Biar Korup Asal Merakyat?

Rabu, 07 Maret 2018 | 15:11 WIB
Share Tweet Share

Ilustrasi

(Ano Nimus)

Merakyat. Apa artinya? Menurut saya, merakyat itu menjadi bagian dari pergumulan hidup rakyat, berkomitmen mengupayakan kemaslahatan mereka. Sifat ini diharapkan dimiliki setiap pemimpin publik. Tapi, oleh politisi atau pejabat korup, ia dibajak jadi taktik untuk menyelubungi kejahatan, plus melambungkan popularitas dan elektabilitas.

Sayangnya, publik mudah terpesona dengan sikap merakyat yang semu dari politisi atau pejabat korup. Gampang kelepak-kelepek dengan tampilan permukaan yang nyatanya menipu. Sama halnya dengan pembaca yang menakar buku dari tampilan cover.

Korupsi yang dilakukan pejabat publik jelas bertentangan dengan komitmen atau etos merakyat. Sebab, korupsi menggerus sumber daya negara yang diperlukan atau dimaksudkan untuk menciptakan kemaslahatan bagi rakyat banyak. Pendek kata, korupsi merugikan rakyat.

Korupsi yang dilakukan pejabat publik terutama mengorbankan golongan rakyat di lapisan paling bawah dari struktur piramida sosial. Mereka adalah kaum lemah dan miskin yang paling membutuhkan dukungan negara untuk hidup layak dan bermartabat. Mereka jugalah pihak yang paling dirugikan ketika terjadi penyelewengan kekayaan negara.

Karena itu, pejabat publik yang korup tak bedanya dengan maling yang merampok makanan, seperti jagung, ubi, atau beras, di rumah orang miskin. Sudah miskin, dirampok pula. Ironisnya, pelakunya adalah pengemban amanat untuk mengentas penderitaan rakyat, khususnya yang lemah dan miskin, yang biasa disebut wong cilik itu.

Korup itu sudah pasti tidak merakyat. Korup dan merakyat adalah dua kutub tak senama yang tolak-menolak. Politisi atau pejabat korup jelas bukan politisi atau pejabat yang merakyat. Justru harus dikatakan dengan tegas bahwa politisi atau pejabat korup adalah musuh rakyat.

Lantas, Anda bagaimana? Memaklumi korupsi yang dilakukan pejabat publik karena menilai pelakunya figur yang merakyat? Beranggapan bahwa korupsi tak masalah selama pelakunya merakyat? Biar korup asal merakyat? Harap tidak. Kalau ya, aduh, Tuhan, tolong!*

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar