The End of History Bagi PHP

Senin, 20 November 2017 | 13:28 WIB
Share Tweet Share

Yon Lesek/Penulis

PHP. Siapa yang mengaku diri anak gaul pasti tahu singkatan dari apakah itu?

Seperti halnya nama-nama para tokoh politik kita akrab dibuat dalam bentuk singkatan, mudah diingat dan cukup nyentrik kedengarannya: Ada yang namanya SBY, AHY, JK, BY, BKH, AL, AG, YL, BG, dan lainnya.

Apalagi dalam laporan pers yang memberitakan pelaku-pelaku kriminal selalu memakai nama inisial ketika memublikasikan kasus mereka.

Entah apa maksudnya, yang pasti deret nama singkatan yang saya sebut di atas bukan untuk menyembunyikan secara halus identitas mereka, bukan juga mau bilang karakter mereka sejajar dengan inisial pelaku kriminal.

Sebaliknya, justru membuat mereka menjadi terkenal karena mudah diingat dan akrab di telinga orang.

Kebetulan pagi ini aku bertemu seorang tukang bajaj. Mengenakan baju kaos biru muda. Di dadanya terpampang besar tulisan PHP.

Aku pikir singkatan dri Pemberi Harapan Palsu. Ternyata plesetan dari Perawan Hampir Punah.

Melihat ke punggung si tukang bajaj, semakin jelas pesannya. Di situ tertulis jelas sebuah kegelisahan: “Jangan bangga menjadi wanita cantik kalau tidak bisa menjaga keperawanan.”

Keperawanan itu bagai permata tiada taranya. Sekali hilang, tak akan pernah kembali, sekalipun cermin dibelah dan wajah dipolas-poles.

Apalah arti sebuah nama, kata William Shakespeare:

“What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” (Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi).

Apa pun namanya, tidak akan mengubah subjekmu, tidak akan menggantikan karaktermu.

Sebutan PHP di sini bukan lagi milik semta orang-orang yang suka memberi harapan palsu, tetapi milik para wanita yang hilang kecantikannya karena tidak menjaga keperawanannya.

Apalah arti sebuah nama. Nama tidak punya arti di dalam dirinya sendiri, tetapi melekat pada substansi. Nama mendapatkan arti bila kita memaknainya.

Sebutan keperawanan bukan lagi status biologis yang menerangkan adanya selaput tipis yang disebut hymen pada alat reproduksi wanita, tetapi simbol kemurnian, kesetiaan, kesucian, dan integritas pribadi.

Kecantikan seseorang ditentukan oleh status keperawanan orang tersebut.

Apalah artinya kebanggaan kekuasaan dan jabatan tinggi di masa lalu jika post power syndrom menggerogoti orang tersebut setelah lepas dari jabatannya dan tak berkuasa lagi?

Tiada gunanya memoles diri dengan beragam seruan moral dan ajakan mulia untuk menjaga kedamaian dan keutuhan bangsa kita kalau itu hanyalah lips service, sekadar manis di bibir tetapi hatinya penuh intrik sesat dan nafsu laknat menghembuskan bau busuk yang membangkitkan angkara murka.

Apalah gunanya membedaki diri dengan berbagai aksi moral dan seruan kepahlawanan jika diri ini penuh kemunafikan, makan semeja dengan radikalisme dan kaum fundamentalis,berselingkuh dengan ketamakan? Karena memang pada substansinya sudah tidak cantik lagi, sudah hilang keperawanannya.

Seindah apa pun syair lagu yang didendangkan dan sebanyak apa pun baris artikel penuh nasihat bijak dan ungkapan keprihatinan dituangkan di media massa, itu semua hilang maknanya bagai kemarau setahun sirna karena hujan sehari.

Walau berlagak universal mengutip ucapan asing, “in crucial thing unity” (kita mesti bersatu jika menghadapi sesuatu yang penting, apalagi genting) dan “there will always be a solution to any problem” (setiap persoalan selalu ada solusinya, ada jalan keluarnya), maknanya tidak lagi ditangkap seperti yang dimaksudkan.

Sebab, aroma amis sudah lebih dahulu merasuk kalbu pembaca dari mulut sang aktor pengidap post power syindrom yang sudah patalogis dan vandalis.

Apalah arti sebuah nama, kekuasaan, jabatan, kebanggaan akan kebesaran masa lalu jika hanya membungkus kepalsuan dan kehendak untuk berkuasa?

Sebab, keperawanan sudah punah dalam diri pemberi harapan palsu, yang terlanjur basah selingkuh dengan harta dan takhta.

Saudara sebangsa dan setanah air, ingatlah! Sekali kita tidak perawan lagi, sampai lebaran kuda permata itu akan lenyap selamanya.

Yang ada hanya janji-janji palsu dan seruan moral yang membungkus angkara murka, sebentuk upaya Defence Mechanisms (Mekanisme Pertahanan Diri) yang dikenal dengan sebutan proyeksi atau kamuflase.

Apakah ini berarti membenarkan klaim Francis Fukuyama yang menyebut situasi ini sebagai “The end of history” yang ditandai dengan pembunuhan karakter yang menyebabkan kematian subjek?

Tak ada lagi masa depan, tak ada maknanya mengimpikannya, sebab ketidakpercayaan orang padamu saat ini, pemaknaan baru yang tidak senonoh bagi namamu kini, adalah masa depan yang terbaik bagimu, sang aktor PHP. Bye…!

(Penulis: Yon Lesek)

Editor: Aurelia A.


Berita Terkait

Komentar