Rikard Bagun: Wacana Penegakan Keadilan Tampaknya Tak Mudah  

Minggu, 19 November 2017 | 11:11 WIB
Share Tweet Share

Istimewa

[JAKARTA] Wakil Pemimpin Umum Kompas dan Direktur Utama Kompas Tv, Rikard Bagun mengatakan wacana tentang penegakan keadilan tampaknya tidak gambang dan serba canggung di tengah disorientasi nilai sebagai dampak keganasan terjang arus liar perubahan yang berlangsung sangat cepat, serempak, dan seketika.

Gelombang perubahan kata Rikard bergerak begitu cepat di tengah arus waktu yang tidak hanya berlari tunggang langgang, tempus fugit, tetapi bahkan terbang, time flies.

"Begutu cepatnya waktu berjalan, sampai-sampai hari esok sudah dianggap hari ini atau tomorrow is today. Benar-benar tidak sabar, kecepatan menjadi ukuran keunggulan, the survival of the fastest," kata Rikard dalam seminar Panggilan Cendekiawan Katolik Dalam Mewujudkan Keadilan dan Keadaban yang diselenggarakan Komisi Pendidikan Keuskupan Agung (KPKA) Jakarta, pada Sabtu (18/11/2017) di Wisma LDD, Gedung Karya Sosial KAJ, Katedral, Jakarta.

Rikard yang dipercaya menjadi salah satu pembicara dengan tema, keadilan dan keadaban dalam perspektif media massa menjelaskan, arus perubahan seharunya dikelola dan dikendalikan supaya tidak bergerak liar. Namun Rikard mengakui belum ada yang bisa mengendalikan hal itu.

"Siapakah yang mampu melakukannya? Belum ada yang bisa segera menjawab. Ibarat badai arus perubahan menerjang keras ke mana-mana, tidak memilih-milih sasaran, membuat kedodoran berbagai sendi kehidupan, tidak terkecuali sistem nilai," ujar Rikard.

Menurut Rikard, semakin muncul kegamangan karena gelombang perubahan telah meningkat menjadi tsunami yang dipicu dan dipacu oleh kemajuan teknologi komunikasi, khususnya teknologi media digital.

"Perkembangan pesat media digital telah menciptakan guncangan keras dalam banyak hal," katanya.

Lebih lanjut Ia mengatakan, kemajuan teknologi media sosial telah menciptakan kekacauan, disorientasi nilai, mengaburkan batas-batas nilai, bahkan semakin tidak jelas batas antara baik dan buruk, antara benar dan salah.

"Sulit dibedakan antara sensasi dan substansi. Garis pembatas antara kepalsuan, hoax, dengan keaslian, orisinal, menjadi samar-samar," paparnya.

Mantan Pemimpin Rekdaksi Kompas ini juga menguaraikan, upaya menegakan keadilan di tengah sistem nilai yang dikacaukan oleh perkembangan teknologi digital menjadi persoalan tersendiri. Upaya penegakan keadilan, termasuk oleh para dosen di Perguruan Tinggi, sudah pasti memberikan efek demonstratif jika dilakukan dengan sungguh-sungguh.

"Para dosen dan mahasiswa harus merasa terpanggil membereskan berbagai persoalan ketimpangan sosial di sekitar kampusnya masing-masing dan penelitian di kampus-kampus perlu diarahkan untuk memproduksi sesuatu yang nyata bagi kebutuhan dasar masyarakat, terutama bagi kelompok yang terpinggirkan, sebagai upaya mengurangi kesenjangan sosial," imbuhnya.

Selain Rikard Bagun dua pembicara lain yakni Dr. Francisco Budi Hardiman, dan Deputi Komunikasi KSP RI, Dr Yanuar Nugroho menyoroti persoalan keadilan dan keadaban dari perspektif filsafat dan komitmen pemerintahan Jokowi-JK.

Seminar yang dihadiri seratus lebih dosen katolik dari berbagai Perguruan Tinggi di Jakarta ini dipandu Romanus Lendong yang bertindak sebagai moderator.

Editor: Mus


Berita Terkait

Komentar