Identitas Politisi, Kekuasaan Partai, versus Rakyat Cerdas

Kamis, 29 Juni 2017 | 09:36 WIB
Share Tweet Share

Ilustrasi kekuasaan niridentitas [gambar: istimewa]

Penulis: Yon Lesek 

Ironi terjadi saat ini, tak ada lagi senyum yang tulus mudah didapat di ruang-ruang publik. Apalagi di panggung politik. Lebih lagi di panggung kampanye selama masa pemilu. Senyum karena ada maunya.

***

[INDONESIAKORAN.COM] Siapakah aku ini? Sebuah pertanyaan mendasar yang acapkali dilontarkan saat seseorang atau sebuah kelompok masuk dalam keheningan untuk mengenal dunianya mulai dari dirinya sendiri dan atau kelompoknya. Nama lain untuk hal ini adalah suatu upaya pencarian jati diri demi penemuan motivasi dan semangat baru untuk hidup dan berkarya. Tapi bukan cari muka. 

Hal ini dirasa amat perlu pada zaman sekarang yang disinyalir tergerus globalisasi dan tuntutan spesialisasi yang mekanistik sifatnya dan memperlakukan manusia sebagai mesin yang dipandu waktu.

Ketepatan dan percepatan menjadi tuntutan yang seharusnya untuk bisa bertahan. Maka setiap orang berlomba-lomba merumuskan dirinya agar selaras dengan tuntutan zaman ini.

Apa lacur, banyak nilai pribadi tergerus hingga identitas diri terpasung dan menghantar orang ke dalam alienasi akud. Merasa asing dengan dirinya sendiri, bahkan tak mengenal siapa dirinya.

Hal ini berdampak lanjut pada pola relasi antarmanusia yang jauh dari relasi manusiawi yang intersubjektif. Orang akan mudah jatuh ke dalam pola relasi kebendaan yang fungsional sifatnya, relasi fungsi-fungsi bahkan subjek-objek, di mana yang satu 'menidakkan' yang lain.

Ironi terjadi saat ini, tak ada lagi senyum yang tulus mudah didapat di ruang-ruang publik. Apalagi di panggung politik. Lebih lagi di panggung kampanye selama masa pemilu. Senyum karena ada maunya.

Senyum yang terindah bahkan menggoda kita temukan juga di mall, bioskop, pusat perbelanjaan lainnya, di kantor penjual jasa, bahkan di restoran dan warung makan kaki lima.

Apakah mereka yang tersenyum pada kita itu sungguh mengenal siapa kita? Walahualam. Mereka tahunya hanya memberikan senyuman indah nan menawan, bukan karena mengenal asal kita, agama kita, suku kita, atau budaya kita, tetapi agar memudahkan kita mengeluarkan selembar demi selembar uang untuk ditukarkan pada barang dan jasa yang ditawarkan. Senyum yang sama pesannya dengan para politisi untuk menarik simpatik dan mendulang suara.

Kepunahan Identitas Diri

Tak ada pertukaran identitas di sana, apalagi cinta sejati. Yang ada hanyalah ‘aku mencintaimu karena apa yang ada padamu berarti buatku, bukan karena engkau apa adanya.’ Sebab, identitas diri bungkam, bahkan punah oleh kepentingan sesaat.

Ketika seseorang kehilangan identitas dirinya, ia tidak bisa mencintai dengan tulus. Ketika ia berusaha mencintai dirinya lagi, ia merasa asing dengan semuanya, bagai terjerumus ke dalam sumur tanpa dasar, ia terperosok pada realitas maya yang akud dan abstrak. Pribadi skizoprenia bahkan gila pada akhirnya jika kekuasaan untuk mengendalikan dirinya ikut melemah dan mati.

Politisi Niridentitas

Politisi adalah predikat penuh warna dan aura jasa, bukan karya dan pengabdian diri sejati. Saya pastikan hal ini demikian. Apalagi seorang politisi tak bisa lepas dari partai atau organisasi di mana dia bernaung. Identitas partai lebih kuat melekat pada dirinya daripada identitas dirinya sendiri.

Bahkan ada yang lebih parah lagi, politisi sampai lupa identitas dirinya ketika menjadikan partai sekadar sebuah alat kekuasaan semata. Partai politik dan identitas pribadi dinisbikan, bahkan dengan tak tahu malu dipinggirkan, asalkan mendapatkan jalan mulus untuk mencapai tujuan jabatan dan kekuasaannya. Menjadi kutu loncat namanya, meminjam istilah dalam konstelasi pemilu.

Apa yang mau diharapkan dari politisi seperti ini jika suatu saat ia menduduki posisi kekuasaan tertinggi di suatu wilayah? Semua rakyatnya bakal hanya menjadi saran atau kendaraan bagi prestise dan pencapaian pribadinya.

Kembalilah kita pada identitas kita. Siapakah kita sesungguhnya jauh lebih penting dikenal dan dihargai daripada segala hal yang bersifat tambahan saja. Kesadaran akan identitas diri mendorong seseorang untuk membangun relasi manusiawi yang personal dan setara, yang sanggup menempatkan bonum commune sebagai aras dasar dan tujuan hidupnya.

***

Mungkin penilaian saya ini cenderung generalisasi. Karena masih ada sedikit harapan akan munculnya sosok calon pemimpin yang berbudi luhur dan siap total untuk mengabdi daerahnya.

Namun, siapa pun dia, dan betapa luhur dan mulia cita-cita pengabdian totalnya, demokrasi politik kita mengkerangkeng kebebasan untuk lolos dalam bursa pencalonan dalam kondisi perpolitikan saat ini yang partai sentris. Jalan satu-satunya yang terbaik adalah berusaha meyakinkan partai, bahkan dengan macam-macam cara, termasuk menghalalkan diam-diam mahar politik yang besarannya tentu tidak kecil.

Adapun kemungkinan bisa muncul dari calon independen. Akan tetapi, terkadang calon independen namanya namun sesungguhnya tidak independen juga dalam mendapatkan peluang menjadi calon, karena terkait biaya yang besar dan proses politik yang butuh waktu dan tenaga ekstra.

Mempertimbangkan pula luas geografi dan topografi wilayah kepulauan dengan akses transportasi yang amat terbatas, seperti NTT misalnya, dipersulit lagi dengan politik identitas yang sengaja dimainkan partai politik memanfaatkan sosiologi kita yang masih kental nuansa primordialnya, calon independen yang bakal lolos menjadi mustahil.

***

Betapa tidak, politik identitas yang kita kenal saat ini yang gencar diproduksi oleh mesin partai politik, adalah suatu penyimpangan yang terstruktur dalam pikiran dan kehendak berkuasa. Ya, penyimpangan, karena bersandar pada identitas semu untuk meraih kepalsuan demi kepalsuan.

Agama bahkan bisa dijadikan mesin politik, budaya bisa diakalinya sebagai etalase untuk memuluskan pendekatan adat tradisional ke level akar rumput, suku dan pranata adat bisa ditaruh di atas kepalanya sebagai mahkota feodalisme dan anak kandung primordialitas.

Demikian selanjutnya perjalanan si kandidat, banyak nilai tergerus oleh pribadi politisi yang hilang identitas dirinya, yang dengan sengaja harus melacurkan suku, agama, ras, budaya, dan pilihan moral pribadi demi ambisi politik, jabatan dan kekuasaan.

Kita tak bisa mengelak kenyataan betapa peran partai politik masih sentralistis dalam ajang pencarian pemimpin daerah kita. Bahkan Partai Politik tak jarang berubah wajah menjadi monster kekuasaan yang merenggut identitas diri bakal calon karena harus mengikuti kemauan partai, atau dalam bahasa roh halusnya, harus sejalan dengan napas partai. Jika tidak, siap didepak. Mengapa?

Mengutip komentar bernas dari Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI),  Petrus Selestinus, dalam sebuah diskusi lepas, "Karena Parpol masih menjadi motor dengan kekuatan penuh untuk menentukan ke mana arah politik negara ini dibawa. Pusat kekuasaan ada di tangan Parpol mulai dari pemilu dan pilkada hingga proses pengambilan keputusan strategis. Negara pun ikut ditentukan oleh Parpol. Hak prerogatif presiden pun masih bisa diintervensi oleh Parpol."

Rakyat Cerdas Tumpuan Harapan Terakhir

Menjelang perhelatan pemilu atau pilkada, kita akan berjumpa dengan pola relasi politisi yang semu jati dirinya ini. Patutkan kita mengutuk politisi seperti ini? Ya, boleh-boleh saja, tetapi kita tak bisa mengubah mereka, bahkan tak kuasa melarang mereka untuk ikut terlibat dalam pertarungan dan perebutan kekuasaan ini.

Sekalipun demikian, rakyat jangan bungkam, jangan sampai kena tipu daya. Rakyat hanya butuh bertahan menjadi orang waras dan cerdas ketika para politisi dan bakal calon pemimpin kita tak memakai kewarasan dan kecerdasannya.

Pilihlah politisi dan bakal calon pemimpin yang kosisten dengan dirinya, setia dan komitmen dengan pilihannya, tekun dan ulet dalam mengemban profesinya, serta sudah selesai dengan dirinya sendiri dan tuntas merumuskan identitas sejatinya. Ini cara membungkam politisi yang hilang jati dirinya.***

_________

Redaksi indonesiakoran.com menerima tulisan berupa opini  500-800 kata. Yang berminat silakan dikirim ke email indo.koran2017@gmail.com atau WA 082112073604 (yon)

Penulis

Yon Lesek

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar