Sesat Logika dan Gagal Paham di Pilgub NTT 2018

Kamis, 05 April 2018 | 14:04 WIB
Share Tweet Share

Penulis

Penulis: Yon Lesek

"Kesalahan tetaplah kelam dan laknat walau sejuta lilin dinyalakan. Tetapi, kebenaran harus ditegakkan sekalipun langit runtuh." ***

Trauma, sesat pikir dan akhirnya gagal paham. Tiga hal ini  amat dahsyat dampak kehancurannya. Pertama-tama orang dibuat takut, terutama takut akan ketidakpastian yang akan terjadi. Lantas akhirnya malas mikir,  pasrah, lalu cari gampang memilih yang pasti padahal palsu.

Menciptakan trauma menjadi sasaran bidikan lawan dengan peluru-peluru siluman yang membangkitkan luka masa lalu sekadar untuk meneror dan menciptakan ketakutan.   Dalam keadaan takut seseorang mudah kalut.  Mudah pula digiring dengan harapan palsu.

Persis di sinilah hoax atau fake news menemukan lahan basah.  Hoax (kabar bohong)  atau fake news (berita palsu) mendapatkan momentum untuk bekerja efektif menebarkan racun yang mematikan nalar. Dengan itu pula kebenaran mudah dijungkirbalikkan hingga membuat orang sesat logika oleh permainan logika sesat atau fallacy (fallacia). Dengan pola ini banyak orang bisa dibuatnya gagal paham dan menganut paham yang gagal.

Apa yang sedang terjadi kini di tahun demokrasi ini memberitahu kita tentang kenyataan ini. Juga NTT tidak luput dari racun mematikan itu. Menjelang pilgub NTT pada 27 Juni 2018  ini,  berseliweran permainan persepsi yang mencekam rasa dan nalar dengan logika sesat yang membuat banyak orang sesat pikir dan gagal paham.

Tentang hal ini saya coba memperlihatkan kepada Anda bagaimana sesat logika atau fallacy yang menghantui NTT saat ini lewat retorika dan permainan persepsi para politisi dan timses. Untuk itu saya harus berterima kasih pada Ahmad Yulden Erwin,  yang tulisannya tentang "sesat pikir dalam logika"  saya jadikan rujukan penjelasan ini.

Fallacy dan Paralogisme

Falacia atau Fallacy berasal dari bahasa Yunani dan Latin yang berarti ‘sesat pikir’. Fallacy didefinisikan secara akademis sebagai kerancuan pikir yang diakibatkan oleh ketidakdisiplinan pelaku nalar dalam menyusun data dan konsep, secara sengaja maupun tidak sengaja. Hal ini juga bisa diterjemahkan dalam bahasa sederhana dengan berpikir ‘ngawur’.

Ada dua pelaku fallacy yang terkenal dalam sejarah filsafat, yaitu mereka yang menganut Sofisme dan Paralogisme. Mereka melakukan sesat pikir dengan cara sengaja menyesatkan orang lain, padahal si pengemuka pendapat yang diserang tidak sesat pikir. Disebut demikian karena yang pertama-tama mempraktekkannya adalah kaum sofis, nama suatu kelompok cendekiawan yang mahir berpidato pada zaman Yunani kuno.

Mereka selalu berusaha memengaruhi khalayak ramai dengan argumentasi-argumentasi yang menyesatkan yang disampaikan melalui pidato-pidato mereka agar terkesan kehebatan mereka sebagai orator-orator ulung. Umumnya yang sengaja ber-fallacy adalah orang menyimpan tendensi pribadi dan lainnya.

Sedangkan yang berpikir ngawur tanpa menyadarinya adalah orang yang tidak menyadari kekurangan dirinya atau kurang bertanggungjawab terhadap setiap pendapat yang dikemukakannya atau biasa disebut dengan istilah paralogisme.

Paralogisme adalah pelaku sesat pikir yang tidak menyadari akan sesat pikir yang dilakukannya. Maka ulahnya menciptakan kekeliruan. Keliru artinya saya tidak tahu bahwa saya tidak tahu; ketika saya tahu bahwa saya tidak tahu baru saya tahu saya salah. Paralogisme seringkali disebabkan oleh ignorantia,  kekurangan pengetahuan. Di sini keterbukaan dan pencerahan menjadi penting.

Fallacy lebih berbahaya daripada paralogisme karena pelakunya sadar akan keaesatan yang disebabkannya untuk memenangkan tujuan-tujuannya. Fallacy itu sangat efektif dan manjur untuk melakukan sejumlah aksi tak bermoral, seperti mengubah opini publik, memutar balik fakta, pembodohan publik, provokasi sektarian, pembunuhan karakter, memecah belah, menghindari jerat hukum, dan meraih kekuasaan dengan janji palsu.

Macam-macam Sesat Pikir (Fallacy)

Dalam sejarah perkembangan logika terdapat berbagai macam tipe kesesatan dalam penalaran. Secara sederhana kesesatan berpikir dapat dibedakan dalam dua kategori, yaitu kesesatan formal dan kesesatan material.

Kesesatan formal adalah kesesatan yang dilakukan karena bentuk (forma) penalaran yang tidak tepat atau tidak sahih. Kesesatan ini terjadi karena pelanggaran terhadap prinsip-prinsip logika mengenai term dan proposisi dalam suatu argumen (hukum-hukum silogisme).

Kesesatan material adalah kesesatan yang terutama menyangkut isi (materi) penalaran. Kesesatan ini dapat terjadi karena faktor bahasa (kesesatan bahasa) yang menyebabkan kekeliruan dalam menarik kesimpulan, dan juga dapat teriadi karena memang tidak adanya hubungan logis atau relevansi antara premis dan kesimpulannya (kesesatan relevansi).

Beberapa jenis fallacy dari jenis “Kesesatan Relevansi” (Kesesatan Material) yang sering dilakukan oleh kaum sofis sejak masa Yunani kuno,  yakni: Fallacy of Dramatic Instance, Argumentum ad Hominem (Tipe  Abuse dan  Sirkumstansial),  Argumentum Auctoritatis,  Kesesatan Non Causa Pro Causa,  Argumentum ad Baculum,  Argumentum ad Misericordiam, dan Argumentum ad Ignorantiam.

Sesat Pikir Seputar Pilgub NTT

Mengamati permainan persepsi dan opini menjelang Pilgub NTT 2018 ini bisa ditemukan banyak logika sesat atau fallacy tersebut yang sengaja dimainkan untuk menciptakan trauma,  sesat logika dan gagal paham yang membuat kita stagnan dan gagal move on.

Mari kita simak satu per satu logika sesat tersebut dan saya akan mengambil satu dua logika sesat yang sedang beredar di NTT saat ini sebagai contoh real untuk kita insaf dan sadar.

1. Fallacy of Dramatic Instance, yaitu kecenderungan untuk melakukan analisa masalah sosial dengan menggunakan satu-dua kasus saja untuk mendukung argumen yang bersifat general atau umum (over generalisation).

Contoh: “Semua yang mendukung FPI menuntut Kapolri Jenderal Tito Karnavian mencopot Kapolda Jawa Barat, Irjen Pol. Anton Charliyan terkait keterlibatannya sebagai pembina GMBI. Seperti diketahui,  FPI dan GMBI memang tengah berkonflik saat itu (Januari 2017) . Dan salah satu anggota DPR RI Komisi III saat itu ikut mendesak Kapolri meminta klarifikasi.  Kebetulan anggota DPR RI tersebut juga digadang-gadang sebagai calon Gubernur NTT.  Maka,  disebarlah persepsi bahwa sang cagub tersebut sehati dengan FPI.

Pembuktian Sesat Pikir: Benar bahwa FPI menuntut Kapolda Jabar tersebut untuk dicopot dengan alasan yang masuk akal.  Saya juga dengan alasan yang masuk akal bahwa Kapolda harus diminta klarifikasinya soal keterlibatan dia sebagai pembina salah satu ormas,  yang seharusnya netral. Tetapi saya bukan anggota FPI,  bukan pula pendukung FPI.  Bahkan aksi yang melanggar hukum oleh FPI saya tolak dengan keras.  Mendukung dalam satu kasus yang memang saya yakini benar, itu yang saya lakukan,  bukan mendukung buta semua aksi FPI.

Demikian juga halnya dilakukan oleh sang cagub tersebut,  tidak serta merta menggeneralisasi sebagai sehati dengan FPI dalam arti total. Sama halnya ketika kita membela satu perbuatan baik yang dilakukan oleh seorang penjahat tidak serta merta dipersepsikan membela kejahatan.

2. Argumentum ad Hominem Tipe I (Abuse): Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika argumentasi yang diajukan tidak tertuju pada persoalan yang sesungguhnya, tetapi justru menyerang pribadi yang menjadi lawan bicara.

Contoh: Saya tidak ingin berdiskusi dengan Anda tentang persoalan NTT karena Anda selama ini berada di Jakarta,  tidak tinggal di NTT dan tidak tahu apa-apa persoalan NTT.

Pembuktian Kesesatan Berpikir: Argumen Anda menjadi benar, bukan dengan membodohi atau menganggap orang lain di luar NTT tidak tahu apa-apa, tetapi karena argumen Anda disusun berdasarkan kaidah logika yang benar dan bukti-bukti atau teori yang telah diakui kebenarannya secara ilmiah. Bisa saja orang yang ada di luar sana tahu lebih baik dari kita yang ada di dalam sini. Tapi apa pun itu,  jarak dan waktu tidak bisa menyekap dan menyekat kebenaran.

3. Argumentum ad Hominem Tipe II (Sirkumstansial): Sedikit berbeda dari argumentum ad hominem tipe I, maka sesat pikir tipe II ini menyerang pribadi lawan bicara sehubungan dengan keyakinan seseorang dan atau lingkungan hidup dan gendernya, seperti: kepentingan kelompok atau bukan kelompok, partai,  dan hal-hal yang berkaitan dengan SARA.

Contoh: “Saya tidak setuju dengan apa yang dikatakan olehnya terkait Ahok dan Jokowi, karena ia bukan dari Partai pengusung Ahok dan Jokowi.”  Ini sesat logika yang infantil.

Pembuktian Kesesatan Berpikir: Ketidaksetujuan bukan karena hasil penalaran dari argumentasi yang logis, tetapi karena lawan bicara berbeda partai politik. Logika seperti ini acapkali melanggengkan pemisahan di antara kita dengan alasan SARA. Ketika seorang Muslim mengkritik temannya yang Katolik karena perilakunya menyimpang dari ajaran Katolik,  kita tidak bisa serta merta menganggapnya tidak benar hanya karena dia Muslim.  Ingat,  kebenaran itu satu,  tetapi percikannya ada di mana-mana.

Sesat logika yang sama juga dengan kalimat agitasi di Pilgub NTT 2018 ini beredar: "Jangan pilih Gubernur yang diusung Partai Intoleran seperti Gerindra,  PAN, PKS, Demokrat."  Isu ini sempat viral melalui pernyataan seorang pejabat di sebuah forum yang kemudian videonya menyebar ke mana mana sampai sang pejabat itu tersandung laporan ke kepolisian oleh partai yang merasa dirugikan.

Kalo benar ada partai yang intoleran maka sudah pasti tidak ada tempatnya di negeri ini yang dilandasi empat pilar bernegara,  yakni Pancasila,  UUD'45,  NKRI,  dan pandangan Kebhinekaan sebagai fakta sosial yang diterima umum. Keempat partai tersebut adalah partai yang sah dan resmi menjadi partai pengusung yang berdiri di atas empat pilar negara tadi.

Belum lagi jika memantau beberapa kolaisi partai Pilgub di daerah lain,  partai-partai berkoalisi random dan lentur.  Seperti di Pilgub Jawa Timur,  PDIP,  Gerinda dan Pan bisa berkoalisi mesra mengusung satu paslon. So what, gitu?

Begitu juga halnya ketika ada perempuan yang maju sebagai kandidat pemimpin,  langsung dikaitkan dengan isu emansipasi perempuan.  Atau ada kandidat yang tekun beragama Islam,  Protestan,  Katolik, lantas diisukan akan agamis,  jujur, bersih dan bermoral. Itu tidak identik dan simetris karena orang yang tidak tekun beragama pun bisa lebih suci dari mereka dan seorang pria pun bisa sangat emansipatoris dari perempuan.

4. Argumentum Auctoritatis: Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika nilai penalaran ditentukan semata oleh keahlian atau kewibawaan orang yang mengemukakannya. Jadi suatu gagasan diterima sebagai gagasan yang benar hanya karena gagasan tersebut dikemukakan oleh seorang yang sudah terkenal karena keahliannya.

Contoh: “Saya meyakini bahwa NTT akan suskses dan sejahtera melalui pengembangan dan pengelolaan sektor Pariwisata oleh salah seorang cagub NTT karena ia seorang  Doktor pariwisata.”

Pembuktian Sesat Pikir: Kebenaran suatu pendapat bukan tergantung pada siapa yang mengucapkannya, meski ia seorang doktor,  guru besar,  atau pejabat tinggi, tetapi karena ketepatan silogisme yang digunakan berdasarkan aturan logika tertentu dan atau berdasarkan verifikasi terhadap fakta atau teori ilmiah yang ada. Banyak profesional juga ngawur kok.

5. Kesesatan Non Causa Pro Causa (Post Hoc Ergo Propter Hoc): Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika terjadi kekeliruan penarikan kesimpulan berdasarkan sebab-akibat. Orang yang mengalami sesat pikir jenis ini biasanya keliru menganggap satu sebab sebagai penyebab sesungguhnya suatu kejadian berdasarkan dua peristiwa yang terjadi secara berurutan. Orang lalu cenderung berkesimpulan bahwa peristiwa pertama merupakan penyebab bagi peristiwa kedua, atau peristiwa kedua adalah akibat dari peristiwa pertama–padahal urutan waktu saja tidak dengan sendirinya menunjukkan hubungan sebab-akibat.

Contoh: Jokowi nyapres dengan nomor urut dua dan menang,  maka Anda meyakini bahwa cagub NTT bernomor urut  dua akan menjadi Gubernur NTT.

Atau contoh lain: membuat surat untuk seseorang yang anda cintai dengan menggunakan pulpen A, dan ternyata cinta Anda diterima. Kemudian pulpen A itu anda gunakan untuk ujian, dan Anda lulus. “Ini bukan sembarang pulpen!” kata anda. “Pulpen ini mengandung keberuntungan.”

Pembuktian Sesat Pikir: Cinta Anda diterima oleh sebab orang yang Anda cintai juga menerima cinta Anda, bukan karena pena yang Anda gunakanuntuk menulis surat cinta. Anda menang atau kalah bukan karena lulus ujian, bukan karena pena yang Anda gunakan mengandung keberuntungan, tetapi karena Anda menguasai dengan baik materi yang diujikan dan dapat menjawab dengan benar sebagian besar materi ujian dengan tepat waktu.

Begitu juga halnya Ahok dan Jokowi menang bukan karena mendapat nomor urut 2, tetapi karena Ahok dan Jokowi kena di hati rakyat dan punya daya magis atau sesuatu yang bisa dipercaya untuk dipilih.

6. Argumentum ad Baculum: Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika argumen yang diajukan berupa ancaman dan desakan terhadap lawan bicara agar menerima suatu konklusi tertentu, dengan alasan bahwa jika menolak akan berdampak negatif terhadap dirinya. Logika sesat jenis ini terbukti berhasil dimainkan di Pilgub DKI 2017 silam,  dengan ancaman mayat,  ayat, dan surga.

Contoh: “Jika Anda tidak mengakui kebenaran apa yang saya katakan, maka Anda akan terkena azab Tuhan. Karena yang saya ungkapkan ini bersumber dari ayat-ayat suci dari agama yang kita yakini.”

Logika sesat inilah juga yang dimainkan kaum Farisi dan Ulama Yahudi di depan pengadilan Pilatus dua ribu tahun silam: "Jika Anda membebaskan Yesus maka Anda bukan sahabat Kaisar." Yesus pun akhirnya diserahkan untuk dihukum mati oleh pengadilan Pilatus walau tidak ada kesalahan pun ditemukan sebagai alasan menjatuhkan hukuman mati itu.

Pembuktian Sesat Pikir: Tuhan tidak mengazab seseorang hanya karena orang itu tidak menyetujui pendapat Anda atau tafsir Anda terhadap ayat-ayat kitab suci. Banyak kali kebenaran ditabrak demi kekuasaan,  harta,  dan wanita.

7. Argumentum ad Misericordiam: Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika argumen sengaja diarahkan untuk membangkitkan rasa belas kasihan lawan bicara dengan tujuan untuk memperoleh pengampunan atau keinginan tertentu.

Contoh: “Hukuman mati terhadap pengedar narkoba itu harus dilakukan, karena alangkah sedihnya perasaan mereka yang keluarganya menjadi korban narkoba. Betapa beratnya hidup yang harus ditanggung oleh keluarga korban narkoba untuk menyembuhkan dan merawat korban narkoba, belum lagi bila keluarga mereka yang kecanduan narkoba itu meninggal. Betapa hancur hati mereka. Karena itu hukuman mati bagi pengedar narkoba itu adalah hukuman yang sudah semestinya.”

Pembuktian Sesat Pikir: Hukuman mati bagi penjahat narkoba itu tidak dijatuhkan berdasarkan penderitaan keluarga korban, tetapi karena pelaku tersebut terbukti melanggar perundangan-undangan yang berlaku di dalam satu proses pengadilan yang sah, bersih, dan adil.

Demikianpun halnya saat ini sebagian orang mendesak KPK  untuk tidak melakukan OTT pada para pejabat yang sedang berlaga dalam kontestasi Pilkada karena mempertimbangkan besarnya biaya dan upaya yang dikeluarkan para kandidat tersebut jelang pemilu. 

Ini nyata terjadi di NTT saat ini, ketika Marianus Sae (MS) diciduk KPK sehari sebelum penetapan resmi kandidat Gubernur NTT 2018. Argumentasi sesat pun dibangun dengan rasa kasihan bahwasanya gara-gara OTT KPK ini MS  tidak bisa lagi ikut kampanye dan debat publik.  Hanya wakilnya saja berjuang sendiri.  Timpang rasanya dan tidak adil. Jargon kampanye yang bikin meler kayak opium pun didengungkan: You never walk alone!

Kita tidak bisa mendasari keputusan berdasarkan rasa kasihan semata. Jika salah katakan salah,  jika benar katakan benar.  Kesalahan tetaplah kelam dan laknat walau sejuta lilin dinyalakan. Tetapi, kebenaran harus ditegakkan sekalipun langit runtuh.

8. Argumentum ad Ignorantiam: Ini adalah jenis sesat pikir yang terjadi ketika seseorang memastikan bahwa sesuatu itu tidak ada oleh sebab kita tidak mengetahui apa pun juga mengenai sesuatu itu atau karena belum menemukannya.

Contoh: “Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu tak ada gunanya, karena sampai sekarang korupsi masih terus terjadi.”

Pembuktian Sesat Pikir: KPK dibutuhkan bukan ketika korupsi sudah berhasil diberantas, tetapi justru saat korupsi masih merajalela di tingkat aparat penegak hukum lainnya (mafia peradilan), aparat birokrasi, dan pejabat politik.

Tentu masih banyak contoh sesat logika lainnya yang beredar luas selama ini,  baik di jagat maya maupun di jagat nyata. Bagaimanapun canti dibungkus dan dikemas apik, semua itu tetap tidak elok karena dibangun oleh argumentasi yang sesat nalar,  fallacy.

Mari bebaskan NTT dari permainan sesat logika ini agar rakyat NTT dapat memilih pemimpinnya yang tepat. Pesta demokrasi harus dimaknai sebagai momentum pendidikan politik yang beralaskan kebajikan politik,  yakni bonum (kebaikan), verum (kebenaran) dan pulchrum (keindahan,  elok,  etis dan bermoral).

Editor: Elnoy


Berita Terkait

KOLUMNIS

Berimanlah Pakai FAITH

Sabtu, 03 Juni 2017

Komentar