Pentingnya Menara Karakter

Kamis, 30 November 2017 | 10:45 WIB
Share Tweet Share

Aktivis PMKRI Cabang Ruteng Yohanes Jehadur

Oleh: Yohanes jehadur

(Aktivis PMKRI Cabang Ruteng)

Sudah sering kali kuping kita mendengar masalah yang hangat disoroti media. Masalah amoral. Masalah seperti ini telah menyita perhatian publik, dan warga net heboh dengan mendiskusikan masalah seperti ini. Betapa tidak, beberapa bulan yang lalu di desa Ruan, kecamatan Kota Komba, kabupaten Manggarai Timur seorang ayah tega memperkosa anaknya sendiri sebanyak empat kali.

Perilaku yang bejat nan jahil tersebut dipertontonkan oleh orang tua yang seharusnya menjadi tuan atas teladan yang baik, perilaku menggui, perilaku yang sopan dan santun serta guru untuk anak-anak di rumah sebelum anak-anak menjadi pebelajar pendidikan moral di sekolah.

Harus diakui bahwa kasus seperti ini, tidak bisa didefenisikan dengan logika moral. Apalagi perilaku tersebut dilakukan oleh orang tua terhadap anak dibawah umur. Bodoh dan tidak manusiawi. Manusia satu ciptaan Tuhan ini melahirkan hawa nafsu binatang. Dalam ajaran apa pun tidakan binatang seorang ayah tidak boleh dialamatkan kepada anak, apalagi anak sendiri. Hawa nafsu binatang ayah seharusnya melahirkan kasih sayang, cinta dan suasana menyenangkan. Ayah merupakan pohon beringin yang mampu memberikan anak kehangatan, suasana teduh dan bukan musuh dalam selimut.

Kasus amoral kembali terjadi di kabupaten Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Kasus kali ini masih dengan pelecehan orang tua terhadap anak dibawah umur. Perilaku menjijikan seorang kakek AP terhadap anak remaja 15 tahun pada desa Buar kecamatan Rahong Utara.

Bagaimanapun kita mengunci mulut anak tak bersalah, tetap bom waktu menjawab. Bongsai nafsu tak bisa membalut niat baik dan menyebunyikan niat jahat. Tirai besi dan ranjang hukuman tetap menjadi pintu dan tempat yang pantas terhadap pelaku amoral ini.

Berdasarkan data Unit PPA Polres Manggarai, kasus pelecehan seksual dan persetubuhan anak dibawah umur tahun 2015 sebanyak 9 kasus. Belum samapai disitu. Tindakan amoral kepada anak dibawah umur kembali terjadi di Manggarai beberapa hari lalu. Kali ini lebih heboh lagi, karena pelaku adalah calon pendidik.

Mahasaiswa semestinya harus menjaga marwah amanat perguruan tinggi yang mempersiapkan tenaga pendidik yang bermoral, bertanggung jawab dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Perilaku yang tidak terkontrol mahasiswa ini seakan menambah beben demografi. Hal ini tentu saja kontra produktif terhadap gencarnya penerapan pendidikan karakter.

Siapa pun pelaku amoral harus diprooses berdasarkan hokum yang berlaku. Secara jelas perlakuan pelecahan dan pencabulan terhadap anak-anak dibawah umur merupakan pelanggaran terhadap UU Anak.
Beberapa kasus diatas memberikan sinyal kepada kita, bahwa kita berada pada ujung jurang kehancuran moral.

Etika dan etiket kita dalam kehidupan bersama tidak diperhitungkan lagi. Kita menjadi musuh untuk kita. Dilain hal, kasus-kasus diatas juga memberi sinyal kepada kita bahwa kita sedang berada pada krisis peradapan. Kita sudah tercerabut dari asas kehidupan bersama. Moral kita menjadi singa dan seigala.
Dan kita boleh saja memberikan banyak kesimpulan terkait kasus diatas.

Bagai penulis sendiri kasus-kasus yang sudah dipaparkan mengindikasikan bahwa menara karakter kita hancur berkeping-keping. Dasar moral kita sudah tenggelam oleh karena keinginan daging, tak terkecuali anak sendiri, janda, anak dibawah umur, cucu kita yang mestinya kita jaga, lindungi dan biarkan mereka dapat menikmati hidup tanpa kekerasa.

Getar suara perubahan sekarang adalah stop kekerasan terhadap anak dibawah umur. Berikan ruang ekspresi kegembiraan terhadap anak menikmati ciptaan Tuhan tanpa kekerasan seksual. Selain itu, mari kita berjuang bersama membangun menera karakter demi menata proyek masa depan yang barmartabat.

Menara Karakter

Begitu banyak hal yang telah dilakukan oleh lembaga pemerintahan untuk mengeluarkan pelaku dan korban kekerasan seksual terhadap anak. Ada yang berhasil dan tak masih ada begitu banyak yang tak berhasil. Buktinya kasus pelecehan dan pencabulan terhadap anak dibawah umur berjalan melonjak belakangan ini di Manggarai.

Menara karakter menjadi salah satu solusi agar kita bisa keluar dari kasus pelanggaran moral. Bangun kembali menara karakter merupakan jembatan peradaban menuju peradaban bermartabat. Peradapan yang yang menghargai harkat dan martabat sebagai manusia. Pembangunan menara karakter disini lebih di tekankan pada penerapan beberapa ember nilai karakter.

Ember pertama, tanggung jawab. Tangung jawab sebagai sikap dan prilaku seseorang untuk, melaksanakan tugas dan kewajibanya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, social dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Penekanannya adalah bahwa tanggung jawab merupakan cetak biru atau format dasar dalam menjalankan agenda apa pun. Pemerintah dalam menjalankan agenda nasional misalnya, tentu ada tanggung jawab dibaliknya. Pemerintah membuat undang-undang sebagai payung hukum kehidupan berbangsa dan bernegara dengan tanggung jawab menjalankan pasal demi pasal undang-undang tersebut demi melindungi warga negaranya dan memprooses segala bentuk tindakan yang yang bersilangan dengan undang-undang. Begitu pula agenda pendidikan dijalankan dengan tanggung jawab mecerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tanggung jawab merupakan kesadaran diri manusia akan tingkah laku atau perbuatan yang baik. Tanggung jawab berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajiban. Tanggung jawab bersifat koadrati dalam artian bahwa tanggung jawab itu sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia dan yang pasti setiapa orang akan memikul tanggung jawabnya masing-masing.

Tanggung jawab adalah cirri manusia berbudaya. Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akan akhibat baik atau buruk perbuatannya.
Wujud tanggung jawab adalah pengabdian dan pengorbanan. Pengabdian berupa perbuatan yang baik berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan dan hormat terhadap semua yang dilakuakan. Pengabdian hakekatnya adalah tanggung jawab. Sedangkan pengorbanan adalah pemberian pikiran untuk menunjukan suatu pengabdian.

Ember kedua, gemar membaca. Literasi memainkan peranan penting dalam menguatkan pemahaman dan kecerdasan cara berpikir. Semakin banyak bahan bacaan semakin jeli menanggapi berbagai hal. Ember yang kedua ini dipercaya dapat mepengaruhi mindset terhadap kecenderungan media social, perkembangan teknologi yang tak beradap.
Dua ember tersebut menurut saya merupakan fondasi pembangunan menara karakter.

Jika kita pernah membangun menara pasir di tepi pantai, walau sangat kecil tetapi sangat sulit untuk diselesaikan. Begitu pun menara karakter dibangun penuh perjuangan dari berbagai elemen bangsa sesibuk membangun menara pasir di tepi pantai. Menara karakter terkandung nilai hidup yang penuh harapan dan impian. Suksesnya menara karakter tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja. Pemerintah harus berjalan bersama rakyat dan lembaga agama dan khusus di manggarai di tamnbah dengan gereja. Suara profetis gereja sangat urgen. Selamat membangun menara karakter dan menjalankan proyek masa depan.

Editor: Jefry


Berita Terkait

Komentar