NTT Harus Dicambuk!

Kamis, 07 Desember 2017 | 12:45 WIB
Share Tweet Share

John L Wujon, penulis.

Oleh John L Wujon

SETELAH Menteri Pendidikan membuat pernyataan merendahkan pendidikan NTT, kini giliran Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla menilai pariwisata NTT sulit berkembang. Ada yang meradang?

Sssst, please, wait a moment. Yang sabar ya...!

Jangan cepat meradang dan pergi demo segala. Protes kiri, protes kanan. Atau juga membuat surat terbuka untuk JK. Sebab, JK akan gampang mendapat pembenaran atas pernyataannya.

Seperti diberitakan kupang.tribunnews, Rabu (6/12) kemarin, JK menyebut ketiadaan jamaknya masyarakat dan hospitality atau keramahan menjadi sumber tidak berkembangnya pariwisata NTT. JK lantas membandingkan pariwisata NTT dengan Sabang di Aceh dan Bali.

"Karena Sabang penduduknya pluralistik. Biasanya daerah yang pluralistik itu penerimaan tamunya itu lebih terbuka. Susah itu Batak dan Bugis, NTT. Tiga daerah itu sangat susah majunya. Kecuali Bali, dimarahin (turis) senyum saja".

Jujur. Sesungguhnya bukan baru kali ini JK memberi penilaian kritis terhadap kondisi pariwisata NTT. Jauh sebelumnya, yakni pada peluncuran buku "Pengabdian di Tengah Prahara Korupsi, Pemikiran dan Kiprah Melkhias Markus Mekeng", Minggu (15/12/2013) lalu di Jakarta, dalam nada penuh humor yang membuat hadiran tertawa, JK sempat menceritakan bagaimana seorang pelayan hotel asal NTT yang cepat kesal dan marah-marah karena sang tamu minta diambilkan minuman satu persatu. "Kenapa tidak diambil sekalian dari awal saja", ujar JK meniru omongan pelayan NTT.

Haha...Waktu itu saya juga ikut tertawa, Pak JK.

IMG_20171207_124230Pariwisata NTT

Cambuk Sukses

Memang NTT itu harus dicambuk. Tak perlu lagi menunggu "Nanti Tuhan Tolong". Tak perlu juga merasa malu dicambuk. Toh, Tuhan saja dicambuk.

Anggap saja cambuk JK dan pak menteri itu merupakan antitesa pembuka tabir gelap pariwisata dan  pendidikan di NTT. Di saat NTT kesulitan menemukan lorong menuju pintu cahaya gemerlap pariwisata dan melabuhkan kualitas pendidikan sederajat dengan propinsi lainnya, dibutuhkan suluh dan cambuk dari orang lain.

Kekayaan dan keindahan objek wisata NTT (something to see) sudah diakui dunia. Namun, apa arti kekayaan dan keindahan alam NTT jika tidak ada sesuatu yang dikerjakan (something to do) dan dibeli (something to buy).

Ini waktunya untuk berbenah. Mari jual kerahamahan (hospitality) yang ada nun jauh di desa-desa NTT. Dan, wisatawan pun siap membeli. Welcome, tourist! This is NTT, The Last Paradise in Indonesia.

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar