Togel (Judi) Karunia Iman?

Senin, 10 September 2018 | 12:53 WIB
Share Tweet Share

Judi kupon putih.

Oleh Yon Lesek

Orang Jakarta sudah biasa dengan istilah ini. Di tempat lain orang sering menyebutnya kupon putih. Ini adalah sebuah jenis judi dengan memenangkan tebakan angka dengan nilai uang yang menggiurkan. Bagaimanapun jenis dan bentuknya serta tawaran uang yang mempesona sesaat, permainan yang satu ini tetaplah suatu bentuk perjudian.*

Tentu ini sangat bertentangan dengan iman dan ajaran moral semua agama. Karena itulah, para ulama, rohaniwan/ti dengan berbagai cara dan kesempatan menasihati umatnya untuk tidak melakukan perjudian togel ini. Pemerintah Indonesia zaman SBY dan JK pun tak ketinggalan memberantas Togel.

Dilema

Suatu kesempatan dalam kunjungan pastoral ke umat basis-lingkungan, seorang Pastor mengangkat kasus ini dalam katekesenya di hadapan sejumlah umat. Dia mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak datang tanpa suatu perjuangan dan kerja keras yang nyata. Kebangkitan bagaimanapun hal itu mungkin terjadi hanya kalau didahului oleh kematian dan sakratulmaut. Benih hanya bisa tumbuh menjadi besar hanya jika ia mati terkubur dan melukai dirinya guna mencuatkan tunas baru kehidupan. Kekristenan tidak mengajarkan umatnya untuk bermental enak dan mendapat rezeki dengan tidur dan bermimpi.

Nasihat Pastor ini sungguh menyayat sebagian besar umat yang mendengarkannya saat itu; sebab kebanyakan dari mereka adalah maniak Togel atau kupon putih. Mereka merasa pengajaran Pastor ini ditujukan kepada mereka.

Maka, dalam sesi dialog, seorang Bapak berdiri dan memberikan tanggapan demikian:

“Pastor, saya ingin mensharingkan pengalaman nyata saya. Suatu hari saya sangat membutuhkan uang untuk membiayai sekolah anak sulung saya pada saat-saat terakhir kuliahnya di Jakarta. Saat itu saya betul-betul tidak punya duit sepeser pun. Maklumlah Pastor, panen kala itu gagal total. Aku kehilangan daya guna memenuhi kebutuhan uang kuliah anakku. Dengan iman yang tersisa, kupasrahkan semuanya itu kepada Tuhan dalam doa-doaku setiap malam sebelum tidur dan menjelang pagi sebelum bekerja. Saya betul-betul percaya akan wasiat Tuhan Yesus kepada para murid-Nya pada saat-saat terakhir menjelang penderitaan dan kematian-Nya: ‘Aku pergi kepada Bapa; dan apa saja yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya’ (Yohanes 14: 13-14).”

Pastor dan umat yang hadir lainnya termangu dalam haru akan pengalaman dan iman si Bapak ini, sambil terus menantikan akhir kisah selanjutnya. Setelah mendaraskan teks tersebut, ia melanjutkan ceritanya.

“Setelah berdoa, aku tidur malam itu. Besok paginya aku terjaga dan menyadari bahwa semalam aku bermimpi bertemu seorang nenek yang menunjukkan sehelai kertas kepadaku bertuliskan angka ‘3840’. Spontan aku langsung menghubungkannya dengan angka togel. Istriku mendukungku tatkala mendengar ceritaku. “Barangkali inilah cara Tuhan mengabulkan doa kita selama ini,” ujarnya lirih. Sepuluh kupon pun kami beli dan mengisinya dengan angka yang sama. Dan sungguh mencengangkan, angka yang kudapatkan dalam mimpi itu ternyata angka togel hari itu. Aku pun mendapatkan uang yang sangat besar jumlahnya, bahkan melebihi kebutuhan uang sekolah anakku. Persoalan saya pun teratasi, bahwa anak saya bisa menyelesaikan studinya dan aku pun dapat menyambung hidup sebulan dengan uang hasil togel ini. Lebih dari itu, bagiku, Tuhan sungguh adil dan mendengarkan doa hambanya yang hina ini.”

Sang Bapak itu kemudian melanjutkan, “Bapa Pastor, menurut Bapa apakah ini salah dan bertentangan dengan iman dan moral agama? Bukankah ini adalah rahmat dan berkat Tuhan? Terima kasih.”

Kisah katekese ini sukup sampai di sini. Bagaimana jawaban Pastor saat itu… ya…. Entahlah. Barangkali tidak terlalu penting. Yang paling penting sekarang adalah bagaimana pendapat Anda sendiri??

Pesan moral

Di hadapan kita terpampang sejuta realitas. Ada yang hitam ada yang putih. Ada yang cerah bersinar ada yang kabur dan suram. Ada yang tampak di mata kita, ada yang tidak terlihat. Ada yang baik dan ada yang buruk. Hidup kita bagaikan sedang berada di pusaran arus keduanya. Keteguhan hati Anda dan kemantapan pilihan hati nurani menjadi penentu keputusan Anda.

Bahwa sesuatu yang baik itu tidak hanya tergantung dari manfaatnya yang baik bagiku (pandangan utilitarianisme), atau itu baik karena berguna dan praktis (pragmatisme), tetapi karena keseluruhannya baik bagiku. Dan itulah yang terbaik.

Kita dipanggil untuk ‘menjadi sempurna sama seperti Bapa sempurna adanya’ (Matius 5:48). Baik dalam cara, baik dalam tujuannya dan baik pula perbuatan yang dilakukan untuk mencapainya. Di sini ada tiga hal yang menentukan kebaikan moral dalam pilihan kita: pertama, perbuatan itu sendiri baik adanya; kedua, sircumstance/situasi yang melingkupi perbuatan itu juga baik; dan ketiga, tujuan yang hendak dicapai pun baik dan luhur. Jika salah satu kriteria ini ‘tidak baik’ maka perbuatan itu dikatakan ‘sedikit buruknya’.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, judi=permainan dengan memakai uang sebagai taruhannya. Berjudi=mempertaruhkan sejumlah uang atau harta dalam permainan tebakan berdasarkan kebetulan, dengan tujuan mendapatkan sejumlah uang atau harta yang lebih besar dengan jumlah uang atau harta semula.

Editor: Elnoy


Berita Terkait

KOLUMNIS

Berimanlah Pakai FAITH

Sabtu, 03 Juni 2017
KOLUMNIS

Mengatasi Perasaan Kecewa

Selasa, 03 Oktober 2017

Komentar