Adakah Jalan Rekonsiliasi bagi Habib Rizieg yang Terjerat Kasus Hukum?

Senin, 26 Juni 2017 | 18:44 WIB
Share Tweet Share

Paus Yohanes Paulus II melawat pembunuhnya di penjara: Saya memaafkanmu, tapi h

Ada orang yang menyebutnya orang gila dari Nazareth yang harus disuruh pergi jauh-jauh ke luar negeri mereka. Bukan karena ujaran kebencian dari mulutnya, bukan pula karena chat mesum yang dibuatnya, seperti yang heboh diperbincangkan di kampung-kampung kita saat ini. Tetapi, justru karena perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya. 

***

Oleh Yon Lesek*

Tim dari Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) sempat membahas kasus yang menjerat petinggi Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Syihab, kala menemui Presiden Joko Widodo di hari pertama Idul Fitri 2017. Saat menerima GNPF MUI di istana, Jokwi didampingi Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. 

"Kami menginginkan Habib Rizieq kembali ke Indonesia dengan damai tanpa pemaksaan yang akan semakin menambah kegaduhan di tengah umat dan ini akan menghabiskan energi yang tidak produktif,” ujar Ketua GNPF MUI Bachtiar Nasir, dikutip dari siaran pers GNPF MUI, Senin, 26 Juni 2017.

Banyak media memberitakan hal ini. Termasuk berita media online tempo.co yang saya copas di atas. Memanfaatkan open house Idul Fitri dengan Presiden Jokowi di Istana Merdeka, Jakarta, tim GNPF MUI menyusupkan agenda pribadi membicarakan nasip Ketua FPI Habib Rizieg yang masih berada dibluar negeri.

Sebagaimana semua tahu, Habib Rizieg ini sudah ditetapkan sebagai buronan, mendesak dia kembali ke Indonesia untuk memenuhi panggilan hukum yang mendakwanya. Kasus dugaan pornografi terkait chat mesum dengan Firza Husein, Habib Rizieg ditetapkan sebagai tersangka, namun sampai saat ini dia belum pulang kampung.

Ya, pulang kampung namanya karena Indonesia adalah kampung halamannya. Mengapa seorang Habib besar merasa ditolak di kampung halamannya sendiri?

Orang gila dari Nazareth

Dahulu, pada abad pertama Masehi, memang pernah ada seorang Nabi besar yang kehadirannya ditolak di kampung halamannya sendiri di Nazareth. Kita menyebutnya orang muda brilian dari Nazareth itu, ditolak bukan karena kejahatan yang pernah dilakukan. Bukan pula karena perbuatan noda dan mesum yang pernah dijalani hingga membuat malu keluarganya sendiri. Bukan.

Orang gila dari Nazareth ini justru ditolak karena kehebatan yang berasal dari dirinya. Orang sekampungnya tidak percaya bahkan sulit untuk mengerti jikalau dia, yang mereka kenal anak seorang tukang kayu, masa kecilnya biasa seperti mereka, dari keluarga sederhana, kok bisa membuat banyak mukjizat kebaikan.

Heboh sekaligus takut untuk mempercayainya. Orang sakit disembuhkan. Orang lumpuh berjalan. Orang buta melihat. Orang tuli mendengar. Orang bisu berkata-kata.

Semua orang di seluruh daerah memperbincangkannya. Kota Nazareth pun disebut-sebut, jadi heboh dan banyak intel ke sana untuk cari tahu siapa Orang Muda Nazareth yang satu ini.

Bisa dibayangkan tekanan publik, termasuk pemerintah, menyerbu Nazareth dan membuat puising penduduk kampung kecil ini. Rasa aman warga terganggu gara-gara anak muda ini, makanya mereka segera menolakanya. Bahkan ada orang yang menyebutnya orang gila dari Nazareth yang harus disuruh pergi jauh-jauh ke luar negeri mereka. Bukan karena ujaran kebencian dari mulutnya, bukan pula karena chat mesum yang dibuatnya, seperti yang heboh diperbincangkan di kampung-kampung kita saat ini. Tetapi, justru karena perbuatan ajaib yang dilakukan-Nya.

Semua cacat pancaindera yang disentuh orang muda dari Nazareth ini menjadi pulih kembali. Sembuh total. Namun, hanya satu yang tak bisa dipulihkannya, yakni keterbukaan hati mereka untuk menerima perbuatan besar Tuhan di dalam dirinya.

Yakin dan saya sangat pastikan bahwa hati orang orang sekampungnya tidak sakit. Tetapi sedang tertutup saja. Nah, makanya proses penyembuhan dari kuasa di luar diri orang seperti ini tidak bisa mengubah apa-apa.

Orang yang hatinya tertutup oleh perasaan sombong, irihati, rendah diri, takut, dan tidak mau menerima kelebihan orang lain adalah orsng yang dari dirinya sendiri tidak membutuhkan penyelamatan. Hatinya tertutup bagi kemungkinan perubahan. Betah dengan keadaan nyaman diri semu, bertahan dalam status quo, lantas menghindari apa saja yang dianggap mengganggu kemapanan.

Itulah mengapa orang muda dari Nazareth itu tak mau buang waktu berlama-lama berada di tengah-tengah mereka. Ke tempat-tempat lain dia harus pergi, tempat di mana hati orang terbuka menerima keajaiban Tuhan di dalam dirinya. Di sana akan ada keselamatan.

Rekonsiliasi Mengeleminasi Sanksi, Mustahil

Tentu saya tidak mau menyandingkan orang muda dari Nazareth ini dengan Habib Rizieg yang takut untuk pulang kampung. Kasusnya berbeda. Habib Rizieg tak mau pulang kampung bukan karena hati orang sekampung halamannya tertutup akan keajaiban kebaikan yang berasal dari dirinya. Tetapi, justru dianya yang takut karena orang sekampungnya sudah memperbincangkan dirinya sebagai pelaku chat mesum. Wibawahnya sebagai Habib jadi merosot. Sementara itu, hukum terbuka menunggu kepulangannya di meja hijau.

Apa yang dilakukan okeh GNPF MUI menemui Presiden Jokowi adalah langkah konkret rencana rekonsiliasi dengan pesan tanpa sanksi bagi Sang Habib untuk pulang kampung segera.

Wah, itu tidak mungkin. Hukum kita terbuka untuk siapa saja. Tidak pandang bulu. Siapa saja yang terjerat hukum harus berakhir di persidangan, untuk diputuskan nasibnya, bebas ataukah berada di balik jeruji besi.

Rekonsiliasi tanpa sanksi bukan lagi sangsi itu bakal terjadi, tetapi itu memang tidak akan pernah mungkin dilakukan siapa pun di dunia ini. Apa pun status dan jabatannya, tidak bisa melakukan rekonsiliasi dengan mengintervensi hukum. Sebab, hukum punya bahasanya sendiri, sementara itu rekonsiliasi adalah bahasa hati.

Memaafkan, Tapi Hukum Tetap Berjalan

Teringat saya akan Yohannes Paulus II, Paus berkebangsaan Polandia, yang terancam mati kena tembakan peluru-peluru tajam yang menerjang tubuh rentanya. Mehmed Ali Agca, sang snipper penembak itu tak tanggung-tanggung melepaskan empat butir peluru bersarang di tubuh Paus.

Puji Tuhan, tak sampai mati. Mehmed Ali Agca diadili dan dipenjara. Paus Yohannes Paulus II mengunjungi Mehmed di penjara dan memaafkan dia. Inilah arti rekonsiliasi itu sejatinya. "Saya memaafkanmu, tapi hukum tetap berjalan," kurang lebih demikian pesannya bagi kita.

Lantas, bagaimana rekonsiliasi dilakukan unutk hati yang tertutup dengki, angkuh, irihati, fitnah, dendam, malu dan takut?

Hanya Tuhan yang bisa melakukannya. Orang muda dari Nazareth itu bagai domba kurban penebusan dosa, Ia melakukan rekonsiliasi total, sekali untuk selamanya, bagi hati yang terkunci rapat dalam penjara kesempitan cinta diri. Hanya itu jalan satu-satunya agar terhubung kembali, atau terjadi rekonsiliasi, antara surga dan dunia. Inilah jalan rekonsiliasi ilahi, yang membuka jalan bagi semua orang kepada kebenaran agar beroleh hidup bahagia dan damai di bumi seperti di dalam surga: Jalan Pengorbanan.***

*Penulis adalah pengamat sosial agama. 

______
Redaksi indonesiakoran.com menerima tulisan berupa opini  500-800 kata. Yang berminat silakan dikirim ke email indo.koran2017@gmail.com atau WA 082112073604 (yon)

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar