NTT Mesti "Naik Kelas" (Surat Terbuka untuk VBL - YNS)

Kamis, 06 September 2018 | 10:16 WIB
Share Tweet Share

Sil Joni. [foto: istimewa]

Oleh:
Sil Joni*

Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL)-Yosef Nae Soi (YNS), yang saya hormati!

Selamat berbahagia, sebab hari ini (5 September 2018, red) Anda berdua secara resmi “dilantik” menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) periode 2018-2023. Tentu, keluarga dan Anda berdua “berhak” merayakan momen istimewa itu. Betapa tidak, perjuangan dan mimpi anda untuk “mengantar NTT” ke luar dari “padang gurun keterpurukan” sudah menemukan momentumnya. Palu dan tongkat kepemimpinan, sudah digenggam.

NTT, sebenarnya sebuah negeri “Kanaan” yang menjanjikan. Provinsi kepulauan ini dianugerahi sumber daya alam, susu dan madu yang berlimpah. Namun, entah mengapa Pak Gubernur dan Wagub, negeri kita tak pernah “ke luar dari lingkaran” prahara isu minor seperti kemiskinan, pengangguran, gizi buruk, perdagangan manusia (human trafficking), mutu pendidikan yang rendah, korupsi, dan lain-lain. Sebuah situasi yang sangat paradoksal dan menyimpan seribu satu “misteri”.

Alhasil, NTT seakan mendapat “stigma permanen” sebagai provinsi “terbelakang”. Dari gubernur ke gubernur, NTT tetap miskin dan bodoh!

VBL-YNS yang saya banggakan!

Publik NTT sangat berharap pada Anda berdua. Kami tahu bahwa Anda berdua memiliki motivasi yang luhur, ketika tampil sebagai salah satu kontestan dalam Pemilihan Gubernur yang sudah digelar. Apalagi, kabarnya Bapak VBL seorang “pengusaha sukses”. Itu berarti, bapak sudah “selesai”dengan urusan perut. Saya kira, dalam arti tertentu, kondisi yang sama juga terjadi pada Bapak Wagub. Saya sangat yakin bahwa Anda “tidak mau mencuri uang publik” lewat manipulasi anggaran dan eksekusi program yang diambil dari APBD Provinsi.

Anda tahu, bahwa salah satu ‘penyakit kronis’ yang mendera tubuh politik NTT adalah adat koruptif yang mendera mayoritas pejabat publik di daerah ini. Berbagai skema proyek kesejahteraan publik tak berjalan optimal, tersebab oleh “skandal koruptif” yang diperagakan secara vulagar oleh sebagian elit lokal. “Saku” para pejabat publik tak imun dari ‘uang haram’ yang dijarah secara sistematis.

Karena itu, Bapak VBL-YNS yang berbahagia, langkah pertama yang harus Anda terapkan adalah ‘reformasi birokrasi’ yang bersih dari kultur korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Transparansi dan akuntabilitas anggaran dan pelayanan publik, menjadi sebuah urgensitas yang tidak boleh kompromistis dalam tahap implementasinya. Saya yakin, Anda punya kapasitas yang istimewa untuk “mengerjakan” tugas transformatif tersebut.

Bapak VBL-YNS yang saya muliakan!

Saya “kurungkan” sebagian rasa bangga dan apresiasi saya atas peristiwa politik (pelantikan) hari ini. Mengapa? Perjalanan Anda masih panjang. Setumpuk tugas politik sudah “melekat” di pundak Anda. Menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur, hanya sebagai sarana untuk “menenuaikan” berbagai tanggung jawab mulia tersebut.

Oleh sebab itu, Gubernur dan Wagub sedapat mungkin tidak dimaknai sebagai kata benda yang pasif, tetapi sebagai “kata kerja” yang berciri aktif dan progresif. Jabatan politik tidak boleh dilihat sebagai “tujuan final dan fungsional” untuk menumpuk harta dan mengejar prestise yang dangkal dan ilusif.

Perbaikan "nasib publik” menjadi suara etis-profetis untuk “memanifestasikan” talenta dan modal politik yang sudah diasah selama Anda berada dalam struktur dan kultur lembaga demokrasi di level nasional. Saya kira, yang perlu dijaga adalah soal komitmen dan keberpihakan kepada “pemenuhan kebutuhan vital” masyarakat.

Bahwa Bapak VBL mempunyai jaringan politik yang luas di pusat dan sudah cukup “makan garam” dalam gelanggang politik, tentu layak diapresiasi. Tetapi, narasi besar perihal reputasi dan debut politik yang fantastis tersebut akan tak bermakna jika NTT, selama Anda “berkuasa”, belum berubah rupa, biasa-biasa saja, berjalan di tempat dan tidak beranjak ke kelas yang lebih tinggi.

Indikator keberhasilan dan tentu saja kebanggaan kami adalah ketika Anda mampu mengubah wajah daerah ini menjadi salah satu provinsi yang disegani di kawasan Timur Indonesia.

Bapak VBL-YNS yang budiman!

Anda menjadi Gubernur dan Wagub untuk publik par exellece (semata-mata). Anda tidak dilantik untuk menjadi Gubernur dan Wagub dari “tim sukses, parpol koalisi, keluarga, dan kaum kapitalis (baca: kontraktor, investor)".

Mengapa? Bukan hanya karena yang memilih Anda adalah semua warga NTT, tetapi juga karena hakikat kekuasaan yang diperuntukkan melayani “kebaikan bersama” (bonum commune).

Untuk itu, hilangkan dalam pikiran Anda, bahwa “kami mesti membayar” budi baik dari mereka yang telah berjasa mengantar Anda ke kursi kekuasaan dengan membagi-bagi secara murah dan gratis proyek atau jabatan. Terlalu besar risiko negatifnya jika “metode klasik” ini Anda kredit secara serampangan. Nasib NTT bakal lebih tragis dan mengenaskan lagi.

Bapak berdua mesti cerdas dalam mengeksekusi kebijakan, agar tidak “tersandera” oleh kepentingan pragmatis partai koalisi dan politisi hipokrit yang “mencari muka” saat musim kontestasi yang lalu. Anda sudah menjadi “figure publik NTT”, bukan paket Gubernur-Wagub dari partai atau golongan tertentu.

Bapak VBL-YNS yang saya hormati!

Last but not least, kami sangat mengharapkan agar Bapak VBL-YNS tidak jatuh dalam “kubangan dosa politik” dari pemimpin sebelumnya. Yang saya maksudkan adalah realitas “pembagian atau pengangkatan” jabatan politik yang mengidap penyakit warisan kolonial berupa dikotomi (oposisi biner) yang membelah wajah politik NTT atas entitas primordial, Flores vs Timor, Katolik vs Protestan.

Saya berharap agar prinsip atau azas kompetensi, kapasitas, kapabilitas dan skill (merit system) diterapkan secara konsisten. Jangan menempatkan pejabat yang tidak sesuai dengan basik keilmuannya. Hal itu tentu berpengaruh pada kualitas kinerja dan ethos pelayanan publik kita.

Ahirnya, saya ingin “menitip nasib Pantai Pede, Pulau Rinca dan Pulau Padar” yang sudah dan sedang “digadai” kepada investor kepada Bapak berdua. Harapannya, agar Bapak bisa mengembalikan “hak pengelolaan beberapa asset vital” itu kepada Pemda yang diperuntukkan sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat Manggarai Barat.

Profisiat dan selamat bertugas. Tuhan memberkati. Teriring salam dan doaku.

*Staf Pengajar di SMK Stella Maris Labuan Bajo

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar