Gunakan Hati Nurani Menjaga Pilkada 2018 Yang “Fair Play”

Jumat, 12 Januari 2018 | 10:17 WIB
Share Tweet Share

Direktur Eksekutif SDR, Hari Purwanto

Pelaksanaan Pilkada 2018 serentak yang akan berlangsung di 171 daerah perlu diawasi dan dicermati secara saksama oleh para pemimpin bangsa ini. Pelaksanaan pilkada serentak, hendaknya tidak ada prasangka terhadap pemerintahan dan penyelenggara pilkada. Berikan amanah dan dukungan seluas-luasnya kepada mereka untuk kesuksesan pilkada 2018 serentak mendatang.

Dinamika politik dan hukum belakangan ini menyita perhatian banyak orang, tidak hanya masyarakat Indonesia, tapi juga dunia. Ada kelompok-kelompok yang terus melakukan manuver politik dengan berbagai cara guna mempengaruhi pemilih secara nasional.

Pendidikan politik yang sehat itu adalah mencerdaskan, memberikan kesejukan dan pemahaman yang luas, bukan berkobar-kobar menyebarkan kebencian serta kemarahan, dengan berbagai isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang cerdas dan dewasa. Masyarakat yang cerdas itu bertindak secara konstitusional, bukan emosional, dan tidak mudah terprovokasi.

Pemilihan kepala daerah merupakan bagian dari suksesi kepememimpinan, bukan perebutan kekuasaan. Aturannya sudah jelas dalam peraturan perundang-undangan, disinilah arti penting pemahaman empat pilar untuk menjaga kerukunan. Empat pilar tersebut adalah Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika.

Masyarakat menggunakan hak pilihnya dalam pilkada serentak sesuai hati nurani, bukan berdasarkan paksaan, termasuk memilih bukan karena uang.

Politik sejatinya merupakan alat untuk mencapai tujuan bersama. Dua fungsi pokok dari politik adalah menegakkan keindonesiaan dan mengelola tatanan kehidupan di dunia. Dengan begitu, berpolitik harusnya tetap memperhatikan bahkan harus tunduk pada koridor hukum yang sudah digariskan. Untuk mencapai definisi ideal ini, maka para bakal calon, atau nantinya menjadi calon, dan para pendukungnya harus merubah mental mereka.

Kemenangan mesti diposisikan sebagai dampak dari usaha mereka, bukan tujuan. Yang dicari semestinya adalah siapa yang amanah, adil, cerdas, dan pantas atau layak menjadi kepala daerah. Dengan begitu, tidak menjadi persoalan siapapun yang akan menang. Kita hanya perlu proses demokrasi itu berjalan dengan baik. Dari proses yang baik itulah akan terpilih orang yang memang sepantasnya menang nantinya. Selanjutnya, jika semula Pilkada bagi kita adalah memilih yang besar peluang menangnya, sekarang paradigma itu harus diubah. Kita semestinya memilih orang yang pantas berdasarkan standar tertentu.

Mari gunakan HATI NURANI mengawal Pilkada 2018, Selamat Melaksanakan Pesta Demokrasi dengan “Fair Play”…!!!

Editor: Mus


Berita Terkait

Komentar