Ketika NTT Tak Ubahnya Seperti Dulu, Ini Soal Empat Pilar Konektivitas Belum Terbangun

Selasa, 06 Juni 2017 | 17:31 WIB
Share Tweet Share

Panorama Pulau Padar, Labuan Bajo, NTT (foto: istimewa)

Pantha Rhei. Semuanya mengalir dan terus mengalir. Demikian kata filosof Yunani, Heraclitos. Gerak mengalir merupakan tanda-tanda dasar ada dinamika. Walau alirannya tidak selalu mulus, kadang tersendat dan tersumbat, kadak berbelok dan perlu dituntun, kadang pula saluran tak tersedia sehingga mengalir tak tentu arah, kemajuan suatu kota, wilayah propinsi dan negara sangat ditentukan oleh pergerakan aliran yang kian dinamis dan agresif.

Itulah realitas manusia. Segala sesuatu berubah, kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan paling dramatis dalam sejarah terjadi karena tautan yang kontradiktif antara tese dan antitese hingga berbenturan tak sampai mentok, yang melahirkan sintese, yang merupakan tese baru untuk suatu dinamima perubahan selanjutnya.

Tidak jadi soal dalam suatu dialektika, asalkan semuanya tidak berhenti mengalir dan mau menjadi saluran atau ikut dalam perubahan itu.

Inilah harapan yang terbersit bergejolak di sanubari ketika melihat NTT tampaknya tak ubah seperti dulu. Bahkan tak kurang orang yang masih ingin kembali seperti dulu NTT dipimpin oleh Eltari, Ben Mboi dan beberapa tokoh kuat dalam sejarah NTT.

Harapan untuk dipimpin kembali oleh tokoh-tokoh karismatik seperti dulu tentu tidak mungkin. Bag membangunkan mayat tidur. Kerinduan untuk pulang ke masa lalu mengandung pesan perubahan. Rakyat NTT mau berubah menjadi lebih maju, lebih sejahtera, adil dan makmur.

Peran Partai Politik

Peluang untuk melahirkan pemimpin yang didambakan untuk kemajuaan NTT tak pernah surut. Demokrasi yang kita anut memungkinkan kita untuk menemukan pemimpin yang tepat untuk NTT. Dengan syarat, partai politik di NTT khususnya harus ikut merasakan denyut nadi yang mengalir di tubuh rakyat NTT saat ini, agar dengan jujur, terbuka, dan jiwa besar mengusung sosok pemimpin yang mumpuni dan berdedikasi tinggi, setelah melewati proses penjaringan atau pencarian dan seleksi yang jeli dan ketat.

Dengan demikian, kandidat yang diusung partai nanti bukan sosok yang bisa membayar mahar politik, yang punya kuasa di pusat untuk menekan daerah, atau yang punya kedekatan emosional dan uang dengan petinggi partai. Bila perlu proses penjaringan dan seleksi pemimpin dilakukan partai secara terbuka dan gerilia.

Pemimpin NTT yang Didambakan

Peran partai dan kualitas perekrutan pemimpin dalam hal ini menjadi sorotan tersendiri. Lain kesempatan bisa dikupas walau tak berharap tuntas.

Kita kembali ke awal pembicaraan kita, yakni menemukan dan membuka saluran untuk perubahan NTT. Kita tetap butuh seorang pemimpin dambaan untuk melakukan hal itu. Pertanyaannya, pemimpin seperti apakah yang NTT dambakan?

Tentu bukan orang yang performansnya gagah perkasa seperti Goliat, karena Daud yang kecil pun bisa mengalahkannya dan membuat bangsanya jadi besar. Bukan pula pemimpin dari suku, agama, atau ras yang mengklaim paling unggul, sebab keunggulan seorang pemimpin tidak tergantung pada suku, agama, dan rasnya.

Ada banyak kriteria pemimpin NTT yang didambakan. Masing-masing kita pasti punya mimpi sendiri. Apalagi para kandidat yang mau maju Pilgub NTT 2018, tentu punya mimpi tersendiri yang bisa dilontarkan ke publik sebagai program unggulannya yang berharap dapat mendulang suara.

Kali ini saya hanya menyoroti satu hal saja. Di tengah laju perubahan yang kian mengglobal dan massif ini, NTT butuh seorang pemimpin yang mengerti konektivitas.

Konektivitas atau jaringan menjadi conditio sine qua non untuk membawa NTT keluar dari ketertutupannya (isolasi berbagai aspek). Konektivitas menjada sarat yang tidak bisa tidak agar NTT dikenal luas, bisa masuk ke pasaran yang lebih luas, bisa terhubung satu dengan yang lain dalam hal interaksi sosial, budaya, ekonomi politik, dan terutama pemikiran yang maju.

Empat Pilar Konektivitas

Konektivitas atau jaringan seperti apakah itu? Tentu demikian pertanyaan lanjutannya. Ada empat konektivitas yang perlu dibangun dan ditingkatkan, yakni konektivitas darat, laut, udara dan sinyal.

Konektivitas Darat

Tipografi dan geologi NTT yang merupakan propinsi kepulauan dengan sedikit tanah datar dan lebih banyak tanah bukit bergelombang dan gunung tinggi, banyak lembah dan aliran sungai serta keadaan tanah yang rapuh dan berbatu, tentu tidak mudah terhubung satu sama lain. Saat inj urusan infrastruktur jalan yang memadai dan aman belum cukup terurus. Bahkan ada kampung yang masih terisolasi karena ketiadaan jalan raya.

Pemimpin NTT yang didambakan harus meretas isolasi atau ketertutupan wilayah ini. Infrastruktur jalan yang kemudian diikuti transportasi yang aman dan terkoneksi antar kampung sangat penting bagi kelancaran banyak hal, termasuk perputaran ekonomi dan keterbukaan interaksi sosial.

Sedih, tatkala mendengar atau membaca berita banyak jalan yang berlubang, jembatan yang tinggal puing masa lalu, bahkan ada kampung yang belum punya akses jalan raya. Bagaimana NTT mau maju kalau jalan darat saja tidak ada dan tidak memadai?

Konektivitas Laut

Tidak kurang pentingnya dengan darat, jaringan laut tidak bisa tidak harus terkoneksi antar satu pulau dengan pulau yang lain, antar satu kota dengan kota yang lain.

Dirasa amat perlu dibangun dermaga dan sarana transportasi laut yang aman dan memadai. Juga sarana prasarana kelautan yang memudahkan para nelayan bekerja untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Konektivitas Udara

Tidak sepenting darat dan laut, keterhubungan melalui sarana dan prasaranan transportasi udara perlu ditingkatkan dan diperbanyak. Kecepatan dan fleksibilitas angkutan udara ini menjadi penting karena efisien dan efektif.

Dirasa perlu membangun sebuah bandara berkelas internasional di Flores, Timor, Sumba dan Alor. Hal ini membuka akses bagi peningkatan kualitas dan kemajuan dunia pariwisata dan ekonomi rakyat. Tentu harus diikuti manajemen yang benar dan profesional dalam pengelolaannya.

Konektivitas Sinyal

Tidak bisa tidak, ini adalah konektivitas yang paling murah, ramah lingkungan, tak terbatas, cepat dan canggih. Dampaknya pun dahsyat.

Untuk NTT, masalahnya hanya di sinyal saja. Banyak daerah tak tembus sinyal. Berharap semua kota ada wiffi gratis sehingga peluang komunikasi dan transaksi pasar bisa dilakukan secara online dan cepat.

Akhir Kata

Empat jenis konektivitas ini harus menjadi prioritas jangka pendek bagi seorang pemimpin NTT yang didambakan. Jangan sampai NTT terhambat oleh aspek konektivitas ini. Jika aspek konektivitas ini bisa diatasi, semua yang lain menjadi bisa dilakukan. Kemiskinan pun akan ikut- ikutan terberantas, karena kemiskinan juga adalah masalah ketiadaan konektivitas, ketiadaan akses.

Penulis

Yon Lesek

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Komentar