Politik Jual Beli Serangan

Selasa, 09 Januari 2018 | 12:29 WIB
Share Tweet Share

Epifanius Solanta, penulis

Suhu politik menjelang pesta demokrasi yang bertajuk pilkada dan pilgub dalam konteks NTT (Nusa Tenggara Timur) semakin memanas. Para bakal calon ada yang sudah lama blusuk ala Presiden Jokowi ke tengah masyarakat. Tetapi ada juga yang baru mulai, dan (mungkin) masih ada yang membenamkan ambisinya baik untuk menjadi orang nomor 1 di kabupaten atau di propinsi.

Bagi saya, kegiatan blusukan dan safari politik yang dilakukan oleh para bakal calon menjelang pilkada dan pilgub merupakan realitas yang lumrah dan (harus) terjadi dalam dunia politik. Tidak jarang jual beli serangan (mungkin) saja pantas untuk disematkan dalam dunia politik. Pasalnya selama ini kita mendengar istilah jual beli serangan hanya dalam konteks pertandingan sepak bola. Tetapi kali ini saya mengajak pembaca sekalian untuk melihatnya dalam konteks kehidupan politik.

Jual Beli Serangan

Istilah jual beli serangan yang dilekatkan penulis dalam konteks politik saat ini khususnya di NTT sebenarnya lebih kepada pertarungan visi dan misi, ide atau gagasan, strategi dan gaya berpolitik yang dihadirkan oleh para bakal calon kepada masyarakat pemilih. Saat ini, seperti yang kita saksikan baik dalam dunia nyata maupun di dunia maya, sudah bermunculan foto beserta tagline dari para bakal calon.

Tidak hanya wajah manis dan senyum yang memikat hati rakyat yang ditampilkan di sana, melainkan juga tagline yang benar-benar sangat berpihak kepada rakyat. Tidak salah jika banyak yang berkomentar ini tampilan yang asli ataukah palsu. Artinya apakah penampilan seperti ini juga mencerminkan ketulusan hati dalam melayani ketika suatu saat terpilih menjadi pemimpin ataukah hanya simbol untuk mengelabuhi hati rakyat. Semua ini adalah hanya asumsi dari penulis.

Suguhan menu politik yang hadir di tengah masyarakat dalam wujud kata-kata (janji) atau pun tindakan nyata (membuat turnamen sepak bola) dan berbagai macam menu yang lain membuat masyarakat juga semakin pusing dan bingung. Pusing karena ditengah kesibukannya mengurus padi di sawah atau ternak di kandang, hadir para bakal calon untuk menebarkan janji. Pesan politik selalu saja hadir dalam setiap pertemuan. Masyarakat yang kritis dan tidak mau pusing biasanya tetap bergulat dengan rutinitasnya yang sudah pasti dan tahu akan mendapatkan keuntungan dan kepuasan secara jasmaniah.

Ambisi untuk menjadi pemimpin di daerah sendiri pada akhirnya tidak lagi peduli dengan siapakah anda. Sepanjang ini adalah kompetisi ya kita berseberangan, namun tetap berada dalam koridor kesantunan dan etika politik yang baik dan benar. Dalam satu wilayah kecamatan misalnya, bakal calon yang maju tidak hanya satu orang tetapi lebih bahkan sampai empat atau lima orang. Begitu juga dengan konteks wilayah kabupaten. Bagi saya ini sesuatu yang sangat wajar, pasalnya dalam suatu wilayah begitu banyak sosok pemimpin dengan gaya keberpihakannya masing-masing kepada rakyat.

Dalam kenyataannya, jual beli serangan politik tidak hanya terjadi dalam dunia nyata. Di dunia maya, media sosial seperti facebook dan WA juga disesaki dengan pertarungan ide dan gagasan. Beberapa istilah yang sangat akrab dengan kehidupan masyarakat serentak menghiasi dinding-dinding media sosial.

Tidak jarang saling serang pun juga dilakukan oleh para pendukung bakal calon masing-masing. Semuanya memiliki argumen untuk bisa memenangkan kandidat yang dijagokannya. Tampak foto-foto yang katanya “merakyat” ditampilkan ke media sosial dengan tagline yang (sebenarnya) hanya untuk menarik simpati rakyat.

Etika Politik dan Politik Santun

Di atas semuanya itu, di tengah ramainya jual beli serangan dalam ruang publik, kita tetap menjunjung tinggi etika politik dan mengedepankan politik santun. Kedua hal ini menjadi sesuatu yang sangat penting tatkala kita menginginkan dan merindukan situasi politik yang nyaman dan aman, menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan serta selalu memuliakan persaudaraan dalam nada solidaritas.

Jual beli serangan politik tetap dipandang sebagai realitas yang sah dalam dunia politik. Tetapi jual beli serangan tersebut harus didesain dengan cara-cara yang benar. Yang tidak menyinggung perasaan sesama. Tetap menjunjung sportivitas dalam berkompetisi. Sehingga kelak kita akan menjadi pemilih yang beretika dan juga menjadi pemimpin yang beretika. 

Penulis: Epifanius Solanta
(Alumnus Sosiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta,  Penulis Buku Dialektika Ruang Publik: Pertarungan Gagasan)

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar