PDIP Faktanya Bukan Partai Besar di NTT

Rabu, 20 Desember 2017 | 11:21 WIB
Share Tweet Share

Ilustrasi PDIP. [Istimewa]

Keliru cara pandang bahwa PDIP sebagai partai besar dalam konteks NTT. Sejak reformasi, secara nasional PDIP telah dua kali menjadi pemenang yakni pada Pemilu 1999 & 2014.

Namun dalam konteks NTT, PDIP NTT belum pernah menang. PDIP selalu kalah dari Partai Golkar serta belum pernah menempatkan kadernya sebagai Ketua DPRD NTT.

Bahkan secara umum, level PDIP sama dengan partai baru, semisal Nasdem dan Gerindra yakni sama-sama menempati posisi wakil ketua DPRD NTT.

Bahkan untuk jumlah anggota DPR RI juga sama dengan Partai Demokrat, Partai Gerindra dan Partai Nasdem.

Lalu mengada PDIP seolah-olah istimewa di NTT?

Hal itu lebih karena historis pembentukannya yang merupakan hasil fusi dari beberapa partai, di antaranya Parkindo dan Partai Katolik.

Bagi kaum tua, PDIP yang merupakan terusan dari PDI identik dengan saluran politik Katolik dan Kristen meskipun stigma itu saat ini perlahan pudar.

Sebagai pelaku politik, saya menyaksikan bahwa NTT adalah lumbung suara Partai  Golkar. Fakta ini agak kurang terasa hanya karena posisi gubernur NTT selama ini dikuasai Frans Leburaya yang juga ketua DPD PDIP NTT.

Di level kabupaten/kota, kader PDIP sebagai bupati hanya di dua kabupaten yakni  Timur Tengah Utara (TTU) yakni  Ray Fernandes dan Flores Timur (Flotim), Anton Hadjon). PDIP cuma menguasai dua kabupaten dari 22 kabupaten/kota se-NTT.

Semoga saja hiruk pikuk politik yang menimpa internal PDIP NTT jangan sampai semakin memperburuk citra dan penerimaan partai di tengah masyarakat. Dan sikap tegas Ray Fernandes yang keluar dari PDIP menjadi "warning" di tengah euforia karena magis Jokowi.

Kita tunggu saja apa yang terjadi pada Pilgub 2018 termasuk sikap Frans Leburaya terhadap pilihan politik DPP. Begitu juga totalitas kerja-kerja politik DPC PDIP di tengah kekecewaan harus menghadapi gempuran lawan-lawan politik yang ingin menggantikan hegemoni politik Leburaya.

Apapun hasilnya, tentu saja kita harapkan yang terbaik untuk NTT. Harapan terbesar kita adalah mampu melahirkan wajah baru NTT yang lebih baik, sejatera, beradab dan mampu melepaskan diri dari stigma miskin serta korup.

Semoga Tuhan dan Leluhur Merestui.

Catatan RedaksiDua hari setelah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menetapkan pasangan calon Gubernur NTT 2018,  Marianus Sae (kader PKB) dan Emilia Nomleni (Kader PDIP), timbul gejolak yang kental dan serius di internal PDIP dan para simpatisan,  sebagai reaksi penolakan atas keputusan tersebut. Tulisan ini masih dalam konteks situasi terkini politik  NTT.

Penulis

Honing Sani

Editor: Gusti


Berita Terkait

Komentar