Teror, Bahasa Terakhir dari Tekad dan Nekad Jadi Presiden

Senin, 05 November 2018 | 18:46 WIB
Share Tweet Share

Penulis

Oleh Yon Lesek

April 2019 tak terasa  kian menjelang. Rakyat Indonesia menentukan pilihannya, Prabowo ataukah Jokowi yang akan jadi presiden nanti. Keduanya punya tekad. Namun, tekad saja tidak cukup. Perlu nekad juga.

Sekelebat tampaknya salah satu kubu lebih nekad rupanya sejauh bisa disimak dari sepak terjang mereka yang penuh antusiasme untuk tidak disebut ambisius menjadi orang nomor satu di NKRI ini.

Tekad adalah keinginan yang sangat tinggi dan kuat dengan dilandasi alasan yang sangat kuat untuk mencapai suatu tujuan. Namun seiring dengan perjalanan di ujung tahun ini melihat angka survei yang beredar, prosentase elektabilitas salah satu pasangan cenderung menurun dibanding rivalnya. Tentu saja suatu angka survei yang menyakitkan. Apakah masih punya tekad untuk terus bertarung?

Orang ambisius biasanya tak pernah surut tekadnya. Tetapi rupanya dalam keadaan terjepit dan terjerembab, tekad saja tidak cukup. Yang  dibutuhkan sekarang adalah “Nekad”.

Nekad di sini adalah tindakan yang dilakukan tanpa pikir panjang, namun biasanya dilandasi alasan yang sangat kuat untuk mewujudkan tekadnya menjadi presiden.  Maka, apa pun bisa dilakukan demi mencapai tujuannya. Dalam keadaan tertekan seperti ini, orang ambisius tidak pikir panjang akan menghalalkan segala cara, termasuk 'main kasar', yang penting goal. Artinya, kalau kita temukan ada permainan kasar dilakukan, sudah bisa ditaksir pelakunya pasti orang nekad. Sebab jika tidak demikian maka  tekadnya akan hanya ada di angan-angan saja.

Empat kali berjibaku menjadi calon tetap dalam konstestasi ini, salah satu kubu tampak kian serius mempersiapkan diri sebagai pemenang. Itu sudah tekadnya yang terakhir. Maka apa pun nekad dilakukannya agar tekad satu-satunya dan mungkin yang terakhir kali ini bisa terwujud.

Namun, karena terlalu nekad maka tidak pikir panjang sehingga sering kali blunder dan melakukan goal bunuh diri. Alih-alih menjatuhkan diri di medan laga lawan biar dihadiahi tendangan penalti, malah gawang sendiri kebobolan hanya dengan sebuah tendangan jarak jauh. Si Ratu Hoax yang digadang-gadang jadi ujung tombak  yang bisa diandalkan malah tumbang dan masuk kandang; orang Boyolali yang hendak dijadikan suporter pun malah 'unjuk tampang' menyoraki balik.

Pelatih senior untuk tidak dibilang gaek diturunkan malah ompong. Pemain bayaran didatangkan malah tersandung imigrasi karena jadi buronan. Pasukan 212 yang jadi cadangan terpecah belah, malah terpukul isu kuda impor diminta ganti kuda lokal bikin gerakan makin sonto loyo saja.

Teror, Bahasa Orang Kalah

Masihkah punya tekad dan nekad untuk terus bertarung? Jangan ragu lagi. Tidak ada pilihan lain. Bertarung satu-satunya pilihan. Ini tidak main-main. Tim yang merasa ketinggalan skor akan terpacu aidréanailínnya untuk meningkatkan serangan yang bisa meneror lawan hingga mematikan. Seorang yang merasa sudah kalah tidak akan membiarkan permainan berakhir dengan nyaman. Ini sudah merupakan psikologi orang kalah.

Meminjam pendapat seorang psikolog Prof. DR. Koentjoro bin Soeparno, teror adalah cara orang kalah bereksistensi. "Meski diakui bahwa terorisme merupakan bagian dari psy-war, namun terorisme adalah tindakan orang kalah," demikian tulis Dr. Koentjoro dalam jurnalnya berjudul "Radikalisme Islam dan Perilaku Orang Kalah  dalam Perspektif Psikologi Sosial.

Dikatakannya bahwa terorisme berbeda dengan radikalisme dan
militanisme. Teror memiliki dua sifat: 1) Terror for production of fear, teror ini bersifat murni dan didesain untuk menimbulkan rasa takut. 2) Terror by siege, bersifat kontra teror, dengan sengaja menciptakan suasana mencekam untuk menimbulkan situasi berjaga-jaga.

"Meski perilakunya adalah sama, namun dalam hal makna ia berbeda", lanjut Professor Pelawat Pusat Pengajian Psikologi dan Pembangunan Manusia, Universiti Kebangsaan Malaysia ini, "sebab radikalisme dan militanisme tidak selalu ditempuh melalui terorisme. Terorisme menurut kami adalah bahasanya orang kalah. Teror adalah alternatif terakhir dari sebuah perjuangan."

Kembali kepada situasi dan kondisi lapangan kontestasi Indonesia jelang April 2019. Mari kita sama-sama menjaga iklim demokrasi kita ini, khususnya di sekitar Pilpres 2019, dari berbagai radikalisme dan isu teror sebagai pilihan terakhir yang bisa saja dimainkan kubu yang merasa diri kalah. Karena terorisme adalah bahasanya orang kalah.

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar