Inikah Budaya Kita, "Caci", "Cica" , dan Caci Maki?

Senin, 19 Juni 2017 | 09:48 WIB
Share Tweet Share

Pentasan caci, warisan tradisi budaya Manggarai, Flores, NTT. [foto: istimewa]

"Caci",  warisan budaya orang Manggarai,  Flores,  NTT.  Sekalipun kita menyebutnya jenis tarian tradisional, "caci" pada inti pentasannya tetaplah sebuah pertarungan ketangkasan dan ke-jago-an atau kejantanan. Hal ini sesuai dengan etimologi kata "caci" itu sendiri, berasal dari kata “ca” berarti “satu” dan “ci” yang berarti “uji”. Sehingga caci dapat diartikan sebagai uji ketangkasan satu lawan satu. Pemerannya pasti laki-laki pemberani.

***

[INDONESIAKORAN.COM] Mendengar kata ‘caci maki’, saya teringat akan perhelatan budaya "caci" orang Manggarai-Flores-NTT. Budaya ini sudah menjadi ikon Manggarai, Flores, dan menjadi pentasan budaya yang diandalkan dan dibanggakan.

Apakah para penonton "caci" yang bukan orang Manggarai melihatnya seperti itu juga? Ya, entahlah, pertanyaan yang tidak suka dicari jawabannya, karena pertarungan tinju juga hampir sealiran dengan "caci".

Sekilas gambaran "caci".

Caci adalah kesenian tradisional sejenis tarian perang yang khas dari masyarakat Manggarai di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Dimainkan oleh dua laki-laki yang menari dan saling bertarung dengan menggunakan cambuk dan perisai sebagai senjatanya.

Pentasan ini sering ditampilkan di berbagai acara seperti saat syukuran musim panen (hang woja), ritual tahun baru (penti), dan berbagai upacara adat lainnya. Dalam perkembangan terkini,  ini menjadi objek wisata budaya paling favorit. 

Sekalipun kita menyebutnya jenis tarian tradisional, "caci" pada inti pentasannya tetaplah sebuah pertarungan ketangkasan dan ke-jago-an atau kejantanan. Hal ini sesuai dengan etimologi kata "caci" itu sendiri. [Ada beberapa pengertian etimologis caci, saya merujuk pada salah satu etimologi berikut ini yang mungkin masih bisa diperdebatkan] berasal dari kata “ca” berarti “satu” dan “ci” yang berarti “uji”. Sehingga caci dapat diartikan sebagai uji ketangkasan satu lawan satu. Pemerannya pasti laki-laki pemberani.

Dalam pentasan permainan/budaya "caci" ini, ada sepasang pria jantan dari dua kubu, yang bertarung berhadap-hadapan, dengan menggunakan alat serang yang disebut ‘larik’ (= cambuk yang terbuat dari kulit kerbau yang dikeringkan).

Pihak sebelah menangkisnya dengan memakai ‘nggiling’ (= perisai berbentuk bulat yang terbuat dari kulit kerbau, berdiameter kira-kira 60 cm.

Selain itu, ada kayu melengkung yang terbuat dari rotan, hampir setengah lingkaran yang diangkat di atas kepala bersamaan dengan ‘nggiling’ di depan muka.

Yang satu mencambuk, yang lain siaga satu dengan perisai untuk menangkis serangan. Tidak boleh mencambuk saat lawan belum siap siaga menangkis. Dan tidak boleh mencambuk main-main, karena dianggap pelecehan.

Selanjutnya bertukar posisi, yang mencambuk giliran menangkis serangan. Mencambuk dan menangkis dilakukan bergantian selama pertarungan berlangsung 2 sampai 3 hari lamanya.

Caci secara sekilas mempertontonkan hasrat perang dan kekerasan. Namun hebatnya caci menjadi sajian yang indah dan seru karena dikemas dengan seni dan budaya tari. Didukung pula dengan asesoris yang indah dan gagah serta diiringi dentuman tebaran genderang dan gong. Kadang diselingi lantunan lagu kemenangan dalam bahasa Manggarai.

Pemain "caci" menggunakan kostum layaknya prajurit yang akan maju ke medan perang. Menggunakan penutup kepala (pangkal) dan pakaian pada bagian bawah saja, sehingga tubuh bagian atas tanpa busana.

Pada penutup kepala menggunakan topeng yang terbuat dari kulit kerbau yang keras untuk melindungi wajah dari serangan lawan. Sedangkan pada tubuh bagian bawah menggunakan celana panjang berwarna putih dan sarung songket khas Manggarai berwarna hitam. Sebagai aksesoris diberi giring-giring yang berbunyi mengikuti irama dentuman genderang dan gong.

