Polres Manggarai Segera Tetapkan RA Jadi Tersangka  

Kamis, 30 Agustus 2018 | 08:30 WIB
Share Tweet Share

Edi Hardum, penulis dan Advokat tinggal di Jakarta.

Oleh Edi Hardum,
praktisi hukum di Jakarta, anggota Presidiun Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA)

 
Kasus persekusi atas Melkior Merseden Sehamu alias Eki (27 tahun), yang diduga dilakukan oleh Rensi Ambang (RA) bersama anggota keluarganya merupakan kasus yang tidak hanya merugikan korban dan keluarganya tetapi merusak rasa kemanusiaan masyarakat terutama masyarakat Manggarai. Kenapa? 

Pertama, chatting messenger facebook antara Eki dan istri RA belum tentu perbuatan pidana bahkan menurut saya bukan merupakan perbuatan tindak pidana (asusila) tetapi RA dan keluarganya langsung berkesimpulan itu perbuatan pidana, maka mereka mempersekusi Eki ramai-ramai.

Kedua, menurut Eki chatting antara dirinya dengan istri RA bukan merupakan perbuatan yang salah (pidana), karena itu guyon. Namun, Eki tidak ego. Ia tidak merasa benar sendiri. Benar menurut dirinya, belum tentu bagi RA dan keluarganya. Oleh karena itu,  sebagai orang Manggarai ia mendatangi rumah RA untuk meminta maaf. Ia membawa tuak (bir) dan rokok. Namun, niat baik dan kesadaran adat ini disambut dengan penyaniayaan ramai-ramai.

Ketiga, kasus persekusian ini divideokan dan disiarkan di media sosial oleh RA dan keluarganya. Dari sini disimpulkan, pertama, RA dan keluarganya tidak menghargai adat Manggarai. Kedua, RA dan keluarganya tidak menghargai hukum. RA dan keluarganya main hakim sendiri.  Sudah demikian mereka bangga pula dengan tindakan main hakim sendiri dengan menyiarkan video perbuatan tidak terpuji mereka (persekusi) di media sosial.

Karena itulah, sejak video persekusi tersebut mulai viral Sabtu (25/8), saya melalui akun FB saya dan sejumlah mediaonline meminta Polres Manggarai segera menangkap RA dan keluarganya atas perbuatan mereka itu tanpa menunggu laporan dari korban. Namun, sayang sampai Rabu (29/8), pihak Polres Manggarai belum juga menangkap RA dan keluarganya.
Padahal, Kapolri Jenderal Tito Karnavian sendiri sudah menegaskan, kasus persekusi bukanlah delik aduan. Sebenarnya, Kapolri tanpa mengatakan seperti ini pun undang-undang telah mengaturnya bahwa kasus yang masuk dalam delik umum termasuk persekusi seperti yang dialami Eki tanpa ada aduan, Polri segera bertindak.

Pada Senin (27/8) Eki (27 tahun) melaporkan kasus persekusian atas dirinya itu ke Polres Manggarai di Ruteng. Ia didampingi kuasa hukumnya Yance Janggat, SH dan Hironimus Ardi, SH dari Kantor Law Office Lawir Ruteng. Merespons laporan ini, pihak RA sudah menyatakan akan melapor balik Eki atas dugaan tindak pidana Eki melakukan chatting dengan istrinya. Namun, sampai Rabu (29/8) RA dan keluarganya belum juga melaporkan Eki.
 
Konyol!
 
Pada Minggu (26/8) malam, sebagaimana ditulis MarjinNews.com, RA menghadap Mapolres Manggarai untuk mengklarifikasi kasusnya dengan Eki. "Tadi malam saya sudah menghadap pihak kepolisian, kedatangan saya itu untuk mengklarifikasi terkait polemik saya denga Eki. Seperti yang terdapat di video itu," kata RA.

Ada beberapa hal penting yang disampaikan RA setelah ia bertemu pihak Polres Manggarai. Pertama, RA mengatakan bahwa masalahnya dengan Eki sudah selesai melalui Eki meminta maaf sesaat setelah Eki dianiaya ramai-ramai dan divideokan. Bahkan RA mengatakan, sebagaimana dikutip MarjinNews.com, bahwa Eki melaporkan dirinya dan keluarganya ke Polres adalah perbuatan konyol.

Menurut saya, yang konyol adalah saudara RA dan keluarganya! Bukan Eki! Eki melakukan permintaan maaf sesaat seusai dipersekusi tidak sah secara hukum. Ini kasus pidana yang dijerat Pasal 351 KUHP yang ancamannya lima tahun bui, berusaha diselesaikan perdata.

Secara hukum tidak salah, walau banyak praktik penyelesaikan perdata tidak menghalangi proses pidana untuk diteruskan ke proses penyidikan sampai ke pengadilan.
Pasal 320 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) mengatakan, sebuah persetujuan atau perjanjian sah apabila (1) kesepakatan dari kedua pihak atau mereka yang terlibat dalam perjanjian, (2) kecakapan untuk membuat suatu perikatan atau perjanjian, (3) suatu pokok persoalan tertentu, dan (4) causa yang halal atau tidak bertentangan dengan uu atau hukum.
Pasal 321 KUH Perdata menyatakan bahwa suatu perikatan atau perjanjian yang dilakukan karena adanya kekhilafan atau ada pihak yang berada di bawah tekanan, maka perjanjian itu tidak sah atau batal demi hukum.

Perjanjian RA dan keluarga dengan Eki dilakukan telah memenuhi unsur Pasal 1320 KUH Perdata, namun tidak memenuhi syarat sebagaimana diatur dalam Pasal 1321 KUH Perdata. Sebab, Eki melakukan perdamaian dengan RA dan keluarga karena fisik dan mentalnya berada di bawah tekanan.
Karena itu, Eki melaporkan RA dan keluarganya ke Polres Manggarai di Ruteng, Senin (27/8) tidak berlebihan! Tidak konyol!

Kedua, menurut RA, Eki menutupi asal usul. "Saudara Eki itu telah menutupi asal usulnya. Pada hal, ia aslinya dari Nangka, Bari, Macang Pacar. Bukan dari Nampar Macing. Dan yang paling menjengkelkannya lagi, ia itu adiknya Vinsen Pata. Yang pernah menjadi Pemeran Raja di album saya yaitu Rueng" terang Rensi Ambang.

Rensi Ambang mengakui, demikian dikutip MarjinNews.com, bahwa kalau Eki menjelaskan bahwa ia (Eki) itu dari Nangka, Bari, Macang Pacar, Perdamaian secara adat dan ada hubungan dengan Vinsen Pata, tindakan kekerasan itu tidak mungkin akan terjadi.

Dari pernyataan ini disimpulkan, RA berbohong kepada publik bahwa ia dan keluarga melakukan persekusi terhadap Eki karena khilaf. RA dan keluarga sudah rencana dengan baik mempersekusi Eki.

Saya juga sudah menanyakan Eki. Eki menjelaskan, bapaknya berasal dari Nampar Macing (Kempo). Mereka tinggal di Nangka, Bari, Macang Pacar, di kampung ibunya. “Kami asli Kempo, hanya tinggal di anak rona,” kata Eki.

Eki juga membantah ada hubungan darah sama Vinsen Pata, mantan anggota DPRD NTT. “Kami hanya satu kampung dengan Pak Vinsen, tidak ada hubungan darah,” kata Eki.

Saya juga mengontak salah satu kuasa hukum Eki, Hironimus Ari SH. Menurut Hironimus, silahkan RA berpendapat bahwa Eki melaporkannya (RA) ke polisi merupakan perbuatan konyol. “Perlu dia tahu pemeriksaan kasus ini tengah berlangsung, dan pihak korban tidak mungkin mundur lagi. RA dan keluarga silahkan mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum,” tegas Hironimus.

Eki sendiri menegaskan, ia dan keluarga sudah serius agar kasus ini sampai ke pengadilan. “Saya dan keluarga besar sakit hati dengan perbuatan RA dan keluarga,” kata Eki.

Kita semua tentu sangat berharap agar Polres Manggarai serius dan profesional mengusut kasus persekusi ini. Bila perlu Polres Manggarai segera menetapkan RA dan keluarganya sebagai tersangka dan langsung ditahan. Hampir semua warganet menginginkan agar RA dan yang terlibat persekusian itu segera ditahan.
Kalau penyidikan kasus ini tidak tuntas maka akan menjadi preseden buruk ke depan. Bukan tidak mungkin banyak masyarakat Indonesia terutama Manggarai akan melakukan persekusi seperti yang dilakukan RA dan keluarga.

Semua orang Manggarai tahu dan perlu menghargai adat Manggarai. Namun, ingat tidak semua kasus diselesaikan secara adat.
Perdamaian secara adat boleh tapi, pertama, harus dilakukan secara jujur dan iklas dari kedua belak pihak. Tanpa ada tekanan fisik dan psikis!

Kedua, perdamaian secara adat tentu tidak menghentikan penyelidikan dan penyidikan serta pelimpahkan kasus persekusi ke pengadilan, tetapi hanya untuk meringankan hukuman. Mari, serva ordinem et ordo servabit te! [Peliharalah peraturan (hukum), agar peraturan (hukum) memelihara Anda/kita!].*
 

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar