Membedah Propaganda Timses Tambang di Lolok dan Luwuk

Kamis, 21 Mei 2020 | 00:40 WIB
Share Tweet Share

Kampung Lengko Lolok, Lamba Leda, Manggarai Timur (foto: istimewa)

oleh: Yon Lesek

[INDONESIAKORAN.COM] Polemik usaha tambang batu kapur dan pabrik semen yang rencananya akan dilakukan di Lengko Lolok dan Luwuk menuai pro-kontra. Diinformaskan bahwa tambang dan pabrik semen tersebut akan dikelola oleh  PT. Istindo Mitra Manggarai (IMM) dan PT. Singa Merah (SM). Luas lahan eksploitasi batu kapur di Lengko Lolok sekitar 505 ha dan lokasi pabrik semen di Luwuk menyasar areal persawahan rakyat. Bahkan kampung Lolok dan Luwuk bakal direlokasi, sebagaimana tertera dalam surat kesepakatan, namun lokasi hunian yang baru belum ditentukan. Dipastikan lahan pertanian, sawah, dan kampung akan tergerus dan lenyap.

Pihak perusahaan tambang sudah jauh melakukan lobi-lobi ke warga di lokasi dalam kerja sama dengan Pemda Manggarai Timur. Bahkan Bupati Manggarai Timur Ande Agas turut aktif melobi warga dengan mendatangkan warga Lolok untuk bertemu dengannya di kampung halaman Bupati di Cikalikang. Setelah pertemuan itu, warga pun menerima uang DP (down payment) sebesar Rp10 juta, yang dibagi-bagi perusahaan di kantornya di Reok, dengan sebelumnya warga diminta untuk membubuhkan tanda tangan. Ternyata tidak semua warga mau menerima uang DP tersebut.

Sejak peristiwa ini terkuak, media dan masyarakat umum, baik di Manggarai maupun di luar Manggarai Timur bersuara dan melakukan advokasi. Diikuti perdebatan hangat di dunia maya, baik media online maupun Facebook. Anda  bisa meninjaunya di banyak link berita, a. l. http://www.indonesiakoran.com/news/nusantara/read/84106/luwuk.lolok.diaspora.jakarta.tolak.bangun.pabrik.semen.... ; https://www.google.com/amp/s/www.mongabay.co.id/2020/05/15/warga-dan-walhi-ntt-tolak-tambang-dan-pabrik-semen-di-manggarai-timur-kenapa/amp/; https://timexkupang.com/2020/01/25/bertemu-masyarakat-desa-satar-punda-bupati-matim-sampaikan-kabar-ini/

IMG_20200521_002228

Tulisan ini murni hendak mengkonfirmasi kembali logika sehat di hadapan begitu banyak kesesatan logika yang sengaja dikemas indah dan manis dalam argumentasi para pendekar pro tambang di lapangan dan di dunia maya. Juga hendak mengkonfirmasi kengawuran berpikir yang dibangun dengan muatan pengetahuan yang dangkal bahkan kurang memadai (ignorantia) yang dibangun timses tambang dan pabrik semen di Lengko Lolok dan Luwuk yang mana ramai disoraki followers-nya.

Saya membatasi diri pada enam argumentasi pro tambang berikut ini. Mari kita simak dengan cermat. Dahi (pikiran) boleh panas, tapi hati tetap dingin, jangan sampai emosi jiwa.

Pertama, para pendukung tambang bilang: "Mereka yang berkoar-koar tolak tambang itu kebanyakan orang luar, bukan orang yang tinggal di Lengko Lolok dan Luwuk. Tidak usah dengar mereka, hidup matinya kita di sini emangnya mereka peduli apa? Kalau mereka benar-benar peduli, ayo datang ke sini."

Mari kita cermati: Propaganda ini khas argumentasi  ngawur kaum sofis yang disebut 'argumentum ad hominem'. Bahwasanya pendapat orang Lolok dan Luwuk yang ada di luar tidak perlu didengar dan tidak penting. Bukan menilik kebenaran argumentasi atau pendapatnya, malah menyoal asal-usul dan lingkungan tinggal. Ingat, Kebenaran itu melampaui ruang dan waktu, melampaui sejarah dan lokasi.  Bukan soal siapa yang mengatakan, tetapi apa yang dikatakannya. Artinya, salah benarnya, penting atau tidak pentingnya pendapat seseorang, bukan karena dia lahir dan besar di situ, tetapi karena substansi pernyataan itu sendiri.

Kedua, para pendukung tambang bilang: "Rencana pembangunan pabrik semen dan usaha tambang di Lengko Lolok dan Luwuk, telah membagi masyarakat menjadi dua kubu "pro dan kontra".
Mayoritas warga di dua lokasi bersangkutan setuju akan hadirnya investor tambang karena alasan ekonomi, tapi ada juga sebagian warga yg tidak setuju karena alasan kelestarian lingkungan hidup. Ini merupakan sebuah dilema yang lazim dihadapi oleh warga disetiap lokasi yang akan dibangun industri.  Bahwasanya industri pertambangan di mana-mana pasti membawa dampak ekologis."