Belajar Debat ala "Caci"

Luka kena cambukan selalu mungkin terjadi. Sakit, perih, dan berdarah-darah. Tetapi walaupun sakit terkena cambukan karena kita lemah menangkis di sisi tertentu, kita tidak boleh sekali-kali maki. Nah bahaya kalau keluar kata maki. Bisa rusak semuanya.

Berdebat dan berargumentasi sebenarnya juga mengandung filosofi seperti dalam "caci" ini. Orang Indonesia umumnya terkenal jago debat, lihai berargumentasi, lihai mencari cela kelemahan lawan bicara. Orang Manggarai, Flores, lebih lagi, wenget alias ngeyel kalau berdebat. Itu dianggap prestasi, keunggulan, asalkan jangan sampai menyertakan ‘maki’ saja di sini.

Kita perlu belajar berdebat dari budaya "caci" ini; posisi debat harus dengan yang selevel, yang siap menyerang dan menangkis, dengan catatan tidak menyertakan kata-kata maki, hinaan, celaan, dan sejenisnya kepada lawan.

Sangat tidak diperkenankan menggunakan argumentasi ad hominem. Ini biasanya biang keributan besar. Apalagi kalau bawa-bawa nama keluarga, orangtua atau leluhur.

Lain hal dengan "Cica"

Walaupun secara fonetik bunyinya hampir sama dengan caci, "cica" berlainan makna bahkan sangat jauh dari "caci" . "Cica" lebih dipahami sebagai "ikut nimbrung" berelaborasi pikiran dan wacana dalam diskusi yang alot dan bernada mencari solusi.

Walaupun tetap disadari bahwasanya kesimpulan akan diberikan oleh pemandu diskusi atau dialog, yang mana umumnya adalah seorang pemangku adat, atau yang di-tua-kan, atau punya posisi sosial tertentu. "Cica" ini paling digemari orang Manggarai dalam setiap upaya menyampaikan maksudnya. Terkadang kritik pedas dan bahkan bermaksud menjatuhkan lawan lantas diselubung oleh istilah "cica".

Apa yang Dicari?

Apa yang dicari dalam permainan caci? Kemenangan? Sebenarnya itu bukan yang utama, itu hanya hasil akhir saja. Yang terpenting adalah “lomes”, seni, keindahan dan kebersamaan.

Begitu juga dalam berdebat, bukan cari kalah-menang, tetapi seni berpikir dalam kebersamaan, dan kita bisa belajar dari orang lain untuk bisa semakin cerdas dan matang dalam berpikir dan bertingkah benar.

Pola yang cenderung menjadi budaya ini semakin gemar dimainkan bangsa kita, terlebih orang Manggarai. Banyak waktu dihabiskan untuk mempersoalkan apa yang sebenarnya tidak terlalu penting. Terkadang pula kita jatuh dalam jebakan memperbincangkan hal yang sebenarnya di luar kuasa kita untuk membahasnya.

Lebih buruk lagi, kita senang berhenti berlama-lama pada pergunjingan, tanpa menalar solusi yang bisa ditawarkan. Apalagi kalau disertai dengan macam-macam "cica" yang bernada menyerang lawan atau hendak mengaburkan persoalan hingga berujung pada caci maki.

Senada dengan tabiat suka gosip, tetapi dalan hal debat seperti ini gosip tersebut dibungkus dengan argumentasi apik dan bersih-keras, walau seringkali tidak nalar alias asal bicara agar lawan terluka. Adal "cica" lalu kabur.

Apakah ini efek budaya "caci" yang menular dalam silogisme kita? Ataukah kita menaruh pembenaran turun-temurun dalam wujud "caci" untuk membungkus nafsu arkais kita untuk saling membunuh, saling menjatuhkan, bahkan menunggu di titik terlemah lawan untuk memukul jatuh tak berdaya?

Pentasan "caci" barangkali dibiarkan sebagai seni tari budaya. Bukan adat kebiasaan dalam tutur kata dan bahasa kita. Jika tidak, kita sedang melanggengkan nafsu arkais manusia yang membungkus angkara murka dan daya mematikan dalam suatu wujud budaya.

Saya tidak bermaksud melemahkan warisan leluhur kita yang menjadi ikon daerah Manggarai, Flores. Tetapi, mau menempatkannya pada bingkai berbeda dari lokal genius orang Manggarai yang ramah, tahu menjaga sopan santun, dan menempatkan orang lain lebih sedikit di bawah Tuhan, atau menghargai manusia yang diciptakan menurut rupa dan gamabr Allah sendiri, secitra dengan Allah, dengan menyebut orang lain "mori" atau "kraeng".

Tuhan sendiri disebut "Mori Keraeng" . Sesama manusia cukup disapa "mori" atau "keraeng" saja. Bukan dianggap lawan di medan tempur.***

__________

Redaksi indonesiakoran.com menerima tulisan berupa opini minimal 500 kata. Yang berminat silakan dikirim ke email indo.koran2017@gmail.com 

Penulis

Yon Lesek

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar