Guru Harus Menjadi Bidan yang Profetis dan Profesional Era Milenial

Senin, 12 November 2018 | 12:34 WIB
Share Tweet Share

P. Darmin Mbula OFM, Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)

Oleh P. Darmin Mbula OFM, Ketua Presidium Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)

Saudara-saudara sebangsa setanah air yang terdidik, terkasih, dan terhormat. Proses pendidikan di sekolah yang berkualitas dan unggul harus menjunjung tinggi harkat martabat manusia, kesucian hidup, dan kesalehan sosial demi kebaikan bersama. Sekolah-sekolah mendampingi dan membentuk peserta didik untuk memahami konsep-konsep ilmu pengetahuan secara benar dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan pilihan nilai-nilai Pancasila melalui proses refleksi yang mendalam. Dengan demikian, peserta didik kelak mampu melakukan kegiatan-kegiatan atau aksi-aksi bermutu dan beraklak dengan menghadapi dan memecahkan kompleksitas hidup sehari-hari secara kreatif dan inovatif agar hidup ini semakin lebih baik, bermartabat, berkeadaban, berkeadilan sosial dan damai sejahtera.

Maka, guru-guru harus membiasakan diri untuk belajar terus dengan rajin. Giat dan tekun membaca buku-buku fiksi dan non fiksi untuk memperkaya diri dan tidak puas diri dengan hanya menenteng buku-buku teks, buku-buku mata pelajaran, sehingga semakin mumpuni untuk mendampingi anak-anak atau peserta didik era milenial yang akan menjadi pelaku/agen perdamaian, keadilan dan keutuhan ciptaan. Guru-guru tidak bisa tidak harus melatih dan membiasakan diri untuk membuat refleksi atas pengalaman langsung atau tidak langsung dalam proses pembelajaran agar proses pembelajaran ramah secara moral.

Di sinilah guru-guru memiliki peran reflektif kritis dan profetis dalam membaca tanda-tanda zaman, antara lain: gejala-gejala global nasional lokal (glonakal) seperti suhu bumi yang semakin panas dan cuaca ekstrem serta kerusakan hutan yang semakin massif, sistemik dan struktural. Selain itu, mampu secara kritis dan profetis membaca gejala-gejala sosial yang muncul akibat menumpuknya kekayaan pada segelitir orang supermega kaya, adanya revolusi teknologi informasi dan komputasi yang perlahan-lahan tapi pasti menggeser peran manusia dan seluruh identitas promordial kulturalnya dengan teknologi robotik artificial intelligence, adanya disrupsi dalam segala bidang kehidupan, serta munculnya gladiator dan predator baru dalam kehidupan ekonomi, sosial dan budaya.

Berhadapan dengan fenomena ini, sekolah-sekolah harus berjuang dan berupaya secara konsisten dengan berkomitmen untuk melahirkan para pemimpin milenial yang memiliki hati nurani, empati, bermurah hati, berbelas kasih, peduli dan memiliki keluhuran sebagai pemimpin transformatif dan transendental demi kebaikan bersama. Guru-guru tetaplah menjadi agen-agen kenabian profetis untuk mengisi ruang akal, mental dan batin para peserta didik di ruang-ruang kelas agar mampu merefleksikan, menganalisis dan mengambil aksi-aksi serta solusi yang substantif inklusif terhadap fenomena-fenomena masa kini.

Juga guru-guru mampu mensintesakan iman dan kehidupan, iman dan kebudayaan, sebagai strategi kebudayaan untuk merawat dan melestarikan karakter pluralisme, multikultural, ketajaman hati nurani, kebeningan akal budi, kelurusan dan kecerahan nalar, serta keluhuran dan kemartabatan manusia dalam relasinya dengan dirinya sendiri, sesama, alam, dan Sang Pencipta berdasarkan nilai nilai Pancasila demi Indonesia Raya yang maju, adil dan makmur. Betapa tidak profesi guru sebagai bidan di ruang-ruang kelas untuk memuluskan lahirnya generasi milineal yang transformatif, transendetal, dan berakhkak tetap sangat besar peran dan tuntutannya. Maka dari itu, guru-guru dituntut untuk senantiasa memperkaya diri agar menjadi bidan yang ahli, lihai dan ilahi sebagai bidan yang profesional era milenilal.

Editor: Aurelia A.

Tag:

Berita Terkait

KOLUMNIS

Menjadi Politisi, Harusnya Belajar pada Tjokro

Sabtu, 10 Juni 2017
KOLUMNIS

Guru Adalah Pembentuk Akal dan Karakter Bangsa

Sabtu, 25 November 2017

Komentar