PERCA Bedah Kerumitan Warisan dan Surat Wasiat Kawin Beda Negara

Minggu, 15 April 2018 | 00:10 WIB
Share Tweet Share

(Searah jarum jam) Notaris Elizabeth Karina Leonita, SH, MKn, dan Dewan Pengawas PERCA Indonesia Pusat Rulita Anggraini bersama anggota PERCA Indonesia yang mengikuti Diskusi dan Konsultasi Tentang Warisan dan Surat Wasiat untuk Keluarga Perkawinan Campuran, di Swiss-Belhotel Rainforest, Jalan Sunset Road 101 Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu (14/4/2018). [foto: indonesiakoran.com/ san edison]

[DENPASAR] Perkawinan beda negara, ternyata tak semudah yang dibayangkan. Banyak hal yang mesti dipahami, misalnya soal persyaratan, pencatatan maupun Perjanjian Perkawinan.

Belum lagi terkait kewarganegaraan dan keimigrasian (visa, izin tinggal), ketenagakerjaan, kepemilikan tanah dan bangunan (status kepemilikan properti), maupun soal administrasi kependudukan.

Dari pengalaman, salah satu soal yang sedikit rumit dalam perkawinan campuran ini adalah soal warisan dan surat wasiat. Aturannya sangat spesifik dan rumit, terutama karena terkait perbedaan kewarganegaraan dan acuan hukum yang akan digunakan.

Guna mengurangi benang kusut hal ihwal warisan dan surat wasiat pernikahan beda negara ini, Masyarakat Perkawinan Campuran (PERCA) Indonesia menggelar "Diskusi dan Konsultasi Tentang Warisan dan Surat Wasiat untuk Keluarga Perkawinan Campuran", di Swiss-Belhotel Rainforest, Jalan Sunset Road 101 Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu (14/4/2018).

Untuk membedah hal ini, acara yang dihadiri anggota PERCA Indonesia Provinsi Bali tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Dewan Pengawas PERCA Indonesia Pusat Rulita Anggraini dan Notaris Elizabeth Karina Leonita, SH, MKn.

Rulita Anggraini menjelaskan, diskusi dan konsultasi ini bertujuan untuk menambah wawasan keluarga yang kawin beda negara.

"Sangat penting bagi anggota PERCA memahami aturan warisan dan surat wasiat," jelas Rulita Anggraini.

Masalah-masalah yang sering muncul berkaitan dengan warisan dan surat wasiat dalam perkawinan campuran, antara lain siapa yang berhak atas warisan, proses administrasi yang rumit akibat beda kewarganegaraan, menyelesaikan sengketa warisan jika terjadi perceraian, proses warisan bagi keturunan di bawah umur dan persoalan lainnya.

"Ada juga beberapa kasus perkawinan kedua, dalam arti kedua belah pihak yang beda warga negara sebelumnya pernah menikah dan sama-sama punya keturunan," paparnya.

Karena itu, sosialisasi peraturan perundang-undangan yang mengatur pembagian warisan perkawinan campuran, mutlak diperlukan.

Untuk menanambah pengetahuan
mengenai hal tersebut, PERCA Indonesia menghadirkan Notaris Elizabeth Karina Leonita, SH, MKn.

Pada kesempatan itu, Elizabeth memaparkan secara detail soal ketentuan mengenai pewarisan berdasarkan kompilasi Hukum Islam dan Hukum Perdata di Indonesia.

Selain itu, juga dijelaskan mengenai berbagai skema pengaturan pembuatan wasiat di Indonesia.

"Jadi skema pembagian warisan itu bergantung pada kondisi rumah tangga masing-masing. Apakah sebelumnya sudah menikah dan punya keturunan, kapan aset dibeli, apakah ada perjanjian pisah harta atau tidak, dan lain-lain. Beda kondisinya, maka pola pembagiannya juga berbeda," tandas Elisabeth.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar