"Celana Umpan" Sang Gadis Pantai Pede Jadi Saksi Penuh Sensasi

Sabtu, 10 Juni 2017 | 08:54 WIB
Share Tweet Share

Pantai Pede, Labuan Bajo, Flores [istimewa]

Pantai selalu menyimpan rahasia alam yang tak terkira dan berdaya magis tinggi. Di sana kita bisa saling berjumpa dengan seluruh penghuni alam jagat, baik jagat kelihatan maupun jagat tak kelihatan.

Entah kenapa, panorama pantai menyapa setiap manusia sampai ke pusat dirinya. Mungkin karena manusia termasuk bagian penting di dalam interaksi alam jagat ini dan pantai menjadi lokus istimewa perjumpaan antarsesama penghuni alam jagat.

Betapa tidak, panorama pantai memikat banyak wisatawan dan menjadi objek wisata yang paling dicari, untuk sekadar refreshing atau melepaskan diri dari masalah dan kepenatan. Juga menjadi lokus perjumpaan batin dengan segenap penghuni alam semesta dan Sang Pemilik jagat itu sendiri.

Konon katanya, meditasi dan berbagai bentuk olah batin lainnya akan sangat khusuk dan penuh kuasa magis jika dilakukan di tepi pantai. Penuh imajinasi dan inspirasi.

Adalah Pantai Pede, salah satu pantai terindah di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores NTT.

Letaknya sangat strategis, tidak jauh dari pusat kota Labuan Bajo, dan menjadi pintu keluar masuk Flores dari ujung Barat sejak nenek moyang dahulu kala.

Kini, para wisatawan lokal maupun mancanegara menjadikan tempat ini sebagai salah satu objek favorit. Di akhir pekan Pantai Pede padat merayap oleh ramainya para pengunjung dan penikmat pantai.

Pantai yang pernah menjadi lokasi Acara Puncak Pelaksanaan Sail Komodo tahun 2013 yang lalu ini sering dijadikan pusat berbagai kegiatan kesenian dan kebudayaan lokal, seperti tarian caci, sanda, mbata dan teater telah dimainkan di tempat ini. Juga pameran dan bazar kerajinan lokal dan kuliner menjadikan tempat ini sebagai tempat favorit.

Menyusuri sepanjang garis Pantai Pede saat ini kita akan menemui banyak hotel megah dan berbintang. Sebagian hotel tersebut berdiri tegak dan luas di bibir pantai, bahkan sampai menguasai lautan di depannya.

Aneh melihat hotel-hotel di bibir pantai Labuan Bajo ini nyaman-nyaman saja dan tak tersentuh undang-undang sempadan pantai. Di kawasan ini juga tersedia banyak restoran dan jasa penyewaan diving.

Untuk mencapai tempat ini, pengunjung bisa berjalan kaki karena tidak jauh dari pusat kota. Juga dapat memanfaatkan jasa mobil (bemo) dan ojek.

Pantai Pede punya sensasi magis tersendiri. Ombaknya kecil-kecil menghempas pantai sambil mengeluarkan desis manja, yang merangsang para pengunjung, pria dan wanita, untuk sesegera mungkin melepaskan pakaiannya perlahan-lahan dan merebahkan diri ke dalam pelukannya hingga basah bersama-bersama dalam rengkuhan kenikmatan penuh sensasi, bahkan hingga mencapai orgasme.

Bertahan lama dan membuat betah. Itulah daya tarik yang sulit dijelaskan tuntas inti terdalamnya. Yang pasti, siapa saja yang pernah merengkuh kenikmatan penuh sensasi Pantai Pede, akan ingin kembali secepatnya ke dalam rangkulannya.

Penuh sensasi, ya, Pantai Pede bagai gadis menawan hati setiap pria yang mendekatinya. Tak mau hati ini melukai kemolekannya. Di sana kita tidak hanyut dalam kenyamanan, tetapi juga dibawa dalam imajinasi ke suatu dunia yang lain yang syarat makna dan kuasa.

Bukan sekadar cerita, tetapi ini kesaksian pribadi.

Suatu hari, selepas bermain ombak, aku merebahkan diri di bibir pantai. Tak sadar aku pun tertidur lelap. Dalam tidurku, aku diantar masuk dalam interaksi dengan jagat semesta.

Serasa bukan mimpi, aku menyaksikan dari dekat sepasang kekasih yang sedang beradu mesra. Rupanya mereka orang Manggarai.

Ikuti kisah mereka.

Bila waktunya telah usai Teus akan membukanya dan hanya mau berbisik kepada Katarina: “Celana Umpan telah menjadi saksi bisu selama lima Tahun yang usai!”

Katarina pelan-pelan menyorongkan tangannya ke dalam becer (lumbung padi). Ia mengambil kantong itu. Teus membuka ikatan di matanya. Mata katarina memblalak melihat benda yang berwarna pink dan disebut-sebut kado spesial oleh Teus.

“Nana, Jurak tuung ite! “(Ungkapan untuk sesuatu yang melampaui keterlaluan)

“Inikan yang enu mau!”

“Tidak Teus, Kau sedang mbecik saya, saya tidak terima! Tidak ada yang spesial di sini! Kaupunya cara romantis di luar akal saya. Romantis itu harus bermoral Teus!”(Mbecik = mengejek menghina)

“Tapi ini kan yang enu minta!”

“Eh... Nana, untung saya sayang kau, kalau tidak piring ini (berisi Geluk; cemilan yang diramu dari buah nangka) sudah melayang ke muka kamu! Bila perlu saya kasi putus”

“Aduh momang, nana tidak bermaksud begini!”

(Momang artinya sayang)

“Nana stop panggil saya momang, untuk sementara saya panggil kamu Teus saja dulu, tidak ada momang-momang. Mulai sekarang hingga sebulan ini, saya skors untuk dipanggil Momang, titik.”

“Momang!”

“Stop!”

“Momang, eh Enu! Enukan senang dengan yang ini kemarin!”

“Tapi itu kan kemarin Teus, hari ini lain. Pikiran saya berubah! Kaupergi ke Ruteng hanya untuk beli kado ini?! Berapa kilo kemiri yang kaujual untuk kado murahan ini?”

“Tapi harganya tiga ratus ribu, Enu. Mahal! Beli di Swalayan Pagi lagi. Ini bisa bertahan Lima Tahun. Pas PILKADA lagi nanti bisa beli yang baru, biar hemat. Biar barang ini bisa menjadi saksi bergulirnya kekuasaan di daerah kita.”

“Ini bukan soal nilai harga, Nana. Bukan soal bisa bertahan selama lima tahun. Bukan soal satu periode kekuasaan. Ini bukan kesaksian sebuah rezim. Ini nilai harga diri."

Pembicaraan kedua kekasih ini mulai serius. Ingin tahu ujungnya apa nanti.

"Memang harga diri saya ada di swalayan Pagi apa? Memang barang yang bisa bertahan lima tahun itu punya sumbangan kemanusiaan untuk saya? Apakah dengan hemat menjamin moral saya? Saya ini wanita Teus, wa-ni-ta! Masa saya pakai barang ini di kampung kita. Apa kata orang sekampung kita?”

“Saya mengutip apa yang Enu bilang, ini trend anak muda, siapa tau pergi ke pesta-pesta dipakai to!”

(Enu = panggilan untuk sang wanita)

“Adu Tuhan e. Mori ampong (Tuhan ampunilah!). Teus, Teus ini CELANA UMPAN Teus (Hotpant). Pake di depan kau mungkin pantas Teus, tapi ini kan kampung kita, ada ende, ema, ase kae, semuanya saudara saya. Atau kalau saya pergi pesta, nanti saya mengumpan laki-laki lain. Kau mau gara-gara CELANA UMPAN ini saya dinaksir sama orang, terus tinggalin kamu. Kamu doaakan supaya kita putus ya!”

“Tidak,  Momang!”

“Stop,  Teus!”

“Eh, Enu. Tapi ini kan keinginan kamu beberapa bulan yang lalu.”

“Itu kan cuma keinginan belaka, Teus. Masa saya pergi petik kopi pake CU, nanti nyamuk gigit saya, lebih-lebih semut hitam. Kalo semut merah mungkin malu-malu. Kalau saya ke ladang nanti semba/karot (duri) melukai paha saya. Atau saya pergi ke sawah, justru akan membuat saya gatal-gatal. Saya lebih banyak garuk-garuk seperti monyet daripada bekerja. Apalagi kalau sedang menanam padi, katak-katak yang nakal bisa masuk ke dalam. Lagian daerah kita dingin, Nana, saya bisa mati kedinginan.”

