Karakteristik Pemilih NTT 1: Rasional, Irasional, Sensasional

Senin, 20 November 2017 | 13:36 WIB
Share Tweet Share

Yon Lesek/Kolumnis

Pemilihan gubernur (Pilgub)   Nusa Tenggara Timur (NTT) segera berlangsung 2018.

Isu dan geliat politik menyambut pesta demokrasi lokal ini sudah terasa di penghujung tahun ini. Akan lebih hangat terasa bahkan suhunya akan terus meningkat selama tahun 2017 yang tinggal menghitung hari kita masuki.

Semoga tak ada percikan api terpicu ulah gesekan-gesekan yang terjadi tak beraturan, tak beretika, dan tak kenal kawan maupun lawan.

Bayak calon Gubernur atau kandidat yang unggul mulai tampil ke permukaan dan menyatakan niat untuk maju dalam kancah pilgub NTT 2018 ini.

Kita bisa membedah satu per satu para kandidat ini, namun tentu ruang sempit ini tak cukup menampung keluasan dan kedalaman elaborasi kita untuk semua calon.

Maka, tanpa bermaksud mengabaikan kandidat lainnya, saya hanya membatasi pada dua nama yang lagi tenar, yang kedua-duanya berasal dari Manggarai, Flores, yakni BKH dan CHR.

Kepada keduanya saya sampaikan sinyal karakteristik Pemilih NTT saat ini untuk diperhitungkan.


Merawat Ingatan

Ada satu sosok gubernur hebat dari Manggarai yang patut kita banggakan, yakni Bapak Ben Mboi. Setelah beliau, tidak ada lagi orang Manggarai yang menjadi Gubernur NTT.

Pada zaman beliau memang tidak seperti sekarang suasana pilkadanya, yang mana suara mayoritas pemilih menentukan kemenangan langsung. Selain itu, banyak partai yang terlibat saat ini dalam pesta rakyat merebut kekuasaan sebagai jalan mendapatkan akses untuk mengabdi daerah sendiri.

Semoga saja niat para kandidat kita ini tidak pincang hanya untuk memperkaya diri dan kroni-kroninya.

Manggarai Raya, meliputi tiga Kabupaten yakni Manggarai, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur, adalah salah satu pemilih terbesar dan amat diperhitungkan lawan. Tetapi, sayang, beberapa kali pilgub, tak ada orang Manggarai yang menang.

Banyak variabel penyebabnya. Salah satu yang paling berpengaruh adalah karena calon dari Manggarai lebih dari satu. Politisi lawan dari daerah lain melihat potensi suara terbesar ini sebagai cela untuk dipecah-pecah dengan adanya lebih dari satu Kandidat Manggarai. Kita terlena pada akhirnya dan hang bao jadinya.

Setali tiga uang, hal yang sama terjadi pula dalam Pilgub 2018 nanti. Sekarang ini sudah muncul dua sosok jagoan dari Manggarai yang sama-sama hebat, yakni Calon Gubernur Beni K. Harman (BKH) dan calon Wakil Gubernur Christ Rotok (CHR).

Tidak bisa ditampik begitu saja sumbangsih dan peran kedua tokoh Manggarai ini di kancah lokal dan nasional.

Dua-duanya potensial, punya sumbangsih nyata dalam pembangunan dan macam-macam karya mereka untuk rakyat. Hanya soal lokus dan fokusnya saja yang berbeda.

CHR seorang Bupati Manggarai dua periode, sukses membangun infrastruktur Manggarai, sukses mengantar pemekaran Manggarai menjadi tiga Kabupaten, dan cukup bersih dari KKN, dan sebagainya.

Sementara itu, BKH dikenal sebagai anggota DPR RI tiga periode, termasuk jajaran ketua DPP Partai Demokrat, pernah sebagai Ketua Komisi III DPR RI, ketua fraksi, aktif di bidang penanganan kasus hukum, dan kasus-kasus lainnya di NKRI ini, dan sebagainya.

BKH dan CHR adalah dua tokoh yang sama-sama hebat, sama-sama potensial di jalur masing-masing, dan sama-sama konsen untuk membangun NTT.

Belajar dari pengalaman, masihkah orang Manggarai menyodorkan dua tokoh sekaligus pada Pilgub 2018 ini dengan harapan salah satunya gol?

Mustahil!! Sebab, kita mau memilih siapa dan untuk menjadi apa? Itu pertanyaannya.

Memilih tokoh Manggarai untuk menjadi Gubernur NTT ataukah bekerja keras hanya untuk memilih Wakil Gubernur NTT?

Boleh jadi kita tidak peduli posisi kedua calon itu, entah sebagai wakil atau gubernur, kita biarkan rakyat NTT memilih yang terbaik di antara mereka berdua, bersama pasangan masing-masing.

Mari kita diskusi secara rasional, tanpa ada nada pelecehan, fitnah, ujaran kebencian, dan kampanye hitam lainnya di sini. Berharap kita menjadi pemilih yang cerdas.

Karakteristik Pemilih NTT

Ada tiga tipe/karakteristik pemilih di NTT.

Pertama, pemilih rasional, yang mempertimbangkan rekam jejak seorang kandidat, kapasitasnya, tingkat kepercayaan publiknya (trust), kapabilitasnya (kemampuan menangani masalah urgen di daerah NTT, seorang people smart dan problem solver, bukan problem maker).

Kedua, pemilih irasional (yang saya maksudkan dengan irasional di sini bukan a-rasional, atau tidak pakai otak. Tidak. Tetapi mereka yang mengutamakan kedekatan emosional dan keuarga), yang cenderung fanatik, arogan yakin menang, dan primordial, pokoknya asal bukan yang lain.

Ketiga, yang cukup bergeming di era medsos ini, saya sebut pemilih muda yang sensasional. Tipe ketiga ini aktif di dunia maya/medsos memantau kebutuhan NTT terkini, lalu membandingkan atau merujuk pada isu/perkembangan nasional dan daerah lain, dan tidak segera menentukan pilihan karena masih mengikuti perkembangan dan mempertimbangkan urgensi kandidat yg tepat dan dibutuhkan untuk menjawab problem NTT saat ini.

Dari ketiga tipe pemilih NTT ini, pemilih irasional masih menempati urutan pertama dari sisi jumlah, diikuti pemilih sensasional, dan rasional.

Tetapi, jika pemilih sensasional menemukan rasionalitasnya dalam membuat pilihan, mereka memperbesar jumlah pemilih rasional sehingga scor menjadi 1:2 untuk pemilih irasional.

Sinyal Dunia Maya Tak Secantik Luna Maya

Saya tidak mau berandai-andai siapakah yang akan menang di dalam merebut hati para pemilih NTT saat ini, BKH ataukah CHR.

Namun, saya bisa memastikan bahwa era keterbukaan saat ini amat mempengaruhi keputusan para pemilih kita.

Hampir tak ada lagi sekat-sekat antarkota dan wilayah, bahkan di antara kita yang dekat bisa menjadi jauh, dan yang jauh bisa menjadi dekat sebagai dampak langsung dari kemajuan teknogi informasi di dunia dunia maya, yang sering kali tampil tak secantik Luna Maya.

Penulis: Yon Lesek

Editor: Aurelia A.


Berita Terkait

Komentar