerian Keuangan dan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, dalam mengatasi terbengkelainya biaya pendidikan bagi para mahasiswa doktor yang sedang menempuh pendidikan di berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia.

Perjuangan para mahasiswa doktor yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Doktor Seluruh Indonesia (AMDI) ini sudah memasuki tahun kedua atau sejak berjuang dari tahun 2018 lalu hingga memasuki tahun 2019 ini. Namun, ironinya, pemerintah seolah menutup mata dan tak mendengar sedikipun tangisan dan jeritan hati para mahasiswa doktor yang hanya ingin mendapatkan keadilan.

Berbagai aksi unjuk rasa, baik dilakukan di Istana Presiden, Kantor Kementerian Keuangan, Kantor Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, hingga menyampaikan pengaduan ke wakil rakyat di Senayan, namun hingga saat ini tak membuahkan hasil. Jeritan dan tangisan meraka bagai sedang meraung di tengah hutan belantara yang nun jauh dari hilir mudik manusia.

Mereka adalah para pendidik alias dosen yang mengabdi untuk mencerdaskan warga bangsa. Tuntutan mereka tak banyak dan tak pula berlebihan. Mereka hanya ingin pemerintah segara membantu biaya pendidikan para mahasiswa doktor, sebab sebagian diantara mereka harus cuti karena kehabisan biaya. Selain itu mereka hanya meminta pemerintah kembali membuka beasiswa on going dan sejumlah jalur program beasiswa lainnya untuk meringankan biaya pendidikan bagi para mahasiswa program doktor.

Kebijakan pemerintah yang menutup jalur Beasiswa Studi Dosen Dalam Negeri (BSDDN) dan Beasiswa Pendidikan Pascasarjana Dalam Negeri (BPPDN), sangat disayangkan di tengah tingginya animo para dosen yang ingin melanjutkan program doktor.

Pemerintah sebaiknya tak boleh menutup mata apalagi mengabaikan isak tangis perjuangan para mahasiswa doktor ini. Sebab salah satu penunjang kemajuan bangsa ini melalui dunia pendidikan, dan pemerintah seharusnya bersyukur dan berterima kasih, karena masih banyak anak bangsa yang merelakan waktunya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Jangan pernah menganggap perjuangan para mahasiswa doktor ini hanyalah kepentingan personal. Mereka berjuang untuk masa depan bangsa dan kepentingan anak cucu ke depannya, sebab pendidikan merupakan investasi jangka panjang dan investasi yang tak ternilai harganya.

Presiden Jokowi sebagai kepala negara perlu mengambil sikap dan segara mengakomodir tuntutan para mahasiswa program doktoral ini, apalagi mereka sedang menjalani perkuliahan di berbagai Universitas di Indonesia. Semangat para dosen yang melanjutkan pendidikan doktor harus diapresiasi dan didukung penuh, sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mempercepat pendidikan berkwalitas di Indonesia.

Sahabat-sahabatku para mahasiswa doktor, selama kita terus berjuang dan bertahan dalam perjuangan kita maka kita bisa mendapatkan apapun dari perjuangan itu. Teruslah berjuang sembari menebarkan senyum dalam kesulitan sehingga dapat mengumpulkan kekuatan dari kesusahan, sebab jauh lebih baik kita berjuang daripada diam di tempat tanpa harapan. Dan semoga Tuan Presiden Jokowi membukakan hatinya demi masa depan warga bangsanya. ***Semoga***

Editor: Fadli


Berita Terkait

KOLUMNIS

Belajar Dari Manusia Tanpa Agama

Selasa, 27 Juni 2017

Komentar