BKH: Mengapa NTT Dijadikan Kambing Hitam

Rabu, 06 Desember 2017 | 13:13 WIB
Share Tweet Share

Benny K Harman, Calon Gubernur NTT 2018

Pernyataan Mendikbud Muhadjir Effendy menambah sederet stigma untuk NTT sebagai faktor menurunnya indeks mutu  pendidikan di Indonesia.  Hal itu sungguh melukai hati NTT yang peduli dan memicu aksi mendesak Jokowi memberhentikan mendikbud.

Puluhan wartawan asal NTT yang tergabung dalam Komunitas Pena NTT Bali mengutuk keras pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy atas pernyataan yang dimuat di Koran Jawa Pos tertanggal 4 Desember 2017. Dalam pernyataan resmi itu, Mendikbud menyebut pernyataan itu setelah melihat laporan Program for International Students Assesement (PISA) saat pertemuan di UNESCO November lalu.

Survei PISA menyebutkan bahwa kualitas pendidikan RI masuk ranking paling bawah. Lalu Mendikbud menyebut jika, sample dari survey itu adalah siswa-siswi asal NTT. Dalam berita itu ada kutipan langsung “Saya khawatir yang dijadikan sample Indonesia adalah siswa-siswa dari NTT semua”. Ketua Pena NTT Emanuel Dewata Oja mengatakan, kalimat langsung ini sejatinya terbentuk dari mindset seorang menteri bahwa orang dari NTT itu bodoh semua.

“Pernyataan itu telah melukai hati orang NTT, bukan hanya yang ada di NTT, tetapi melukai hati orang NTT yang ada di seluruh Indonesia dan bahkan seluruh dunia,” ujarnya di Denpasar, Selasa (5/12). 

Politisi senior NTT,  Benny K Harman juga merasakan sakitnya luka stigma tersebut. Bukan karena faktanya NTT terbelakang dari sisi pendidikan,  tetapi ada nada pelecehan di sana tat kala Mendikbud menepis hasil survey PISA tersebut dengan menjadikan NTT kambing  hitam.

"Ada banyak variabel yang menjadi dasar dan objek kajian untuk menilai kualitas pendidikan suatu negara.  Dan PISA pasti punya pendasaran tersendiri. Mengapa NTT dijadikan kambing hitam?  Mendikbud dalam hal pernyataannya itu telah mendiskreditkan orang NTT sebagai faktor penyumbang rendahnya mutu pendidikan Indonesia secara sesumbar.  Mengapa tidak mengintrospeksi diri dan kinerjanya?" ujar Benny K Harman saat dihubungi indonesiakoran.com (6/12).

Benny K Harman yang juga maju sebagai Calon Gubernur NTT dalam Pilgub NTT 2018 ini mendesak Mendikbud meminta maaf atas pernyataan yang menimbulkan luka ini sekaligus bersama warga dan pemerintah NTT bekerja sama memulihkan stigma negatif itu.

"Kenyataan dari beberapa survey memang indeks mutu pendidikan NTT sangat anjlok. Harus kita akui dengan jujur bahwa itu realitas yang mendorong kita untuk cari solusi. Kendati apa yang diucapkan Mendikbud di satu sisi harus diakui tak pantas dan perlu meminta maaf kepada rakyat NTT,  tetapi di sisi lain kesalahan itu menjadi felix culpa,  dosa yang membahagiakan.  Artinya,  memicu semua instansi terkait dan stakeholder lainnya bersama pemerintah pusat untuk serius memulihkan NTT dalam banyak aspek,  termasuk pendidikan", tandas Benny K Harman yang dikenal sebagai BKH.  "Berani jujur itu hebat meski sakit rasanya.  Kita harus membuktikan dengan kerja keras dan kerja bersama  untuk memulihkan stigma negatif itu dan membebaskan NTT dari keterbelakangannya,"  lanjutnya.

Reaksi berbagai kalangan dari NTT atas ucapan Mendikbud ini patut diapresiasi karena bisa memicu perhatian yang lebih besar dan lebih serius lagi,  terutama dari para pemimpin terkait, baik pusat maupun daerah NTT.

"Untuk itulah seseorang menjadi pemimpin,  yang prihatin dengan kenyataan dan menggerakkan perubahan untuk bersama warga NTT kita bangun daerah kita yang kaya potensi alam dan SDM ini," pungkas Benny K Harman.

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Nasional

BKH, Pejuang Hukum Dari Timur

Selasa, 30 Mei 2017
Nasional

Lagi, TKI Asal NTT Meninggal di Malaysia

Senin, 12 Juni 2017

Komentar