Teus ketawa kecil-kecilan mendengar ocehan sang gadis pujaannya itu.

(Nana = panggilan untuk pria)

“Kau jangan ketawa lagi. Apa kamu seperti orang yang baru saja makan Tehe, nana.” (Jenis Mosrum)

“Enu, stop! Nana mengaku salah. Nana memang tidak suka kamu pake CU. Sebenarnya ini saran dari Fabi!”

“Stop juga Teus! Jangan bawa nama-nama orang lain! Saya tidak ada waktu, saya pergi dulu. Saya mau tumbuk kopi dulu!”

Teus pun ditinggal sendirian di tepi pantai, sambil duduk termenung. Ia menggerakkan lagi pengalamannya dalam pikirannya. Baginya ini adalah bulan paling sial. Gara-gara celana umpan itu. Ini soal pilihan, Enu Katarina memilih Celana Umpan (Hotpant) yang berwarna Pink, Putih, Hitam atau tidak sama sekali adalah pilihannya. Ia memilih berbudaya atau mengikuti arus modernisasi adalah pilihannya. Enu Katarina memilih gaya tua atau gaya muda adalah pilihannya? Menginginkan yang lama atau yang baru? Ini soal pilihan.

“Cinta itu demokratis” Ungkap Teus dalam hati sembari meneguk secangkir kopi yang dituangkannya dari poci tanah liat di depannya.

Tapi, pikir Teus lagi, Enu Katarina berani melampaui pilihannya, ia tidak hanya berhenti pada pilihan apakah ini memang sudah zamannya atau tidak. Apakah punya sumbangan terhadap manusia yang berada? Soal kemanusiaan? Moral? Tanggung jawab? Dan kebaikan bersama (bonum commune)?

“Bukan hanya soal Teusnya ini, ” bisik Teus kepada dirinya sembari mengisap dan mengepulkan asap Rokok Tembakau Guling.

Enu Katarina, Teus terjatuh ke dalam pikirannya lagi, Celana Umpan itu ditolak. Memilih Celana Umpan tidak tepat baginya. Meskipun Enu Katarina menolaknya, tapi Teus mau menaruh dan menyimpan Celana Umpan ini di bawah dasar lemari. Bila lima tahun berlalu akan dibukanya. Bagi Teus, Celana Umpan ini tidak hanya saksi bisu cintanya kepada Katarina, tapi juga sebagai saksi hidup bergulirnya rezim lima tahun yang baru saja dimulai. Yang entah memperjuangkan kebaikan bersama atau tidak? Memperjuangkan pembangunan, kemanusiaan dan infrastruktur atau bukan? Tentang pertanian, pendidikan, kebudayaan dan banyak lagi yang jadi PR mendesak untuk dikerjakan atau tidak?

Bila waktunya telah usai, Teus akan membukanya dan hanya mau berbisik kepada Katarina: “Celana Umpan telah menjadi saksi bisu yang hidup lima Tahun!”

Sontak, saya bangun (cuka minyak, kaget), matahari mulai tenggelam. Aku pun bergegas duduk sambil memikirkan arti mimpi tadi. Ahhh,,,, rokok aja dulu di pinggir pantai, daripada pikir yang bukan-bukan, ujarku dalam hati.

Biasa, kretek Filter menemaniku merengkuh indahnya Pantai Pede dengan secangkir kopi jualan pedagang dekat pantai itu.

Bagi yang suka berjemur, inilah tempat yang paing dinanti-nantikan. Disarankan untuk mencari waktu di sore hari karena akan mendapatkan bonus sunset yang tenggelam di balik gugusan pulau-pulau kecil. Ini adalah sesi pemotretan yang luar biasa.

Selain itu, dapat menyaksikan perahu-perahu yang melaut di senja hari. Beberapa nelayan yang lumayan jauh dari bibir pantai sedang melaut. Burung-burung menari-nari di atas tubuh lautan memintal keindahan di akhir hari. 

Penulis: Wili Matrona dan Febri Edo

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar