Tantangan Politik Orang Kolang

Senin, 13 Mei 2019 | 21:55 WIB
Share Tweet Share

Wakil Bupati Manggarai Barat (Mabar), Maria Geong (Kiri) dan Caleg terpilih DPRD Mabar, Robertus Loymans

Sebuah Perspektif terhadap Peran Orang Kolang dalam Politik Lokal 

Oleh : Wakil Bupati Manggarai Barat, drh. Maria Geong, Ph.D

"Orang Kolang itu hebat-hebat" demikian pernyataan dari salah seorang teman asal Wae Ri tentang kiprah orang Kolang di berbagai bidang di tingkat daerah maupun nasional sejak zaman dulu hingga sekarang.

la menyebut nama beberapa tokoh Manggarai asal Kolang tempo dulu hingga sekarang seperti Kraeng alm. Agus Geong, Kraeng alm. Lorens Bagus, Kraeng alm Karel Pudus, Kraeng alm Lukas Ndagu, Kraeng alm Tote Jelahu, Kraeng alm Yosef Badang, Kraeng alm Markus Lajar, Kraeng alm Daniel Bahang, Kraeng alm. Fabi Latu, Kraeng alm. Yan Entoh, Kraeng alm. Alexius Sius, Kraeng Doroteus Jeha, Kraeng Abraham Gampar, dan Kraeng Pit Ngita.

Lalu ada juga nama-nama seperti Kraeng dr. Husein, Kraeng Rikard Bagun, Kraeng Lukas Lontong, Kraeng Gaudensius Suhardi dan masih banyak lagi. Ya, siapapun harus mengakui bahwa tokoh-tokoh ini adalah sebagian dari deretan orang berpengaruh di zamannya yang pernah dilahirkan tanah Kolang. Mereka berpengaruh karena memang mereka adalah orang-orang yang terpilih karena kemampuannya.

Di balik semua itu terlintas juga dalam pikiran saya, dengan segala kemampuan yang dimiliki mengapa orang Kolang tidak bisa mencapai puncak tertinggi kepemimpinan di suatu daerah padahal kesempatan itu sangat terbuka? Ataukah orang kolang hanya cocok sebagai pemimpin medioker saja?

Tulisan ini adalah pokok-pokok pikiran saya tentang tantangan politik orang kolang di masa depan. Namun terlebih dahulu saya ingin mengajak kita untuk merefleksikan keberadaan kita sebagai orang kolang.

Siapa orang Kolang?

Sejauh pengetahuan saya, istilah masyarakat atau orang kolang tidaklah merujuk pada etnis atau suku bangsa tertentu yang memiliki corak budaya yang berbeda dari suku bangsa Manggarai secara umum. Istilah ini lebih menggambarkan kumpulan masyarakat yang
mendiami suatu wilayah pemerintahan local saat itu yang disebut kedaluan Kolang.

H.Daeng dalam buku "Manggarai Daerah Sengketa Antara Bima dan Gowa" menyebutkan bahwa pada tahun 1732, selain perwakilan Sultan Bima di Reo, Pota, Bari dan Labuan Bajo, ada tiga dalu besar yang berkuasa di Manggarai yakni Todo, Cibal dan Bajo.

Dalu Todo membawahi tiga belas kedaluan yang lebih kecil yaitu Kolang, Lelak, Wontong, Welak, Ndoso, Ndehes, Rahong, Ruteng, Poco Leok, Torok Golo, Sita, Riwu dan Manus. Dengan demikian, dalam sejarahnya Kolang dapat di sebut sebagai sebuah kerajaan local dengan wilayah yang saat ini meliputi seluruh wilayah kecamatan Kuwus Barat serta sebagian kecamatan kuwus.

Namun demikian karakteristik kerajaan ini tentu berbeda dengan tipologi kerajaan pada umumnya di Indonesia. Masyarakat di kampung-kampung dalam wilayah kedaluan Kolang ini memiliki ikatan kekerabatan yang kuat akibat perkawinan.

Dengan demikian,
karakteristiknya tidak seperti gambaran kerajaan-kerajaan di Jawa yang wilayah
kekuasaannya merupakan daerah taklukan.

Masyarakat dalam wilayah kerajaan kolang ini
lebih sebagai sebuah komunitas yang memiliki kesadaran bersama sebagai sebuah keluarga.

Hal ini tergambar pula dari naskah silsilah keluarga dalu Kolang yang menunjukkan
penyebaran wa'u (keluarga)-nya di berbagai daerah di wilayah Kolang.

Dari paparan di atas, dapat kita simpulkan bahwa ikatan diri sebagai Orang Kolang
pada dasarnya datang dari perasaan sebagai satu keluarga dan perasaan sebagai sesame warga"kerajaan" kolang. Perasaan diri sebagai keluarga dan warga kolang ini demikian kuat dan cukup berpengaruh hingga dewasa ini.

Maka tak heran jika ke manapun orang kolang merantau, mereka selalu membawa atau mengajak wa'unya. Dan muncullah kompleks-kompleks orang kolang di daerah perantauan seperti di daerah Dongang, Ruteng atau Oepoi di Kupang.

Penyebaran orang kolang di berbagai daerah rantau, selain untuk tujuan bekerja juga
untuk melanjutkan pendidikan. Fondasi kuat orang-orang kolang melanjutkan pendidikan
bahkan hingga ke Jawa saat itu adalah karena kekuatan ekonominya.

Orang kolang adalah Penghasil atau pengrajin gula merah yang sangat dikenal di NTT saat itu sehingga saking terkenalnya gula merah yang dihasilkan disebut dengan merek gola kolang.

Dari penjualan gola kolang dan hasil pertanian lainnya, orang kolang bisa menyekolahkan anak hingga ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Mereka inilah yang kemudian menjadi tokoh-tokoh penting dalam sejarah orang Manggarai.

"Potret Saat ini"

Lalu, bagaimana perkembangan orang Kolang dewasa ini? Setelah kemerdekan tepatnya sekitar tahun 1968, sistem kedaluan resmi dihapuskan di wilayah Manggarai dan wilayah kedaluan kolang di lebur bersama beberapa kedaluan lain menjadi wilayah kecamatan Kuwus.

Lalu setelah pembentukan Kabupaten Mangarai Barat, wilayah kolang ini menjadi
bagian dari dua kecamatan yakni kecamatan Kuwus dan Kuwus Barat.

Data BPS Manggarai Barat menyebutkan bahwa jumlah penduduk di dua kecamatan
ini pada tahun 2018 sebanyak 25.522 jiwa atau 10,14% dari total penduduk Manggarai Barat. Jika di kurangi beberapa desa di kecamatan Kuwus yang sedianya memang bukan merupakan wilayah Kolang, maka jumlah penduduknya menjadi sekitar 19.221 jiwa atau hanya 7,43% dari total penduduk Manggarai Barat.

Mirisnya dari jumlah itu, sebagian besarnya hanya berpendidikan sekolah dasar. Data Dinas Kependudukan Kabupaten Mangarai Barat tahun 2018 memperilihatkan bahwa tingkat pendidikan masyarakat Kolang di wilayah kedua kecamatan ini sebagian besar hanya menamatkan pendidikan SD (38,58 %) Hanya sekitar 5% yang berpendidikan SLTA dan
3,2% yang berpendidikan sarjana.

Namun demikian, gambaran ini sebenarnya merupakan potret umum tingkat pendidikan masyarakat kita di Kabupaten Mangarai Barat maupun NTT. Sehingga tidak heran Indeks Pembangunan Manusia (PM) kita juga tercatat cukup rendah.

BPS menyebutkan IPM Kabupaten Manggarai Barat pada tahun 2017 ada pada angka 61,65; jauh di bawah IPM Kota Kupang yang sudah mencapai 78.25 atau Kabupaten Ngada yang sudah mencapai 66,47.

Kontribusi terbesar dari masih rendahnya IPM kita itu adalah pada kenyataan masih
tingginya angka kemiskinan di daerah-daerah kita. Data yang dirilis BPS tahun 2018
menyebutkan bahwa jumlah penduduk miskin di Kabupaten Manggarai Barat pada tahun 2017 mencapai 18,86% dari total penduduk Manggarai Barat.

Bagian terbesar dari rumah tangga miskin ini ada di Kecamatan Macang Pacar dan Pacar (5.041 RT),dikuti Kecamatan Lembor (4.214 RT), dan Kecamatan Kuwus serta Kuwus Barat (4.195 RT).

Kondisi ini tentu berdampak pada banyak hal terutama di bidang pendidikan dan kesehatan. Data dari TNP2K menyebutkan tercatat 6,273 anak di Manggarai Barat yang akhirya tidak bersekolah karena kondisi ekonomi keluarga yang miskin.

Sebagian besar mereka berada pada usia 16-18 tahun (3.765 orang). Hal ini sejalan dengan data yang dikeluarkan oleh Dinas PKO yang menyebutkan bahwa angka partisipasi sekolah di tingkat SMA /SMK kita hanya mencapai 64,29%. Selain itu, angka buta huruf kita juga masih di angka 3,2% dari jumlah penduduk 15 tahun ke atas.

Di bidang kesehatan, BPS mencatat bahwa pada tahun 2017 kasus bayi kurang gizi di
Manggarai Barat mencapai 292 kasus dan gizi buruk 46 kasus. Dari jumlah itu,tertinggi 55 kasus terjadi di Kecamatan Macang Pacar di ikuti 47 kasus terjadi di wilayah Kecamatan
Kuwus dan Kuwus Barat.

Demikian halnya dengan kasus kematian bayi dan anak. BPS mencatat bahwa kasus kematian bayi di Manggarai Barat pada tahun 2017 mencapai 53 orang dan kematian anak mencapai I1 orang.

"Tantangan Politik"

Potret social ekonomi orang kolang di atas tentu tidak mewakili keseluruhan gambaran orang kolang di Indonesia. Sebagaimana digambarkan sebelumnya, ada begitu banyak orang kolang yang berhasil dalam berbagai hal di luar wilayah kedua kecamatan tersebut.

Namun demikian, potret ini tetap saja tidak menggembirakan kita karena melukiskan wajah kampong kita. Kenyataan ini memaksa kita untuk merefleksikan ulang peran yang telah kita mainkan di daerah ini lalu merencanakan strategi apa yang dapat kita lakukan ke depannya.

Kita harus sudah mulai berpikir bahwa dengan kemampuan dan kesadaran kolektif yang kita miliki, langkah strategis apa yang dapat kita perbuat agar kehidupan masyarakat dapat lebih baik?

Dalam pandangan saya, orang Kolang harus sudah berpikir untuk terlibat aktif dan terjun dalam perpolitikan daerah dengan menjadi pemimpin. Aristoteles pernah mengatakan bahwa politik pada hakikatnya adalah sarana untuk mewujudkan kebaikan bersama.

Melalui politik, kita dapat ikut terlibat dalam pengambilan kebijakan yang lebih berpihak pada masyarakat. Melalui politik, kita dapat memilih pemimpin yang tepat yang memiliki kemampuan dan jejak rekam yang baik.

Ada banyak contoh bagaimana dengan memilih pemimpin yang baik dapat menjadi solusi yang tepat untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat. Sebut saja Ibu Risma di Surabaya, Ridwan Kamil di Bandung dan sebagainya.

Orang kolang sebagaimana di gambarkan di bagian awal tulisan ini memiliki semua
sumber daya yang syaratkan untuk tampil, terlibat dan menjadi pemimpin.

Orang kolang memiliki sumber daya manusia yang mumpuni dalam berbagai bidang yang tentunya sia-sia jika tidak dimanfaatkan. Namun, semua itu baru bisa di wujudkan jika orang Kolang memiliki orang yang memiliki power yang dibutuhkan untuk bisa menata, mengorganisir dan memobilisasi sumber daya yang di miliki agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

"Pertanyaannya, how to get power?"

Saya berpandangan bahwa sudah saatnya orang Kolang secara bersama-sama mengedepankan kepentingannya dalam kontestasi pemilihan kepala daerah.

Harus ada satu orang yang diusung bersama-sama menjadi pemimpin daerah. Dia tentu saja harus orang yang berkompeten dan memiliki komitmen yang kuat untuk mengartikulasi kepentingan orang kolang.

Dalam sejarah perpolitikan di Indonesia khususnya dalam kontestasi pilkada,
penggunaan politik identitas seperti ini adalah hal yang lumrah, baik untuk mempertegas kepentingan kelompoknya maupun untuk meraih dukungan suara.

Ini semacam modal dasar untuk berkompetisi. Sehingga tak heran, pemilihan pasangan calon kepala daerah di manapun di Indonesia termasuk di Manggarai Barat senantiasa memperhitungkan kepentingan identitas ini.

Namun tidak hanya sampai di situ, politik identitas ini juga dipakai sebagai instrumen
untuk mendapat pengakuan dari kelompok dominan di tengah masyarakat.

David Brown mengatakan bahwa melalui politik identitas, kelompok identitas tertentu akan melakukan upaya untuk mendapat pengakuan serta upaya afirmasi atas kelompok mereka yang tersubordinasi di masyarakat.

Banyak fakta yang menunjukkan bahwa pemilihan jabatan dalam pemerintahan di daerah sangat ditentukan oleh dari mana asal sang pemimpin. Demikian pula pemilihan prioritas pembangunan sarat dengan kepentingan kelompok sang pemimpin.

Politik identitas ini pada hakikatnya dipakai sebagai sarana untuk menyeimbangkan agar jangan sampai kepentingan kelompok-kelompok subordinat termarginalkan oleh kepentingan kelompok dominan.

Berkaitan dengan kepentingan orang kolang dalam kontestasi ini, beberapa hal yang penting dilakukan antara lain:

1, Kita perlu mengembangkan semangat berkompetisi dengan kelompok atau komunitas lain untuk menggapai harapan kita. Orang kolang harus memiliki pendirian dan tidak mudah di rayu dan terjebak pada kepentingan sesaat.

2. Namun demikian, tentu kita juga harus realistis bahwa untuk menggapai semua itu Kita tidak bisa berjalan sendiri. Kita harus menjalin kerja sama dengan komunitas lain yang sejalan dengan komitmen kita.

Data dari dinas Kependudukan Manggarai Barat menyebutkan bahwa dengan asumsi bahwa wajib pilih adalah mereka yang berusia 17 tahun ke atas, maka jumlah wajib pilih orang kolang di dua kecamatan yang menjadi basis utama orang kolang hanya mencapai 12.683 orang. Ini tentu tidak mencukupi sehingga butuh dukungan suara dari komunitas lainnya.

3. Kita perlu terus menyadarkan warga masyarakat akan pentingnya politik dan memilih pemimpin yang baik. Potret perilaku para pemimpin yang korup selama ini memang
seakan menjudgment bahwa politik itu kotor, pemimpin politik itu sama saja, janji Politik itu hanya pemanis di bibir saja.

Bahkan ada yang beranggapan bahwa pemilukada tidak lebih dari ajang penghamburan uang. Anggapan yang tidak seluruhnya benar ini perlu terus kita kikis sehingga mereka akhirnya tidak apriori terhadap semangat kita untuk memperbaiki kondisi masyarakat.

Sebagai penutup, pesan saya kepada generasi muda kolang bahwa sudah saatnya miliki niat untuk ikut berpartisipasi demi bangsa ini. Mau tak mau regenerasi pemimpin politik akan segera terjadi, suatu saat giliran para kaum muda ini yang ikut serta dalam percaturan politik.

Untuk itu saya mengajak kaum muda koang untuk bisa mulai belajar dari lingkungan
terkecil dengan mulai berkarya dan semangat berkontribusi.

Jadilah pemimpin yang bisa membuat orang yang kamu pimpin bukanlah seorang bawahan kamu namun menjadi kerabatmu. Semoga Tuhan merestui niat baik kita. (Sumber: Facebook)

Editor: Jefry


Berita Terkait

Komentar