Ada Pihak Perkeruh Situasi, Komisaris Sky Garden Luruskan Pemberitaan

Senin, 12 Agustus 2019 | 19:57 WIB
Share Tweet Share

Markus Karel Senen dalam kondisi stroke. [foto: istimewa]

[DENPASAR, INDONESIAKORAN.COM] Munculnya berita terkait penganiayaan serta adanya pencurian uang di Sky Garden, membuat pihak Sky Garden buka mulut. Pihak Sky Garden merasa perlu melakukan pelurusan atas berita yang berkembang, agar tidak ada pihak – pihak yang sengaja menggiring opini, apalagi sampai mengaburkan fakta – fakta yang sesungguhnya terjadi.

"Ada beberapa fakta yang dikaburkan, bahkan ada wacana dan opini yang digiring untuk menyudutkan pihak – pihak tertentu, yaitu Titian Wilaras, selaku owner dengan saham mayoritas yaitu 66 persen (di Sky Garden)," kata Dewan Komisaris Sky Garden (PT ESC Urban Food Station) AA Ngurah Agung, dalam klarifikasi tertulisnya, Senin (12/8/2019).

“Ini sebenarya ada pihak yang ingin membuat keruh, ingin memancing dan terus membuat situasi tidak kondusif. Atas kondisi ini kami ingin memberikan klarifikasi, agar informasi di masyarakat tidak masalah salah. Dan ini adalah wujud keberimbangan informasi yang harus disajikan oleh media,” imbuhnya.

Titian Wilaras Adalah Pelapor

Agung Ngurah menjelaskan, fakta sesungguhnya adalah Titian Wilaras merupakan pelapor dalam kasus pencurian dengan Nomor TPL/ 196/ VIII/ 2019/ Bali/ RestaDPS/ SekKuta. Dalam kasus ini, disebutkan bahwa pada tanggal 7 Agustus 2019 sekitar Pukul 22.00 di Jalan Legian, Kuta Badung, atau di ruangan kasir Sky Garden, ketika kasir memasukkan uang ke dalam kantong plastik, tiba – tiba datang seorang laki – laki yang tidak dikenal merampas uang itu dan langsung dilarikan.

Ada rekaman CCTV, yang bisa menjelaskan kejadian tersebut yang sesungguhnya. Namun, ada yang sengaja membangun opini, seolah - olah orang Titian Wilaras yang mengambil uang tersebut.

“Posisinya, Titian Wilaras ini adalah pelapor dalam pencurian Rp 300 juta. Kemudian dibangun opini, orang Titian Wilaras mengambil uang. Ini aneh, untuk seorang pemilik saham 66 persen, merampas usahanya sendiri,” urai Agung Ngurah.

Bahkan, menurut dia, ada media yang menulis bahwa Pamela Wilaras dan Anne merampas uang atas suruhan Titian Wilaras pada Kamis (8/8/2019) Pukul 17.30 Wita.

"Sekali lagi, kami ingin memastikan bahwa Titian Wilaras adalah pelapor. Pamela Wilaras itu adalah anak dari Titian Wilaras,” tandas Agung Ngurah.

Markus dalam Kondisi Stroke

Tak hanya itu, lanjut dia, muncul juga berita - berita yang menyebut bahwa ada penganiayaan yang dilakukan oleh Markus Karel Senen. Bahkan disebut – sebut dalam pemberitaan, orang ini terkait dengan sebuah organisasi preman asal Belanda yaitu Satu Darah.

Markus Karel disebut melakukan penganiayaan hingga membuat babak belur. Bahkan disebutkan pula, gigi pegawai Sadewa dan Stave, sampai rontok.

"Kami meluruskan, bahwa yang benar adalah Markus ini datang bukan untuk bikin onar. Dia datang malah untuk memantau Sky Garden sebagai investor, yang tertarik membeli Sky Garden. Markus adalah warga negara Indonesia yang sudah 30 tahun di Belanda. Jadi tidak ada hubungannya, dengan organisasi di Belanda yaitu Satu Darah. Markus datang sebagai investor, yang tertarik membeli Sky Garden,” urai Agung Ngurah.

Yang terjadi, menurut dia, ada pihak – pihak yang memancing, hingga akhirnya Markus menampar. Tetap bukan menganiaya sampai gigi rontok.

“Menampar, karena malah ada pihak yang sengaja memancing, hingga Markus sempat emosi,” jelas Agung Ngurah, yang juga seorang pengacara ini.

Ditegaskan, sangat tidak mungkin Markus bisa menganiaya orang, apalagi disebut dengan gaya preman. Pasalnya, Markus dalam kondisi stroke, dan sempat mengalami pecah pembuluh darah di kepala, lima kali.

“Catatan medis jelas ada. Markus itu stroke. Jadi sangat tidak mungkin bisa menganiaya seperti yang diberitakan itu. Ini mohon diluruskan,” ucapnya.

“Termasuk ada yang menulis bahwa ada yang menodongkan pistol ke Pak Suwarno. Itu juga fitnah dan pembunuhan karakter, itu tidak benar. Bisa dicek secara detail, saya cek, tidak ada itu,” imbuh Agung Ngurah.

Janggal, Direktur Dikabarkan Berseberangan dengan Pemilik

Sementara itu terkait dengan kasus pidananya, akan dilakukan proses komunikasi secara kekeluargaan dan internal di Sky Garden. Agung Ngurah menyebutkan, semoga ada titik temu. Kemudian secara internal Sky Garden juga akan ada evaluasi dan klarifikasi juga terhadap Direktur Suwarno. Karena menjadi aneh juga, malah ada kesan Direktur yang adalah pegawai dari pemilik atau owner, dibuatkan opini malah berseberangan. Ini juga disebutnya sebagai kejanggalan.

“Jadi, ada banyak opini yang dibangun sangat janggal. Pemilik dibilang mencuri, Direktur seolah benturan dengan pemilik. Ini akan kami evaluasi, kami akan klarifikasi juga kepada Direktur. Biarkan ini menjadi ranah internal kami,” tandas Agung Ngurah.

“Saya sekalu Komisaris, tetap akan membicarakan persoalan ini secara kekeluargaan kepada pihak Direktur dan pemegang saham. Bisa berjalan sesuai harapan. Ke depan bisa selesai polemik dengan duduk bersama. Saya memohon maaf kepada semua jajaran atas situasi tidak nyaman ini,” tutur Ngurah Agung.

Jangan Ada Pihak Perkeruh Situasi

Harapan lainnya, Agung Ngurah memohon agar pihak – pihak yang terus berusaha untuk memperkeruh kondisi Sky Garden agar sadar. Bahkan Sky Garden menampung karyawan sangat banyak, menghidupi dan menjadi ladang mencari makan banyak orang.

“Kami mohon agar berhenti berbuat untuk mengacaukan. Kasihan ini menyangkut perut orang banyak. Kami mohon hentikan cara – cara untuk mengacau. Biarkan karyawan nyaman beraktivitas di Sky garden,” harap pria asal Karangasem ini.

Selain itu, terkait dengan pelecehan terhadap anak pemilik yaitu Pamela Wilaras, oleh koki Sadewa, Agung Ngurah juga mengaku akan menjadi atensinya.

Ada fakta menyebutkan, Pamela yang adalah Manager HRD merasa dilecehkan oleh Sadewa. Kemudian memberikan SP 1 kepada Sadewa. Namun faktanya, malah Sadewa dalam kondisi bermasalah menjadi Manager HRD. Yang menjadi semakin aneh, korban Pamela malah dijadikan pegawai dapur.

“Jadi anak pemilik dipindakan oleh Direktur menjadi pegawai dapur. Yang melecehkan malah menjadi Manager HRD menggantikan korban Pamela. Ini akan kami atensi diinternal dulu,” tegas Agung Ngurah, sembari memohon kerja sama media melansir klarifikasi tersebut.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar