Banyak Cagub NTT dari Manggarai, Rahmat atau Kutukan?

Jumat, 09 Juni 2017 | 10:50 WIB
Share Tweet Share

Istimewa.

Publik di NTT saat ini harap-harap cemas. Sebentar lagi tahun 2017 akan berganti. Saat berganti jadi 2018, mereka akan hanyut dalam sengitnya percaturan politik khas pilkada.

Ya, tahun 2018 NTT memang akan menyelenggarakan pesta demokrasi mencari gubernur baru, menggantikan petahana yang di tahun itu akan purna tugas selaku gubernur NTT dua periode berturut-turut.

Membaca geliat politis menuju kontestasi tersebut, para calon yang sudah terang-terangan menyatakan diri siap maju maupun yang masih malu-malu kucing tercatat cukup banyak. Barangkali, kontestasi kali ini melibatkan peserta lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya.

Namun, pada kesempatan ini, saya tidak tertarik membahas figur para calon secara pribadi lepas pribadi. Taruhlah, siapa saja yang menang kelak, yang bersangkutan pastilah terbaik di antara terbaik. Dengan catatan prosesnya harus elegan, demokratis dan transparan.

Kesempatan ini, dengan tidak mengurangi rasa hormat mendalam saya kepada peserta dari daerah lain, saya mengkhususkan diri menarikan jari di atas tuts-tuts keyboard ini tentang peserta dari daerah berbudaya Manggarai yang terlihat mendominasi dari segi jumlah dibandingkan kabupaten/etnografi lainnya di NTT.

Tengok! Tercatat di antaranya adalah Beni K. Harman, Robert Marut, Josse Sunny, Andre Garu, Chris Rotok dan juga mungkin Boni Hargens.

Terkait Boni Hargens, saya katakan mungkin karena beliau belum sekalipun memberikan pernyataan publik soal kesediaannya bersanding dengan para senior sedaerah dalam memperebutkan kursi NTT 1 mendatang. Taruhlah, Boni Hargens tidak tertarik hendak ikutan. Maka, Manggarai tetap akan menyumbang 4 figur menuju suksesi mendatang di NTT. Tetap terbanyak, bukan?

Tentang jumlahnya inilah yang perlu disorot. Bukan karena hal lain kurang penting dan ini lebih penting. Bukan! Tapi karena jumlah yang mendominasi lainnya adalah sesuatu yang menyimpan harap sekaligus cemas, sesal atau syukur, rahmat atau malah kutukan. Lho, emangnya kenapa?

Politik Identitas Mulai Ditinggalkan

Bagi saya, jumlah peserta dari Manggarai mengungguli daerah lain adalah sesuatu yang harus dilihat dalam kaca mata kepentingan yang lebih besar. Tidak boleh disederhanakan dengan melihat kesamaan latar mereka.

Perspektif seperti ini perlu menjadi credo guna menjadi antitese terhadap gaya berpolitik yang berorientasi hasil, suksesi politis yang berprinsip pragmatis, yang tak mau peduli prosesnya kayak apa.

Pilkada DKI yang baru lewat sudah memberikan kita pelajaran yang sangat penting. Suksesi politis yang berprinsip asal menang dalam perhelatan itu telah memberikan kita tontonan miris, tragis dan ironis, yakni tega-tegaan mengangkangi nilai-nilai universal seperti menolak mendoakan orang yang meninggal hanya karena ketahuan semasih hidup almarhum mendukung paslon lain. Praksis politik seperti itu jelas tidak elok, tidak patut dibangga-banggakan.

Maka, bila tidak ingin terjebak dalam praksis politik pragmatis seperti itu, jangan sekali-kali melihat calon dari segi latar belakang etnik atau unsur SARA-nya yang lain. Sebab, tatkala kita membiarkan diri terjebak dalam pola pikir etnosentrik (primordial) terkait figur-figur calon, maka dengan serta-merta kita akan menyesalkan: kenapa dari Manggarai calonnya amat banyak menghias angkasa perwacanaan Pilgub NTT 2018?

Bila terjebak, seseorang pasti akan berkomentar menyesalkan. Menurutnya, bila satu saja yang maju bisa dipastikan menang sebab pemilih dari 3 kabupaten, yakni Manggarai dan dua wilayah pemekarannya akan memilihnya, tinggal mencari tambahan suara di kabupaten lain di luar itu. Dia meyakini, bila calonnya banyak maka suara pun terpecah-pecah. Bila terpecah, khawatirnya tak ada satu pun calon dari Manggarai yang bakal menang.

Pendapat semacam itu tidak sepenuhnya salah. Sebab, bila dinalar, gubernur pasti akan malu bila daerah kelahirannya sendiri kurang maju dalam hal pembangunan infrastruktur. Inilah yang akan memicu pejabat bersangkutan untuk benar-benar serius memperhatikan daerah kelahirannya agar tak mendatangkan cibiran namun di sisi lain abai terhadap daerah lain.

Meski dibenarkan secara logika, namun ini bukanlah kebijaksanaan. Sebab, menjadi gubernur NTT itu bukan lagi perkara menjadi pejabat untuk etnis atau untuk yang seagama dengannya. Politik identitas semacam itu sudah usang. Itu bahkan pantas disebut sebagai pengkhianatan demokrasi paling bengis untuk konteks kita se-NTT.

Ingat saja, secara geopolitis maupun geoekonomis, peta kekuatan di NTT merata pada hampir setiap daerah kabupaten yang dinaungi. Maka, bila kita cenderung mendukung calon yang seidentitas dengan kita dalam hal SARA, bisa mengakibatkan pembangunan yang tidak merata untuk membangkitkan potensi-potensi yang ada tadi.

Hal semacam inilah yang mengakibatkan NTT tidak maju-maju juga dalam hal tingkat kesejahteraan warganya. Saya amat berharap, pola pikir seperti itu sekarang ini adanya hanya pada kalangan pemilih, tidak sampai meracuni pola pikir sang calon.

Dalam tataran kesadaran membangun daerah yang lepas latar seperti itulah yang lantas membuat saya bersyukur bahwa calon gubernur NTT pesertanya didominasi dari Manggarai. Sekilas ini memang seperti ambigu mengingat latar etnis saya yang juga dari Manggarai. Namun, bila dipahami dengan baik konsep kesadaran membangun daerah yang lepas latar, niscaya Anda akan ikutan bersyukur.

Kenapa?

Kesatu, andaikata para calon terjebak dalam pola pikir identitas kedaerahan mereka, bukan tak mungkin semua yang dari Manggarai ini membentuk satu komunitas politis, bikin semacam konvensi, lalu siapa yang terbaik akan sama-sama didukung di antara mereka.

Kedua, dengan perkataan lain, para calon ini tidak mau terjebak dalam pola pikir semacam itu melainkan mematutkan diri bersaing sehat menuju kampiun kontestasi NTT 1. Ini tentu menyiratkan satu hal bahwa bila kelak jadi pemenang, mereka menang bagi semua warga NTT, bukan lagi bagi Manggarai.

Jadi?

Ya, harusnya disyukuri jumlah calon dari Manggarai ini mendominasi.

Penulis

Aven Jaman

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar