RA dan Keluarga Sebaiknya Tidak Ancam Masyarakat

Senin, 27 Agustus 2018 | 09:28 WIB
Share Tweet Share

Rensi Ambang, saat memberikan pernyataan permintaan maaf melalui video yang diupload dalam facebook

Sore tadi (26/8/18/), beredar lagi video saudara Rensi Ambang (RA) seputar kasusnya dengan saudara Eki. Isi video, RA dan keluarga mengaku bersalah atas tindakan persekusi atas Eki. RA dan keluarga meminta maaf. Tapi tak secara eksplisit disebutkan meminta maaf kepada siapa ?

Dalam video ini, RA juga menyampaikan bahwa ia dan keluarga sudah menyelesaikan masalah secara kekeluargaan dengan Eki. RA dan keluarga menerima permohonan maaf dari Eki. RA dan keluarga mengaku melakukan perbuatan tidak terpuji atas Eki karena kemarahan yang tak bisa ditahan.

Dalam video ini juga RA meminta masyarakat atau warganet agar setop memprovokasi dan menyebarkan videonya yang berisi persekusi atas Eki.

Atas video minta maaf ini saya perlu memberi komentar. Sebelum saya memberi komentar, perlu saya tegaskan bahwa saya, Edi Hardum, tidak ada masalah dengan RA dan keluarga. Saya malah hampir setiap hari menikmati lagu-lagu RA kalau habis menyelesaikan sebuah pekerjaan di kantor.

Pertama, permintaan maaf RA dan keluarga belum bisa diterima warganet karena masalah dengan Eki belum selesai. Bagi RA dan keluarga, masalah sudah selesai tetapi bagi Eki belum. Eki masih akan segera menindaklanjuti kasus ini. Ingat, Eki “terpaksa” menyelesaikan masalah itu dengan RA dan keluarga beberapa hari lalu di Ruteng karena Eki berada dalam tekanan, baik fisik maupun psikis/mental. Ia dipukul dan dimaki-maki dulu. Lain hal kalau begitu Eki datang membawa tuak dan rokok ke rumah RA dan Eki meminta maaf, RA dan keluarganya langsung menerima tanpa persekusi, ya itu namannya masalah selesai.

Ini kasus pidana yang dijerat Pasal 351 KUHP yang ancamannya lima tahun bui, berusaha diselesaikan perdata. Secara hukum tidak salah, walau banyak praktik penyelesaikan perdata tidak menghasili proses pidana berhenti.

Pasal 320 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHPerdata) mengatakan, sebuah persetujuan atau perjanjian sah apabila (1) kesepakatan dari kedua pihak atau mereka yang terlibat dalam perjanjian, (2) kecakapan untuk membuat suatu perikatan atau perjanjian, (3) suatu pokok persoalan tertentu, dan (4) causa yang halal atau tidak bertentangan dengan uu atau hukum.

Pasal 321 KUHPerdata menyatakan bahwa suatu perikatan atau perjanjian yang dilakukan karena adanya kekhilafan atau ada pihak yang berada di bawah tekanan.

Perjanjian RA dan keluarga dengan Eki dilakukan telah memenuhi unsur Pasal 1320 KUHPerdata, namun tidak memenuhi syarat sebagaimana diatur dalam Pasal 1321 KUHPerdata. Sebab, Eki melakukan perdamaian dengan RA dan keluarga karena fisik dan mentalnya berada di bawah tekanan. Ia barusan dipersekusi sampai mulutnya terluka.

Oleh karena itu, saya sebagai warganet belum bisa menerima permintaan maaaf RA dan keluarganya. Kalau Eki sudah iklas menerima dalam arti tanpa berada dalam tekanan, saya pun ikut menerima.

Kedua, mengenai permintaan dan ancaman RA agar video persekusi setop disebar luas. Kalau disebar luas maka akan ada akibat hukum. Lha, RA sendiri yang menyebarluaskan kok, melarang warganet. Apalagi video itu berisi yang melukai rasa kemanusiaan, wajarlah kalau warganet perbincangkan. Perbincangkan kekejaman tanpa menonton videonya sama dengan gosip. Ingat, RA mengatakan, masalah dengan Eki sudah selesai, namun ketika Eki dalam perjalanan dari Ruteng ke Labuan Bajo, pasca persekusi dan “perdamaian” versi RA, RA menyebarkan aksi persekusi itu di media sosial. Akibat Eki belum sampai rumahnya di Labuan Bajo, ia ditelepon keluarga dan teman-temannya bahwa ia barusan dipersekusi. Ada apa ? Ini kekejaman yang lain kepada Eki.

Imbauan saya, RA dan keluarga tidak perlu mengancam masyarakat dan warganet. RA dan keluarga selesaikan masalah dengan Eki dengan baik. Kalau sudah diselesaikan dengan baik, selanjutnya meminta maaf kepada masyarakat serta memohon dengan sangat agar setop berkomentar, maka masyarakat maklum dan menerima. Jangan memohon tapi bernada memerintah apalagi mengancam, ya saya pikir RA dan keluarga berlebihan.

Ingat, saya memberikan pendapat hukum ini tidak sedang mengadili siapa-siapa atau memprovokasi siapa-siapa, tetapi saya ingin kebenaran ditegakkan. Saya siap membela siapa saja yang tertindas.

Penulis: Edi Hardum, SH, MH, advokat Peradi di Jakarta [WA: 082154612469]

Editor: Aurelia A.


Berita Terkait

Opini

Lilin Keutuhan NKRI

Senin, 22 Mei 2017
Opini

Aneh, Ahok Tak Banding Dibilang Jiwa Besar

Selasa, 23 Mei 2017
Opini

Krisis Negarawan

Rabu, 24 Mei 2017

Komentar