2019 Era Kebangkrutan Kaum Radikal

Kamis, 03 Januari 2019 | 14:39 WIB
Share Tweet Share

Penulis

"Dan ini semua tentang hati
Jadi coba pikir kembali
Janji tra mungkin sa ingkari
Karna alasan tra kabari.."

(sepenggal lirik lagu "Karna Su Sayang" ) 

Oleh Yon Lesek, S. Fil. 

[INDONESIAKORAN.COM] 2017 dan 2018. Dua tahun yang begitu berat telah dilewati bangsa Indonesia dengan penuh gejolak. Berat, karena dua tahun belakangan ini Indonesia diterjang berbagai aksi dan reaksi kaum radikal yang mamaksakan ideologi dan tindakannya untuk mengubah falsafah dan kehidupan bernegara bangsa ini. Berbagai cara telah dilakukan mereka untuk menghancurkan empat pilar bernegara kita, yakni Pancasila, UUD '45, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI.

Rencananya 2019 menjadi tahun puncak bergejolak. Apa lacur, rasanya 2019 menjadi titik balik. Radikalisme Indonesia telah mengalami demoralisasi karena telah membakar dirinya sendiri oleh karena ketololan kaumnya sendiri yang suka mempermainkan hati dan bikin banyak hati terluka. Aksi teror dan hoax yang bertujuan menciptakan ketakutan massal hingga bermuara pada #2019_ganti_presiden kini menciut dengan terbongkarnya kepalsuan demi kepalsuan.

Saya memastikan 2019 adalah tahun kebangkrutan kaum radikal. Mereka telah kehabisan amunisi yang dikendalikan oleh otak jongkoknya. Di sisi lain, tahun 2019 menjadi tahun kebangkitan generasi milenial yang cerdas bermain hati dan antihoax. Hal ini didukung pula oleh filsafat postmodernis yang menciptakan generasi post-truth, yang mana kebenaran menjadi relatif dan realitas sangat ditentukan oleh hati yang damai, nyaman, aman, dan penuh tenggang rasa melampau batas identitas agama dan kultural. Segala bentuk aksi dan reaksi yang mengganggu kenyamanan hati akan dipandang hina dan tidak diakrabi.

"Sehati Kita Bisa" menjadi moto generasi milenial itu. Siapa yang pandai memenangkan hati, dia akan menjadi pemenangnya.

Mengapa mesti hati?

Menyusuri kembali perkembangan pemikiran manusia dari zaman arkhais hingga zaman postmodernis ini kita mencatat perkembangan filsafat mulai dari kosmosentris hingga bersinergi pada hatisentris.

Pada zaman purba, alam menjadi pusat segala sesuatu. Alam diakui memiliki kekuatan yang menjadi asal dan tujuan akhir segala sesuatu. Dari debu tanah kembali menjadi debu tanah. Ada api yang menghanguskan, ada air yang memadamkan dan ada udara yang memediasi setiap perjumpaan kekuatan arkhais itu hingga bernyawa dan bertenaga. Tanah, air, api, dan udara adalah kekuatan semesta yang dipuji dan disembah. Jika hujan tak pernah turun, misalnya, diadakan upacara adat khusus untuk memanggil hujan. Demikian juga ketika mata air mengering, diadakan sesembahan berupa pengorbanan darah kurban di sekitar mata air.

Pada zaman pertengahan, ketika agama wahyu menguat terutama dengan berkembang pesatnya kekristenan, pemikiran pun ikut bergeser dari kosmosentris menjadi theosentris. Tuhan menjadi pusat. Tuhan adalah awal dan akhir. Segala sesuatu tunduk dan takluk di bawah kekuasaan-Nya.

Maka Kitab Suci menjadi sumber utama yang tak boleh dibantah dan orang yang memiliki otoritas agama menjadi sosok yang perkasa dan selalu benar. Ketika Kitab Suci melukiskan bumi itu datar, maka semua orang mengamini itu tanpa argumentasi lain. Jadilah Galileo Galilei sebagai korban terbesar rezim theosentris kala ia dengan pengetahuan ilmiahnya mengatakan bumi itu bulat, ia dihukum dengan dikucilkan (ekskomunikasi) sampai mati.

***

Sedikit tentang Galileo Galilei dari Wikipedia. org. Ia dikenal sebagai seorang pendukung heliosentrisnya  Copernicus, mengenai peredaran bumi mengelilingi matahari dan matahari sebagai sistem tata surya.

Akibat pandangannya yang disebut itu ia dianggap melenceng dari keyakinan yang selama ini dianut oleh masyarakat maupun gereja saat itu, dan diajukan ke pengadilan gereja Italia pada 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan ajaran Aristoteles maupun keyakinan gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Ia dihukum dengan pengucilan (tahanan rumah) sampai meninggalnya. Baru pada tahun 1992 Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan penghukuman itu adalah salah, dan dalam pidato 21 Desember 2008 Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa Gereja Katolik Roma merehabilitasi namanya sebagai ilmuwan.

Menurut Stephen Hawking, Galileo dapat dianggap sebagai penyumbang terbesar bagi dunia sains modern. Hasil usahanya bisa dikatakan sebagai terobosan besar dari Aristoteles. Konfliknya dengan Gereja Katolik Roma (Peristiwa Galileo) adalah sebuah contoh awal konflik antara otoritas agama dengan kebebasan berpikir (terutama dalam sains) pada masyarakat Barat.

***

Tapi namanya cahaya kebenaran tidak bisa dipadamkan oleh kekuatan apa pun. Kesadaran kritis terus mencuat hingga orang lalu sadar ketika dia berpikir dia ada. "Cogito ergo sum" yang dicetus Rene Descartes menjadi titik awal filsafat modern yang berpusat pada manusia. Lahirlah pemikiran anthroposentris dengan kesadaran manusia sebagai subjek dimana aku/ego menjadi pusat segala sesuatu.

Segala sesuatu di luar subjek dianggap nirmakna. Manusialah yang memberi makna segala sesuatu dan segala sesuatu yang ada terlempar di dalam samudera makna yang terberi itu.

Otak manusia menjadi semcam dewa. Bahkan dengan otaknya yang cenderung spekulatif dan manipulatif manusia menjadi Tuhan bagi ciptaan yang lain, yang mempunyai kekuatan dan kuasa untuk menghidupkan dan mematikan. Eksplorasi dan eksploitasi atas alam pun menjadi tak terbendung hingga ekosistem jadi timpang dan kosmos terancam jadi kaos.

Isu ekologi pun kian menguat di hadapan realitas kosmos yang semakin tak bersahabat dan rawan punah. Pemikiran manusia kemudian bergerak perlahan dari mengandalkan kekuatan otak menuju kekuatan hati yang merangkul segala kebenaran, keindahan, dan kebaikan menjadi harmoni. Hati lalu menjadi parameter segalanya, pusat pertimbangan manusia tentang kebenaran, keindahan dan kebaikan. Lantas begitu banyak hati yang terlibat, begitu banyak pertimbangan hati yang bermain sehingga kebenaran, kebaikan, dan keindahan pun menjadi relatif.

Inilah zaman postmodern, zaman di mana segala sesuatu menjadi relatif bagi yang lain karena tergantung hati untuk memahaminya. Kesadaran seperti ini kian menguat di zaman milenial ini di mana setiap orang adalah penjaga hatinya bagi yang lain. Keterbukaan dan toleransi jauh lebih mungkin bertumbuh dan menguat ketika hati dibiarkan mengerti dan memahami kebenaran, keindahan, dan kebaikan. Ini segi positifnya. Tetapi segi negatifnya, orang akan mudah berpindah ke lain hati tergantung ke mana nyaman hatinya membawa pergi. Dalam hal pilihan beragama hal ini berlaku, pun pula dalam hal pilihan politik. Jangan dibilang kutu loncat karena ini soal hati.

Sampai pada tahap ini hati menjadi pusat baru yang merangkul kosmos, Tuhan, dan rasionalitas individualistik (ego) manusia hingga menjadi sebuah symponi yang harmoni. Apa pun yang membuat disharmoni akan dijauhkan.

Kekuatan baru pun muncul ketika bisa mempersatukan banyak hati. Sehati kita bisa menjadi moto kemenangan era milenial sekaligus adagium yang mengubur radikalisme yang menciptakan ketakutan dengan teror dan hoax, baik fisik maupun non fisik, baik nyata maupun abstrak, baik fakta maupun fiksi.

2019 adalah tahunnya generasi milenial mengubur mimpi kaum radikal dan menjadikannya tahun titik balik menuju kebangkrutan radikalisme yang bertolak belakang dengan hati yang menghendaki harmoni semesta. Siapa yang memakai hatinya merebut hati generasi milenial, dialah pemenangnya di tahun 2019.

Gambaran pemikiran generasi milenial ini dapat kita baca dalam lirik lagu Near yang lagi viral dinyanyikan bersama Dian Sorowea berjudul "Karna Su Sayang". Banyak penyanyi seperti Via Vallen dan Boy William meng-cover lagu tersebut. Lagu yang menggunakan bahasa Indonesia Timur ini bercerita tentang seseorang yang begitu sangat setia pada pasangannya. Ia berjanji takkan mendua hati dan ia selalu menjaga cinta tulusnya tersebut. Saya mengutip sepenggal lirik lagu "Karna Su Sayang" - Near Feat. Dian Sorowea, berikut ini:

"Biasa sa cinta satu sa pinta
Jang terlalu mengekang rasa
Karna kalau sa su bilang
Sa trakan berpindah karna su sayang

Jangan kau berulah sa trakan mendua
Cukup jaga hati biar tambah cinta
Karna kalau sa su bilang
Sa trakan berpindah karna su sayang

Dan ini semua tentang hati
Jadi coba pikir kembali
Janji tra mungkin sa ingkari
Karna alasan tra kabari.."
dst.

Artinya:

"Biasa kucinta satu kupinta
Jangan terlalu mengekang rasa
Karna kalau aku sudah bilang
Ku takkan berpindah karna aku sudah sayang

Jangan kau berulah ku takkan mendua
Cukup jaga hati biar tambah cinta
Karna kalau aku sudah bilang
Ku takkan berpindah karna aku sudah sayang

Dan ini semua tentang hati
Jadi coba pikir kembali
Janji tak mungkin kuingkari
Karna alasan tak kabari... "
dst.

Untuk paslon Presiden 2019 dan juga para caleg yang sedang bermain hati merebut suara, ingatlah akan hal ini: Pandai-pandailah bermain hati jangan bikin makan hati apalagi buat sesuka hati yang bisa melukai banyak hati anak milenial.

#Sehati_Kita_Bisa

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar