Selamat Kembali Ahok Sang Pemimpin “Bajingan”

Kamis, 24 Januari 2019 | 00:06 WIB
Share Tweet Share

Ramses Lalongkoe, Pengamat Politik Nasional saat berjumpa Ahok (foto: istimewa)

Oleh: Maksimus Ramses Lalongkoe (Penulis Buku Ahok)

[INDONESIAKORAN.COM] Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (BPT) atau yang dikenal oleh publik Indonesia Ahok, resmi menghirup udara bebas 24 Januari 2019, setalah ia menjalani penuh masa hukuman selama dua tahun di Penjara Mako Brimob, Depok. Mantan Bupati Belitung Timur ini dihukum karena melakukan penodaan agama terkait pernyataan surat Al-Maidah 51 saat berkunjung ke Pulau Pramuka Kepulauan Seribu.

Sebagai warga negara yang taat hukum, Ahok menerima putusan Hakim tanpa mengajukan banding. Tentu, bagi keluarga kala itu dan bagi publik Indonesia khususnya para pendukung Ahok yang dikenal dengan sebutan Ahokers, putusan pidana tersebut menyedihkan dan sekaligus duka yang sangat mendalam, sebab, di mata pendukung, Ahok adalah sosok dan tokoh yang dikagumi dengan gaya kepemimpinannya yang khas dan unik.

Kesedihan, isak tangis hingga tak menyantap makanan dilakukan para pencintanya ketika ia digiring ke rumah tahanan untuk menjalani masa tahanan. Ia begitu dicintai, dikagumi dan disanjung masyarakat hingga di pelosok-pelosok negeri ini, meski mereka tak pernah bertatap mata. Ia bagai magnet yang memiliki daya pikat dihati rakyat. Tentu semua itu terjadi karena rasa cinta terhadap Ahok, sebab ia dihukum bukan karena ia merampok uang rakyat. Namun, sejarah itu sudah berlalu dan itulah masa lalu Ahok yang hanya dikenang dan menjadi pelajaran berharga dalam ziarah kehidupannya. Kini, Ahok kembali ke masyarakat dan menjadi masyarakat seperti masyarakat pada umumnya.

Ahok sangat fenomenal. Ia dikenal luas dengan gaya bicara yang blak-blakan dan spontan. Tak hanya itu, ia juga menggunakan gaya kepemimpinan yang cepat dan tak bertele-tele. Kehadirannya membawa kita ke dunia kepemimpinan yang sesungguhnya. Dunia yang bermimpi akan lahirnya seorang pemimpin yang bersih, tegas, dan berintegritas di tengah makin banyaknya kepala daerah tersangkut kasus karena marampok uang rakyat.

Ahok memang tegas dan bahkan bertutur keras, ibarat seorang nahkoda saat kapalnya berada dalam badai dan mengancam keselamatan, maka tak mungkin berbicara lembut dengan anak buahnya, tapi Ia harus tegas. Ahokpun demikian, ia sosok pemimpin masa kini yang memiliki jiwa pemberani, tanpa perduli resiko dan konsekuaensi yang akan menimpanya. Sebab pemimpin baginya, merupakan panggilan hidup yang berusaha membawa cahaya terang di tengah lorong gelap nan sunyi. Tak salah, bila Ahok pernah berucap di Mata Najwah, “Untung saya mati sekarang, orang akan mengenang saya sebagai pahlawan, dari pada saya mati nanti di hari tua, orang sudah melupakan saya”.

Selama menjabat sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta, Ahok berani dan mengerahkan seluruh energinya untuk membersihkan birokrasi pemerintahan DKI Jakarta yang sejak ditinggal Ali Sadikin, berubah menjadi tembok birokrasi yang kokoh. Bila Ahok masih kuat di hati rakyat, itu karena setiap zaman akan lahir pemimpin yang disukai zaman itu. Sebab pemimpin tak harus diwariskan, namun tumbuh dari masyarakat.

Ahok hanyalah manusia biasa dan tentu sama seperti kita-kita ini. Namun prosesi dan ziara hidup Ahok khususnya dalam konteks kepemimpinan memiliki warna baru, unik, dan khas.

Tak salah bila tahun 2016 lalu saya menulis buku tentang Ahok berjudul [Ahok, Sang Pemimpin “Bajingan”], untuk menggambarkan model kepemimpinan Ahok yang khas dan unik itu. Selamat datang Ahok, jalanmu masih panjang di belantika politik tanah air dan masa depanmu masih terang untuk menerangi ruang gelap di negeri ini.

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Opini

Untuk NTT, Jangan Asal Pilih Pemimpin

Jumat, 05 Mei 2017
Opini

Lilin Keutuhan NKRI

Senin, 22 Mei 2017
Opini

Perjamuan Politik

Kamis, 31 Agustus 2017

Komentar