Mari kita cermat: Alasan ekonomi dan alasan kelestarian lingkungan diargumentasikan sebagai dua sisi yang bertolak belakang. Orang yang berjuang untuk ekonominya membaik dengan orang yang berjuang untuk kelestarian lingkungan seakan-akan saling bertentangan.

Bagaimana bisa dua hal ini dipertentangkan? Seharusnya tak terpisahkan. Bahwasanya orang itu ingin berjuang supaya ekonominya membaik dan lingkungan tetap lestari. Hal ini sudah jadi konsern dan kesepakatan internasional tentang pembangunan yang selaras alam. Apa yang terjadi dengan tambang mangan  di Lolok dan Serise sebelumnya, sangat bertentangan. Tampak ada jurang yang dalam antara idealisme tambang dan realitasnya, antara janji manies saat bertatap muka di awal dengan kenyataan pahit saat ditinggal pergi begitu saja, antara harapan kemakmuran dengan kesengsaraan akibat penyakit dan kehancuran alam.

IMG_20200521_002327

Ketiga, para pendukung tambang bilang: "Kerusakan lingkungan memang tidak bisa dihindari tapi bisa diMINIMALISIR.
Jangankan industri (skala besar) setiap Warga Manggarai dari dahulu kala sampai hari ini sudah membangun ekonomi dengan merusak lingkungan hidup.
Contoh:
1. Pongga puar (meramba hutan): Membuka lahan perkebunan dengan cara meramba dan membakar hutan yang mengakibatkan banjir bandang, longsor, pencemaran udara bahkan sampai krisis air minum.

2. Oke rewos/lareng/sembuta (membuang racun ke sungai): Mencari ikan dengan cara disiram obat kimia yang dapat memusnahkan satwa-satwa air yang lain, bahkan melenyapkan generasi karena membunuh bibit-bibit baru.

Kesimpulan mereka, semua pembangunan ekonomi warga Manggarai yang berbasis Sumber Daya Alam (SDA) tidak bisa dibangun tanpa merusak lingkungan hidup."

Mari kita cermati: Argumentasi ini lebih ngawur lagi. Contoh buruk dijadikan pembenaran untuk kerusakan berikutnya, lalu membuat generalisasi bahwa pengelolaan SDA semuanya merusak lingkungan hidup. Ingat, pembangunan itu bukan hanya demi kemanfaatan ekonomis, tetapi juga demi eksistensi/keberadaan alam sebagai Kosmos (harmoni semesta) dan manusia sebagai Kokreator (rekan kerja Allah dalam merawat dan memelihara ciptaan).

Keempat, para pendukung tambang bilang: "Tanah di Lengko Lolok dan Luwuk itu penuh batu kapur dan tidak bisa cocok untuk pertanian. Orang Lolok dan Luwuk selamanya akan menjadi petani miskin. Maka, kehadiran tambang dan pabrik semen ini patut disyukuri karena memberikan jaminan hidup yang pasti dari gaji yang akan mereka terima secara rutin. Perusahaan tambang ini datang (meresiter ide dalam Kitab Suci) untuk "mengubah batu menjadi roti".

Mari kita cermati: Berhadapan dengan target utama mereka untuk mendapatkan persetujuan warga Lengko Lolok dan Luwuk dan agar membuat mereka rela menyerahkan tanah pertanian (uma lingko) dan bahkan tanah kampung halaman, pihak perusahaan tambang dan kolaborator lapangannya hadir dengan wajah penyelamat yg memantra rakyat kecil dengan 'janji surga". Segala cara mereka lakukan, bahkan mencari pembenaran dari Kitab Suci, sekalipun dengan kesesatan metodis, yang disebut proofteks). 

Saya memang sangat terganggu dengan istilah "mengubah batu menjadi roti" ini karena sering dipakai orang pro tambang untuk meyakinkan rakyat kecil supaya menerima tambang. Ucapan ini tidak saya dengar akhir-akhir ini saja, tetapi juga pernah disampaikan beberapa tahun lalu saat orang tambang mangan datang memengaruhi orang di Tumbak, bahkan mereka jelas-jelas bilang, seperti dikatakan di dalam Kitab Suci, perusahaan tambang datang utk mengubah batu (neni/mangan) menjadi roti. Orang kecil manggut-manggut,  padahal itu namanya trik fakenews.

Ide 'mengubah batu menjadi roti' ini kalau kita cermati merujuk pada kisah Yesus digoda iblis di padang gurun. Yesus bisa melakukan itu, tapi dia tidak mau karena itu godaan dari Iblis si bapak kelicikan dan penyesatan. Jadi kesimpulannya jelas, siapa itu iblis yang menggoda kita dengan omong kosongnya "mengubah batu menjadi roti".

IMG_20200528_201718Padi di lahan produktif milik warga Lengko Lolok, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, NTT (Foto: Gunawan)

Kelima, para pendukung tambang bilang, "Sekarang sudah era industri 4.0, kenapa tolak revolusi industri?"

Mari kita cermati: Konsep industri 4.0 dan Revolusi Industri ditempelkan  begitu saja sekadar gagah-gagahan untuk menghipnotis orang agar memaklumi kehadiran tambang pada zaman now. Menghubungkan begitu saja dua konsep mentereng itu dengan pengiyaan tambang di Lengko Lolok dan Luwuk, tentu megkhianati pengertian dasar dan kontekstual dari istilah itu. Ini yang dinamakan sesat pikir 'argumentum contradictio in terminis' .

Kalau ngomong revolusi industri, tentu kita ingat Inggris awal abad ke-18, revolusi industri itu menggantikan pekerjaan tangan/manual dengan teknologi mesin, terutama sejak ditemukannya mesin uap, pekerjaan tangan diganti pekerjaan mesin sehingga income-nya makin besar dan produktivitas berlipat ganda. Begitu juga era industri 4.0 dengan intervensi hightech dan digitalisasi, jauh dari yang dimaksudkan untuk menyetujui tambang dan pabrik semen. Semestinya justru pekerjaan tangan para petanilah yang perlu digantikan mesin teknologi dan gerakan revolusi pertanianlah yang harus didorong di daerah kita yang agraris ini.

Keenam, para pendukung tambang bilang, "Tolak tambang? Rumah tembok hasil karya tambang, mobil/motor/sepeda hasil karya tambang, HP hasil karya tambang, laptop/komputer hasil karya tambang, peralatan makan hasil karya tambang, peralatan dapur hasil karya tambang....ckckcckc.....kalau mau tolak tambang jangan pakai/gunakan barang tersebut di atas....otomatis tambang tutup.

Mari kita cermati: Saya coba pakai alur pikir yang sama untuk kalian yang pro tambang dengan logika kalian di atas, apakah kalian juga sepakat? Begini. Pabrik semen dan tambang batu kapur itu akan  beroperasi di atas lahan milik warga yang sudah bercocok tanam puluhan tahun: ada padi ladang, singkong, kacang hijau, jambu mente, kelapa, ubi jalar, sayur mayur, dan padi sawah. Juga bahkan kampung yang  ada compangnya akan direlokasi, belum tahu di mana. Nah, kalian yang sepakat hasil bercocok tanam ini dimusnahkan demi pabrik dan tambang semen tidak boleh saya lihat makan nasi, singkong, ubi, kelapa, kacang ijo, jambu mete, hasil kebun dan sawah ya... kamu makan kamu punya oto, motor, hp, laptop, dll.... Ini alur pikir kacau balau namanya. Bagaimana kalau tambang itu ada di pintu rumahmu, apa juga kalian yang pro tambang mau rumah, kampung, compang, dan kebun kalian lenyap?

Hidup di dunia ini saling membutuhkan, simbiosis mutualisme. Yang tidak ada di kita, akan ditutup negara lain atau daerah lain. Demikian sebaliknya. Apakah mobil, sepeda motor, HP, laptop yang kamu pakai adalah hasil tambang dari Luwuk? Dari Flores? Dari NTT?  Tidak kan? Lalu dari mana? Ya, dari negara lain.

IMG_20200528_203913
Sawah produktif milik warga Luwuk, Desa Satar Punda, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, NTT (foto: Sangabay Indonesia)

Sesat Pikir-Fallacy

Sedikit tentang sesat pikir atau disebut fallacy ala kaum sofis yang saya katakan dalam komentar awal saya ini. Kaum sofis merupakan nama suatu kelompok cendekiawan yang mahir berpidato pada zaman Yunani kuno. Mereka selalu berusaha memengaruhi khalayak ramai dengan argumentasi-argumentasi yang menyesatkan yang disampaikan melalui pidato-pidato mereka agar terkesan kehebatan mereka sebagai orator-orator ulung. Umumnya yang sengaja ber-fallacy adalah orang yang menyimpan tendensi pribadi dan lainnya. Sedangkan yang berpikir ngawur tanpa menyadarinya adalah orang yang tidak menyadari kekurangan dirinya atau kurang bertanggungjawab terhadap setiap pendapat yang dikemukakannya atau biasa disebut dengan istilah paralogisme.

Fallacy sangat efektif dan manjur untuk melakukan sejumlah aksi tak bermoral, seperti mengubah opini publik, memutar balik fakta (trik fakenews), pembodohan publik, provokasi sektarian, pembunuhan karakter, memecah belah, menghindari jerat hukum, dan meraih kekuasaan dengan janji palsu untuk membungkus kebohongan. Mereka licik memainkan game of perception dengan Prinsip siasat licik Iblis (bapa para pendusta): Kebohongan terselubung, jika disampaikan terus-menerus secara konsisten, akan diterima sebagai kebenaran.

Jangan takut!

Bukalah pintu lebar-lebar untuk menyingkap kepalsuan demi kepalsuan hingga suatu saat nanti kebenaran akan menyatakan dirinya sendiri.

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar