Vatikan Dukung Rencana Alumni Cipayung Gelar Konferensi Perdamaian

Selasa, 11 Juni 2019 | 20:24 WIB
Share Tweet Share

Ketua Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (FORKOMA PMKRI), Hermawi Franziskus Taslim. [foto: istimewa]

[JAKARTA, INDONESIAKORAN.COM] Forum Alumni Cipayung berencana untuk menggelar Konferensi Internasional Perdamaian, di Roma, Italia; Kairo, Mesir; dan Jakarta, Indonesia, dalam waktu dekat. Rencana tersebut mendapat dukungan penuh dari Dewan Kepausan Untuk Dialog Antaragama Vatikan.

Dukungan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Dewan Kepausan Untuk Dialog Antar Umat Beragama, Markus Solo Kewuta, SVD, saat menerima kunjungan Ketua Forum Komunikasi Alumni Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (FORKOMA PMKRI) Hermawi Franziskus Taslim, yang didampingi Ketua Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) AM Putut Prabantoro, di Vatikan, Senin (3/6/2019) lalu.

Menurut Vatikan, rencana Konferensi Internasional Perdamaian tersebut sesuai dengan semangat Deklarasi Abu Dhabi yang ditandatangani Pimpinan Tertinggi Gereja Katolik Paus Fransiskus dengan Imam Besar Al Azhar Ahmad Al Thayyeb pada Februari 2019, di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Markus Solo menjelaskan, Deklarasi Abu Dhabi Tentang Perdamaian itu berjudul “Documento Sulla – Fratellanza Umana Per Pace Mondiale E La Convivenza Comune” atau “Sebuah Dokumen Tentang Persaudaraan Umat Manusia Untuk Perdamaian dan Hidup Bersama”. Dokumen bersejarah ini diterjemahkan dalam 7 (tujuh) bahasa, termasuk Inggris, Arab, Jerman dan Italia.

Deklarasi Abu Dhabi, demikian Markus Solo, merupakan sebuah dokumen yang memiliki makna propetis atau kenabian. Artinya, deklarasi ini memuat hal-hal yang merupakan batu sandungan di dalam perjalananan umat manusia menuju masyarakat yang damai, adil dan makmur secara kasat mata.

"Bantu sandungan itu dimuat secara sangat jelas atau nyata meskipun terasa sangat menyakitkan tetapi sekaligus ingin mengingatkan kepada umat manusia, justru itulah masalah-masalah yang harus ditelusuri bersama secara jujur dan kita cari makna dan solusinya secara bersama-sama pula," papar Markus Solo.

“Jadi, ini merupakan dokumen dengan makna propetis,” imbuhnya.

IMG_20190611_212316

(Kiri ke kanan) Sekretaris Dewan Kepausan Untuk Dialog Antar Umat Beragama, Markus Solo Kewuta, SVD, Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada (Semangat Satu Bangsa) AM Putut Prabantoro, dan Ketua FORKOMA PMKRI Hermawi Franziskus Taslim, saat membahas Konferensi Internasional Perdamaian di Vatikan pekan lalu. [foto: istimewa] 

Sebelumnya, Hermawi Franziskus Taslim selaku Ketua FORKOMA PMKRI, menyampaikan keinginan Forum Alumni Cipayung untuk menyelenggarakan Konferensi Internasional Perdamaian sebagai tindak lanjut dari Deklarasi Abu Dhabi.

Selain FORKOMA PMKRI, Forum Alumni Cipayung terdiri dari Kesatuan Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (PA GMNI), Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII), dan Pengurus Nasional Persatuan Senior Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PN PS-GMKI).

Menurut Taslim, konferensi tersebut akan berlangsung dalam 3 (tiga) seri yang masing-masing diadakan di Vatikan, Kairo (Mesir) dan Jakarta (Indonesia). Konferensi juga dilaksanakan di Jakarta, mengingat Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia.

"Besar harapan, konferensi perdamaian di Vatikan ini dapat dibuka oleh Paus Fransiskus. Sementara di Kairo, Presiden Mesir Abdul Fattah as-Sisi diharapkan dapat membuka secara resmi. Dan di Jakarta, Presiden Joko Widodo diharapkan berkenan secara resmi membuka hajatan besar itu," kata Taslim.

Ia menambahkan, terkait dengan rencana besar konferensi perdamaian ini, pengurus lengkap Forum Alumni Cipayung akan beraudiensi dengan Presiden Joko Widodo. Audiensi dilakukan untuk mendapatkan masukan dan sekaligus dukungan terkait rencana ini.

"Dalam konteks perdamaian, konferensi Forum Alumni Cipayung ini diharapkan akan memberi dampak yang positif bagi perdamaian dunia sebagaimana diharapkan Deklarasi Abu Dhabi,” tegas Taslim.

Konferensi perdamaian yang dilaksanakan Forum Alumni Cipayung ini, masih menurut Taslim, merupakan agenda dan sekaligus momentum strategis untuk Indonesia dan sekaligus menegaskan posisi sentralnya dalam mewujudkan perdamaian global.

“Jika ada observer dari dunia internasional yang ingin menghadiri konferensi perdamaian Alumni Cipayung, kami sangat terbuka. Hanya saja mekanisme sedang digodok bersama, agar tujuan konferensi perdamaian Alumni Cipayung ini sesuai dengan misinya. Konferensi ini juga merupakan cara Indonesia mewujudkan perdamaian dunia sebagaimana yang termuat dalam Pembukaan UUD 1945,” pungkas Taslim.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar