260 Sungai di Bali Alami Kekeringan

Senin, 09 Juli 2018 | 15:14 WIB
Share Tweet Share

Anggota Fraksi Panca Bayu DPRD Provinsi Bali, Nyoman Tirtawan (kiri), saat membacakan Pandangan Umum Fraksi Panca Bayu dalam Rapat Paripurna DPRD Provinsi Bali, di Denpasar, Senin (9/7/2018). [foto: humas dprd bali]

[DENPASAR] Sebanyak 260 dari total 400 sungai di Bali, mengalami kekeringan selama satu dekade terakhir. Kondisi ini mendapat catatan khusus dari Fraksi Panca Bayu DPRD Provinsi Bali.

"Kami minta penjelasan gubernur Bali, terkait masalah kekeringan di Bali ini," kata anggota Fraksi Panca Bayu DPRD Provinsi Bali, Nyoman Tirtawan, saat membacakan Pandangan Umum Fraksi Panca Bayu DPRD Provinsi Bali Terhadap Ranperda Tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Provinsi Bali Tahun Anggaran 2017, dalam Rapat Paripurna DPRD Provinsi Bali, di Denpasar, Senin (9/7/2018).

Menurut Tirtawan, Bali saat ini mengalami kekeringan. Penyebab utamanya adalah alih fungsi lahan pertanian menjadi villa dan hotel.

"Hampir 65 persen serapan air tanah di Bali dimanfaatkan untuk 'bisnis turisme', yang digunakan dalam pembangunan villa dan hotel," ujar politikus Partai NasDem asal Buleleng itu.

Dikatakan, selama satu dekade terakhir, 260 dari 400 sungai di Bali mengalami kekeringan. Praktis, kondisi ini membuat pasokan air tanah menurun hingga 60 persen.

"Saat ini, sumber air terbesar di Bali adalah Danau Buyan. Namun, danau ini pun telah menurun hingga 3,5 meter. Kami minta gubernur Bali menyikapi serius permasalahan ini," tandas Tirtawan, yang juga anggota Komisi I DPRD Provinsi Bali.

Fraksi Panca Bayu, lanjut Tirtawan, memandang perlu dilakukan upaya yang intensif dari organisasi perangkat daerah (OPD) terkait mengenai persoalan kekeringan hingga kekurangan air ke depan.

"Bali ini dibebani target menarik 7 juta wisatawan mancanegara pada tahun 2018 ini. Jelas potensi 'krisis air' sangat tinggi dan akan terus berlangsung, kecuali pemerintah memperbaiki keadaan saat ini," ujarnya.

Dalam jangka pendek, demikian Tirtawan, krisis air ini mungkin bukan menjadi masalah serius di Pulau Dewata.

"Tetapi untuk jangka panjang, ini bisa menjadi masalah besar, karena tingkat permukaan air semakin menurun," pungkas Tirtawan.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Nusantara

RSUP Sanglah Diusulkan Dikelola Pemprov Bali

Rabu, 31 Mei 2017
Nusantara

Tanggul Jebol di Jembrana Sudah Diperbaiki

Senin, 05 Juni 2017
Nusantara

Mendagri: Bali Harus Jadi Inspirasi Daerah Lain

Sabtu, 10 Juni 2017

Komentar