Pemimpin Lugu Membungkus Bangkai di Kali Item

Senin, 23 Juli 2018 | 20:06 WIB
Share Tweet Share

Suasana kali item

Aroma busuk 'kali item' di sekitar wisma atlit Kemayoran Jakarta telah memantik pikiran picik sekaligus liar, mulai dari Pemprov DKI Jakarta yang berwewenang hingga penjual gorengan di pinggir jalan. Banyak ikut membicarakannya.

Mana mungkin Anda bisa membungkus bangkai agar menghilangkan aromanya. Bangkai tetaplah busuk sekalipun dibungkus selaput tak berpori, apalagi sekadar selembar kain jaring hitam. Kebijakan yang lugu, kata bang Oneng, lucu-lucu dungu.

Begitulah kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu kalau bangkai itu tetap busuk walau dibungkus selaput emas. Lebih Oneng lagi kalau sampai dengan sengaja melakukannya hanya sekadar polesan wajah bopeng.

Ke mana saja selama ini? Apa yang sudah baik dimulai di awal oleh si korban ayat dan manyat, kerjaanmu, seakan geli dilanjutkan oleh retorika sang pemimpi sejagat. Setelah matahari terbit baru kau bangun dari tidur, lalu sadar aroma 'kali item' tak terbendung lagi. Kain hitam pun jadi tambal, limbah rumah sekitar kali jadi tumbal, lantas bingung sendiri aroma busuk tak hilang juga.

Pemimpin atau pemimpi yang lugu, benar-benar lugu gak sih atau seperti kata bang Oneng pemimpin lucu-lucu dungu. Entahlah. Pemimpin yang pemimpi tak mau sadar walau jelas di alam nyata tidak bisa kerja apa-apa dengan mengandalkan retorika dari mulut berbusa-busa.

Ah ... Malu jadinya punya pemimpin lugu seperti ini, lucu-lucu dungu kayak kisah kodok di negeri dongeng yang menyeberang sungai dengan menggunakan tai kerbau yang kering. Gagah sesaat saat di awal, tak sadar air menggerus dikit demi dikit hingga tak tersisa dan tenggelam sebelum sampai ke seberang. Pemimpin lugu kita ini pantas diumpamakan seperti katak yang menyeberang sungai dengan tai kerbau kering itu.

'Kali item' jadi cerita lugu tentang pemimpin lucu-lucu dungu sejagat. Apa jadinya kalau hujan sejam menghujam diikuti banjir deras dan kejam menyeret kain hitam di atas 'kali item'? Lugu, lucu-lucu dungu, akhirnya kita tertawa sendiri kalau bangkai tetaplah busuk walau dibungkus rapih dan elok, akan terkuak juga bopeng di balik topeng yang oke-oce.

Lugu, lucu-lucu dungu membaca dunia nyata sang pemimpi sejagat hingga muak juga meneruskan goresan geli ini. Kita akhiri saja dengan menyimak pesan orang bijak yang kujadikan pesan akhir untuk kita. Mungkin ini lebih bermakna sebelum jaring hitam itu terkoyak dan bau amis makin kuat terkuak.

"Hidup itu mimpi bagi mereka yang bijak, permainan bagi yang bodoh, komedi bagi yang kaya, dan tragedi bagi si miskin." Kata Sholem Aleichem, Penulis Yahudi dari Rusia (ns. dari Solomon Naumovich Rabinovich)1859-1916.

Editor: Aurelia A.

Tag:

Berita Terkait

Opini

Lilin Keutuhan NKRI

Senin, 22 Mei 2017
Opini

Doktrinasi Orba vs Ketakutan Massa

Selasa, 19 September 2017

Komentar