Refleksi Hari Raya Tritunggal Maha Kudus

Minggu, 27 Mei 2018 | 20:05 WIB
Share Tweet Share

Silvester Gea, penulis Alumni Fakultas Teologi Atma Jaya

Oleh Silvester Detianus Gea

Mendengarkan tentang 'Tritunggal Mahakudus' tentu saja tidak asing bagi umat Kristiani. Setiap waktu umat Kristiani terutama Katolik selalu menegaskan keimanan terhadap Tritunggal Maha Kudus dengan tanda salib, baik diawal maupun di akhir doa. Gereja telah mengimani akan misteri Tritunggal Maha Kudus sejak semula, yakni ketika Allah menciptakan manusia dengan FirmanNya dan menghembuskan nafas kehidupan kepadanya. Akan tetapi memahami misteri Allah Tritunggal tentu diperlukan pada masa kini, sehingga keimanan semakin teguh dan kokoh. Kita tentunya sering mendengarkan kisah Santo Agustinus, yang isinya dialog dengan seorang anak di tepi pantai. Dalam kisah itu kita menemukan bahwa Kemahakusaan Allah tidak dapat dibatasi atau dimasukkan ke dalam akal manusia yang terbatas. Baiklah kita membahas tentang Tritunggal dari dua perspektif yaitu Imanen dan transenden.

Pertama, Allah Tritunggal dapat dipahami melalui iman; terkandung dalam pengalaman yang dialami manusia. Pengalaman dicintai dan mencintai, atau pengalaman dibenci namun tetap mencintai, merupakan gambaran dan relasi Allah Tritunggal, Bapa, Putra dan Roh Kudus. Tentu saja hal imanen ini tidak dapat diselaraskan dengan akal semata melainkan dengan perpaduan antara keduanya. Tidak ada yang menyelami secara utuh siapa Allah hanya melalui akal. Bahkan ciptaannya saja atau diri kita tidak mampu kita selami. Kitab Suci sendiri berkata; Yudit 8:14

Sebab lubuk hati manusia saja tak dapat kamu selami dan pikiran-pikiran sanubarinya tak dapat kamu mengertinya. Mana boleh kamu mau menyelidiki Allah yang membuat segala-galanya, mengenal budi-Nya serta memahami pikiran-Nya! Sekali-kali tidak, saudara-saudara! Janganlah memurkakan Tuhan, Allah kita!. Maka Allah Tritunggal ditemukan dalam iman yang berbuah kedamaian, kelemahan lembutan, kesabaran, penguasaan diri, kerendahan hati dan cinta akan keindahan.

Kedua, transenden. Allah Tritunggal merupakan Allah yang transenden yang tak mampu dijangkau oleh otak manusia, supranatural dan terpisah dari alam materi yang terbatas oleh ruang, dan waktu. Ia sesuatu yang luas, lebar dan tinggi, berada di segala tempat dalam waktu yang sama. Maka Allah Tritunggal tidak terbatas pada ruang dan waktu, serta keterbatasan otak manusia.

Ketiga, Allah Tritunggal adalah Allah Esa (Echad), tiga pribadi dalam satu hakekat. Ia bukan Allah yang saling bersaing, atau tiga Allah yang berlomba-lomba untuk berebut ke Allah-han. Ia Allah yang Echad bukan Allah yang Eka (satu numerik) ataupun Yachid. Maka iman Kristiani mempercayai Allah yang Esa (jamak) sebagaimana kesaksian Alkitab.

Editor: Elnoy


Berita Terkait

Inspirasi Indonesia

Rikard Bagun: Wacana Penegakan Keadilan Tampaknya Tak Mudah  

Minggu, 19 November 2017
Inspirasi Indonesia

Habituskan Hidup Ugahari, Keragaman Dapat Dirayakan

Kamis, 08 Maret 2018

Komentar