Di Balik Hastag #2019 Ganti Presiden

Senin, 30 Juli 2018 | 13:53 WIB
Share Tweet Share

Hastag #2019 Ganti Presiden [Ilustrasi]

“Seorang penguasa yang ingin tetap berkuasa dan memperkuat kekuasaannya haruslah menggunakan tipu muslihat, licik dan dusta, digabung dengan penggunaan kekejaman penggunaan kekuatan”. (Machiavelli)

Suasana sosial-politik jelang Pilpres 2019 kian memanas. Diprediksi Pilpres 2019 bakal seru dan kita berharap tak jadi kisruh. Sengaja diciptakan dua kubu saja sehingga polarisasinya menajam setajam polarisasi putaran kedua Pilgub DKI Jakarta setahun silam.

Kenapa mesti bawa-bawa Pilgub DKI Jakarta, move on dong! Tetapi, ada pelajaran berharga di sana lebih dari sekadar soal move on!

Kita semua tahu apa yang terjadi jelang putaran kedua Pilgub DKI Jakarta yang kemudian memperlihatkan hasil perhitungan suara yang berjarak signifikan hingga selisih kurang lebih18 persen suara. Paslon Anis-Sandi unggul dari Paslon Petahana Ahok-Djarot yang unggul sekitar 2 persen suara pada putaran pertama.

Kita semua tahu apa yang terjadi kala itu, ayat dan manyat jadi barang murahan yang diperjualbelikan dan sungguh amat laris di pasaran Pilgub DKI Jakarta silam. Ayat-ayat Kitab Suci dikumandangkan di rumah-rumah ibadat untuk tidak memilih pemimpin kafir, bahkan melarang mensholatkan jenazah para pendukungnya.

Najis. Itu kata banyak pihak yang taat beragama dan tenggang rasa di dalam kebhinekaan NKRI. Tetapi sebuah prestasi gemilang yang harus disoraki diikuti sujud syukur bersama mengafirmasi ALLAH berpihak pada mereka, anut kubu sebelah. Anis-Sandi pun kini menjadi Gubernur DKI yang tak terbantahkan mewakili amanah 58 persen warga DKI Jakarta yang memilihnya.

Bukan karena kita tidak enggan move on dari rasa Pilgub DKI Jakarta setahun silam itu, tetapi rasa-rasanya rasa dan pola Pilpres 2019 bakal semirip rasa Pilgub DKI, hanya ruang lingkupnya saja yang meluas secara Nasional.

Postulat pemenangan politiknya kurang lebih sama. Diyakini bahwa siapa yang bisa mengambil hati nurani umat Islam Indonesia, dia dipastikan keluar sebagai pemenang. Sebab, Indonesia delapan puluhan lebih penduduknya adalah umat Islam. Hati nurani umat tidak jauh dari iman dan keyakinannya sebagai umat beriman. Sebuah trik jitu dan taktik maut memanipulasi iman dan keyakinan seseorang agar memengaruhi hati nuraninya untuk membuat keputusan siapa yang akan dicoblos pada pilpres 2019 nanti, menjadi langkah taktis merebut kekuasaan walau harus menipu.

Hastag#2019gantipresiden yang sudah sejak dini didengungkan itu tidak lari jauh dari logika pemenangan di atas. Bisa dibilang Hastag #2019gantipresiden merupakan slogan pergerakan yang 'ngeri-ngeri sedap', yang bakal ditopang oleh ayat dan mayat kelak. Hastag itu tidak bergerak sendiri tanpa pengawal. Di baliknya ada banyak pasukan (mungkin namanya bukan lagi 212) yang senantiasa dengan sengaja meng-downgrading Jokowi dan pemerintahannya hingga terkesan layak 2019 ganti presiden.

Lihat saja berbagai usaha para pasukan pengawal Hastag #2019gantipresiden, memanipulasi dan mengoptimalisasi dampak negatif dari kesalahan dan ketidaktelitian sekecil apa pun yang terjadi selama Jokowi memimpin. Bahkan soal kecelakaan tol dibesar-besarkan, isu utang luar negeri yang membengkak diboomingkan terus hingga menimbulkan kekhawatiran massal, ditambah isu pribadi Jokowi Cina, Jokowi PKI, Jokowi antek asing, Jokowi menzolimi ulama, Jokowi bukan muslim taat, dan seterusnya sampai kasus kematian karena kelaparan di Ambon di-zoom terus untuk dijadikan potret kegagalan Jokowi dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Lantas hal ini merasuki hati dan menyentuh nurani umat Muslim hingga membuat keputusan membenarkan Hastag #2019gantipresiden. Ya, tidak ada jalan lain untuk keluar dari masalah-masalah yang ada selain ganti presiden sebagai solusi, itu targetnya.

Hastag#2019gantipresiden Sangat Machiavellian

Mempengaruhi orang yang paling berpengaruh. Ini sebuah rahasia yang ditemukan Machiavelli untuk merebut kekuasaan dan melanggengkannya dengan memisahkan antara kekuasaan politik dan etika/moral. Bahkan agama hanyalah instrumen kekuasaan semata. Menurut Machiavelli politik dan moral adalah dua bidang yang tidak memiliki hubungan sama sekali, yang diperhitungkan hanyalah kesuksesan sehingga tidak ada perhatian pada moral di dalam urusan politik. Baginya hanya satu kaidah etika politik: yang baik adalah apa saja yang memperkuat kekuasaan raja.

Machiavelli mengatakan bahwa untuk suksesnya seseorang, kalau memang diperlukan, maka gejala seperti penipuan dibenarkan. Misalnya, ia mengakui bahwa agama mendidik manusia menjadi patuh, dan oleh sebab kepatuhan ini perlu untuk suksesnya seorang yang berkuasa, maka perlulah agama tadi. Jadi agama itu diperlukan sebagai alat kepatuhan, bukan karena nilai-nilai yang dikandung agama itu.

Banyak negarawan dan penguasa dunia yang secara sembunyi atau terus terang mengakui telah menjadikan buku Machiavelli itu sebagai hand book (buku pegangan) mereka dalam memperoleh dan mempertahankan kekuasaannya. Misalnya Hitler dan Mussolini. Dan bukan tidak mungkin, entah terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, para pencetus dan pengawal Hastag #2019gantipresiden terinspirasi oleh ide-ide Machiavelli. Banyak kesamaan dalam realitas di balik pergerakan hastag ini, maka saya pun dengan pasti menegaskan: Hastag #2019gantipresiden sangat machiavelli an dengan mempengaruhi umat Islam sebagai yang paling berpengaruh saat ini di Indonesia dalam kontestasi pilpres.

Rupanya gagasan Machiavelli menemukan tempatnya dalam hati dan pemikiran orang Indonesia, yang terwakili dalam adagium ini: Nila setitik, susu sebelanga ditumpahkan."

Ini bukan sekadar adagium klasik warisan leluhur. Tetapi ini adalah filosofi rakyat Indonesia. Mudah melupakan sembilan puluh sembilan persen kebaikan dan kemajuan yang telah ditorehkan Jokowi, tetapi semuanya sirna karena kegagalan dan keburukan kecil yang timbul dan dibesar-besarkan.

Pencetus Hastag#2019gantipresiden dengan jeli memanfaatkan kerentanan filosofi ini dan para pasukan akan makin cerdas dan gencar memainkannya sebagai senjata pamungkas pemenang pilpres 2019. Siapa pun dia, tidak penting disoroti, yang pasti salah satu kutub lawan Jokowi akan keluar sebagai pemenangnya setelah Jokowi dihabisi dengan black Champaign yang simultan, konstan, dan terus-menerus.

Maka, mau tidak mau, jika kita menghendaki Jokowi tetap presiden untuk periode keduanya, Hastag#2019gantipresiden harus segera digembosi. Sikap diam bukan pilihan strategis lagi. Sikap defensif pun rasanya tidak kuat menangkisnya. Sebab, ini soal mempengaruhi hati nurani kaum beriman yang paling berpengaruh, dalam hal ini mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam.

Lantas, Apa yang Harus Dilakukan?

Diam bukan lagi emas dalam turbulensi politik ala machiavelli ini. Juga kita tidak boleh membiarkan turbulensi makin meluas dan dahsyat. Maka tidak ada cara lain selain menabraknya agar pertahanannya porak poranda. Pola Machiavelli hanya bisa digembosi oleh pola yang sama kuatnya, yakni pola Machiavelli yang sama.

Apakah itu berarti pemerintahan Jokowi pun harus mengabaikan moral dan etika demi merebut dan melanggengkan kekuasaan? Ya, sejauh untuk mengeluarkan racun di dalam tubuh, jantung sekalipun harus tega dibiarkan dibelah, asalkan tujuannya untuk sembuh. Tidak ada pertimbangan moral dan etika jika berhadapan dengan pihak yang mengabaikan moral dan etika. Yang ada hanya prinsip minus malum: mengambil langkah buruk yang keburukannya lebih baik dari yang ada, karena dibungkus tujuan yang baik.

Rahasia ini pun disampaikan machiavelli dalam Teori kekuasaan negara yang dikemukakannya dalam bukunya II principle dalam bab 19 bahwa, “Penguasa, yaitu pimpinan negara haruslah mempunyai sifat-sifat seperti kancil dan singa. Ia harus menjadi kancil untuk mencari lubang jaring dan menjadi singa untuk mengejutkan serigala.”

Maka, sebagai akhir kata, tiada solusi lain untuk membentur turbulensi selain membenturkannya dengan kekuatan yang minimal sama besar. Di sini Jokowi dan pemerintah saat ini harus menjadi kancil dan singa.#jokowiharustega

Penulis

Yon Lesek

Editor: Aurelia A.


Berita Terkait

Opini

Lilin Keutuhan NKRI

Senin, 22 Mei 2017
Opini

Doktrinasi Orba vs Ketakutan Massa

Selasa, 19 September 2017

Komentar