Eksibisionis Menjijikan Kaum Politik Nudist

Jumat, 18 Oktober 2019 | 19:42 WIB
Share Tweet Share

Benny Rhamdani (Kiri) bersama Presiden Jokowi Dodo (Kanan)

Oleh: Benny Rhamdani (Mantan Direktur Kampanye TKN)

Kopi Itu Pahit,
Maka Bukan Kopi Jika Tidak Pahit.

MEMGAMBIL posisi berbeda secara politik dalam sebuah kontestasi itu adalah hal biasa.
Baik posisi berbeda secara politik sebagai kontestan maupun sebagai pendukung atau supporter. Dalam hal seperti itu, halal secara konstitusi dan sah dalam demokrasi.

Bahkan Citarasa berkonstitusi dan kualitas berdemokrasi akan memberi efek edukasi, jika posisi berani berbeda secara politik karena masalah yang dianggap ideologis atau fundamental pada wilayah ide dan gagasan yang ditawarkan melalui visi dan misi.

Tapi jika karpet merah konstitusi dan demokrasi didistorsi pada ejakulasi syahwat politik dini, maka kita tidak bisa berharap banyak terhadap bangunan konstitusi dan demokrasi dan segala isi yang dijamin, dilindungi dan menjadi tujuannya berdiri megah secara konstruktif. Tapi sebaiknya menjadi kekuatan yang memiliki potensi daya rusak dan daya hancur yang high exsplosiv secara destruktif.

Pilpres 2019 telah memberi pelajaran berharga kepada kita, setiap anak bangsa ditanah Republik yang bernama Indonesia. Karpet merah Konstitusi dan Demokrasi yang memberi jalan setiap orang memiliki hak berkontestasi, telah dikotori oleh bercak sperma kaum Nudist dan penzinah demokrasi. Kaum yang telah kehilangan syaraf etik dan adab manusiawi. Kecuali yang tersisa pada kaum ini hanyalah libido syahwat politik hewani

Lihatlah apa yang dipertontonkan oleh kaum Eksibisionis politik ini saat kontestasi pilpres dilaksanakan, mesin yang mematikan nilai demokrasi dan bahkan perdaban yang mereka ciptakan, telah memproduksi virus kebencian dengan tingkat penyebaran yang masif, sel sel fitnah dengan tingkat penularan yang mematikan dan biang tumor adu domba yang secara telanjang bulat membenturkan isu masalah suku dan agama, dianggap sebagai hal biasa sekalipun itu akan memusnahkan sebuah kaum atau bahkan banyak umat manusia secara sosial dan politik.

Mereka menikmatinya sebagai bagian politik bebas, sekalipun diharamkan secara Konstitusi dan tidak dibenarkan dalam demokrasi. Bagi kaum ini, tidak ada tempat untuk bicara etik, adab, moral dan halal-haram.

Lihatlah episode yang terjadi berikutnya, setelah pemilu usai dan Jokowi-KH.Ma'ruf Amin dinyatakan sebagai pemenang.
Posisi Kursi menteri begitu merangsang libido dan syahwat politik mereka. Tanpa malu bahkan berani mematok jumlah dan nama kementerian yang ingin disetubuhi.

Safari dan lobi politik untuk mengejar kursi menteri pun mulai dilakukan. Walaupun harus dengan cara memutus urat 'kemaluan' jiwa Pateiotik yang selalu diagungkan. Bagi kaum ini, tidak ada tempat untuk bicara etik, adab, moral dan batas halal-haram. Yang penting berkuasa, halal maupun haram pokoknya hantam.

Jokowi difitnah sebagai seorang PKI. Tapi demi kursi menteri, rela menjadi pembantu dari seorang Presiden yang dulu difitnahnya dengan cara keji. Jokowi dituduh antek asing dan aseng yang menjual kekayaan negara. Tapi demi kursi menteri, rela menjadi pembantu dari seorang Presiden yang dulu dituduhnya dengan cara nista.

Sejarah saat ini menulis dan harus diberitakan, bahwa kehinaan dan kenistaan yang selama ini ingin mereka sematkan kepada seorang jokowi, sesungguhnya adalah milik kaum mereka sendiri. Karena hanya bagi orang yang normal secara sexual politik, menjadi oposisi karena kalah dalam kontestasi, itu lebih terhomat dibanding setelah Kalah lalu menjadi pengemis yang meminta-minta jatah menteri. Semoga.

Editor: Mus


Berita Terkait

Komentar