Revolusi Putih Prabowo Vs Revolusi Mental Jokowi

Rabu, 01 November 2017 | 07:10 WIB
Share Tweet Share

Presiden Jokowi Temui Prabowo Subianto-Bogor, 30 Okt 2016 [foto: istimewa]

Kata revolusi senantiasa menggetarkan. Ada semangat yang meletup-letup di sana. Sebab revolusi itu sesuatu yang grande, dahsyat, energik dan masif. Karena revolusi tercetus dari sebuah kebuntuan yang juga massif sehingga membentuk tingkat kejenuhan dan bahkan frustrasi yang besar. Karena itu pula,  revolusi yang berhasil akan melahirkan perubahan yang komprehensif dan radikal.

Dalam sejarah kita mengenal revolusi Perancis yang lahir dari kemuakan terhadap monarkhi dan melahirkan sebuah mazhab pencerahan yang sangat masyur dan inspiratif, tidak saja bagi masyarakat Perancis, melainkan bagi warga dunia.

Revolusi perancis mampu meruntuhkan mental aristokrat, feodal yang membelenggu kebebasan dan membelah masyarakat atas kelas bangsawan dan rakyat jelata. Nilai-nilai feodal diganti dengan tiga prinsip baru yakni, liberte, egalite, fraternite (kebebasan, keadilan, persaudaraan). Revolusi Perancis secara radikal mengubah bentuk negara itu dari negara kerajaan menjadi negara republik.

Selain revolusi Perancis yang menginspirasi begitu banyak pergerakan sosial, politik dan budaya di seantero dunia, sejarah juga mencatat revolusi industri. Revolusi ini menandai perubahan radikal dalam dunia industri dengan lahirnya mesin-mesin yang menggantikan tenaga manusia dan hewan. Kehadiran mesin-mesin itu berdampak pada peningkatan produksi sehingga mendongkrak pendapatan perkapita.

Begitulah revolusi. Ia menimbulkan getaran besar, bukan karena diucapkan dengan retorika yang gagah ditambah aksentuasi yang serius, plus wajah berkerut. Tapi ia menggetarkan karena kontennya yang grande, masif sehingga melahirkan perubahan radikal dan komprehensif.

Baru-baru ini kita mendengar seruan revolusi putih dari ketua umum partai Gerindra, Prabowo Subyanto. Revolusi putih yang dimaksud antara lain memasyarakatkan konsumsi susu kepada anak-anak Indonesia. Revolusi ini akan diimplementasikan di sekolah-sekolah dengan memberikan sarapan gratis berupa kacang ijo, susu dan telur. Revolusi putih diharapkan bisa menciptakan generasi bangsa yang kuat pada 10 atau 15 tahun mendatang.

Revolusi putih bukan baru bagi Prabowo. Semasa musim pilpres 2014 lalu, gagasan ini sempat menjadi salah satu 'jualan' Prabowo yang berpasangan dengan Hata Radjasa.
Revolusi ini dilandasi fakta dan data tingginya tingkat kekurangan gizi di kalangan anak-anak Indonesia. Akibatnya, bangsa ini menjadi bangsa yang lemah karena generasinya kurang gizi.

Gagasan ini tentu saja sangat positif. Tapi rasanya terlalu hiperbolis jika dikaitkan langsung dengan kondisi bangsa kita yang diklaim Prabowo sebagai bangsa yang lemah. Terlalu naif juga jika menarik benang merah revolusi putih dengan prestasi olahraga kita yang cenderung merosot.

Upaya meningkatkan gizi anak di sekolah sebenarnya bukan hal baru. Pada masa Orde Baru program serupa juga pernah dijalankan dengan nama Penyediaan Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMTAS). Isinya pun kurang lebih sama yakni, menyuplai makanan sehat tambahan bagi anak-anak, khususnya anak-anak usia sekolah.

Dalam program PMTAS memang tidak secara spesifik menyebutkan susu sebagai jenis makanan yang harus ditambahkan. Tapi pendekatannya lebih komprehensif dengan tambahan obat-obatan, terutama obat cacing. PMTAS merupakan salah satu titik berat program kesehatan masyarakat demi pembangunan SDM era Orde Baru memasuki REPELITA V dan VI.

Pada masa itu prgram PMTAS dilaksanakan di seluruh negeri, bukan hanya di Jakarta. Pelaksanaannya pun melibatkan semua pihak, mulai dari siswa itu sendiri, guru, orang tua, aparat pemerintahan lokal, hingga tim medis. Disainnya pun tidak konsumtif, dalam arti siswa hanya menerima pasokan makanan yang disediakan. Sebaliknya, ada upaya menuju kemandirian suplai makanan sehat lewat program penanaman dan pengembangan jenis-jenis makanan sehat.

Harapannya anak-anak sekolah akan menjadi sehat dan kuat, sehingga kelak kita memiliki generasi yang berkuakitas dan negara pun menjadi kuat. Tapi setelah belasan tahun, adakah bangsa ini memiliki generasi yang tangguh seperti China? Rasanya belum.

Fenomena tawuran, ijazah palsu, nyontek berjemaah, dan sebagainya, menjadi antitese dari tujuan mulia program PMTAS yang digalakkan Soeharto jelang runtuhnya Orde Baru. Aksi kekerasan hingga menelan korban jiwa bahkan terjadi di lemabaga-lembaga pendidikan yang siswanya tampak sehat dan kuat, kekar, mirip ras Arya-nya Hitler. Kejadian-kejadian seperti itu bukan sebuah kecelakaan karena pelakunya punya motif tertentu.

Rasanya bukan semata-mata karena kurang minum susu jika ada sekelompok anak kecil ikut pawai dan meneriakan yel-yel membunuh sesama manusia. Bukan semata-mata kurang minum susu, jika ada warga negara ini yang senang mendiskreditkan sesama yang bukan kaumnya.

Lantas, apa sebenarnya yang menguras spirit generasi bangsa ini? Ada satu problem besar jauh lebih besar dari sekadar asupan protein yang dialami. Dan itu tidak lain adalah DEGRADASI MENTAL.

(Ulasan lanjutan silakan baca tulisan berjudul "Percuma diberi Susu Kalau Generasi Kita Masih Bermental Tempe",  klik link berikut ini: http://www.indonesiakoran.com/news/kolumnis/read/75086/percuma.diberi.susu.kalau.generasi.kita.masih.bermental.tempe

Penulis: Vinct Br

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar