Memilih Pemimpin NTT Non Kapitalis

Rabu, 30 Mei 2018 | 13:47 WIB
Share Tweet Share

Plasidus Asis Deornay, SH, Praktisi Hukum dan Advokat

Oleh Plasidus Asis Deornay, SH. Pengacara Muda asal NTT,  tinggal di Jakarta.

Beberapa hari lagi rakyat NTT memilih dan memiliki Gubernur yang baru. Dari keempat kandidat yang ada,  rasanya kita semua sepakat hanya satu yang akan dilantik. Ya, sudah pasti dong. Tak perlu dibahas. Tetapi,  yang belum pasti adalah siapakah orangnya? 

Ada banyak pilihan dan kriteria. Kali ini saya mengajak pemilih NTT untuk membidik calon yang tepat,  apakah dia seorang Pemimpin-kapitalis atau seorang pemimpin-pelayan?

Kapitalisme memiliki sejarah yang panjang, yaitu sejak ditemukannya sistem perniagaan yang dilakukan oleh pihak swasta. Di Eropa, hal ini dikenal dengan sebutan guild sebagai cikal bakal kapitalisme.

Saat ini, kapitalisme tidak hanya dipandang sebagai suatu pandangan hidup yang menginginkan keuntungan belaka. Kapitalisme telah menjadi sebuah sistem ekonomi di mana perdagangan, industri dan alat-alat produksi dikendalikan oleh pemilik swasta dengan tujuan memperoleh keuntungan dalam ekonomi pasar. Pemilik modal dalam melakukan usahanya berusaha untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Buruh,  kekayaan alam dan sistem pemerintahan dijadikan instrumen untuk mewujudkan keuntungan yang besar dengan usaha yang kecil di mana laju pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh mekanisme pasar.

Mengupas tema kapitalisme ini saya sadari sungguh bukan hal yang sederhana,  apalagi jika harus dikaitkan dengan salah satu pencetus sekaligus pengkritiknya, Karl Marx.  Tetapi paling tidak wajah kapitalisme bisa digambarkan sebagai wajah penuh keserakahan,  eksploitatif, alienatif, dan tidak adil. Betapa mengerikan jika wajah ini dimiliki seorang pemimpin. Seorang pemimpin kapitalis untuk NTT yang berada di urutan ketiga  provinsi termiskin di Indonesia.

Saya tidak bisa membayangkan seburuk apa nasib NTT kelak jika pemimpinnya memiliki ideologi kapitalis atau bahkan sekadar berorientasi kapitalis dengan membiarkan investor swasta menguasai produksi dan perekonomian NTT. Bukan tidak mungkin NTT dieksploitasi demi keuntungan yang besar bagi sekelompok elite dan pengusaha tertentu. 

Memang dipermukaan akan terlihat fenomena kemajuan yang fisikly dan materialistis bawaannya,  dengan berdirinya perusahaan-perusahaan besar di beberapa tempat,  kepemilikan aset yang luas dan bahjan mewah, dan peredaran uang yang cepat. Tetapi,  betapa wajah ketamakan dan keserakahan serta alienasi akan menguak di dalam diri rakyat NTT yang dijadikan sarana produksi.

Rasanya,  NTT tidak membutuhkan pemimpin yang kapitalis.  Yang pas adalah pemimpin-pelayan. Penyelenggara negara atau pemimpin pelayan tersebut sejatinya rajin memeriksa denyut nadi masyarakat yang “mempekerjakannya” sebagai pemimpin, dan di ujungnya pemimpin harus memberi bentuk (gestaltung) kepada rasa keadilan dan cita-cita rakyat. Agar rakyat dapat digerakkan, harus tidak ada perbedaan yang berarti antara cita-cita rakyat dengan cita-cita para pemimpin.

Pemimpin dan rakyatnya dalam artian ini manunggal satu sama lain,  dan terhubung secara integral jiwa dan badannya,  senasib sepenanggungan dengan rakyatnya,  dan membangun kesejahteraan yang adil dan merata berdasarkan kebutuhan rakyat yang dipimpinnya,  bukan hanya berdasarkan pertimbangan pertumbuhan ekonomi pasar dan proses produksi.

Prof. Soepomo pernah memperkenalkan istilah negara integralistik, yang intinya mestinya tidak akan ada perbedaan pandangan  antara negara (pemerintah penyelenggara negara) dengan rakyat, karena penyelenggara negara itu atas nama rakyat. Karenanya, pemerintah mestinya seorang pemimpin yang sejati adalah sosok yang mampu menjadi penunjuk ke arah cita-cita bersama yang adil. Dengan demikian ada keseimbangan antara makrokosmos dan mikrokosmos, serta ada kemanunggalan antara “kawulo” dan “gusti”.

Inilah pemimpin yang diharapkan memimpin NTT ke depan. Kita semua tentu mau agar NTT  bangkit dan sejahtera,  tetapi jangan lupa bahwa kebijakan dan sistem pemerintahan hendaknya berpihak pada rakyat dan melestarikan local genius dan religiositas.  Bukan eksploitatif yang menimbulkan alienasi,  di mana rakyat NTT sendiri kemudian menjadi asing di negerinya sendiri karena potensi SDM dan SDA-nya disedot dalam pusaran ekonomi kapitalis dan terpelintir dalam "sirmuli" mekanisme pasar.

Waktunya hampir tiba. Rakyat NTT harus menentukan nasipnya sendiri dengan memilih pemimpinnya.  Jangan sampai salah pilih.  Timbang bibit,  bebet,  dan bobotnya untuk NTT yang sejahtera dan bahagia.

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar