Mafia Tanah Kembali Beraksi, Korban Minta Bantuan Togar Situmorang

Minggu, 28 Juli 2019 | 23:34 WIB
Share Tweet Share

Korban mafia tanah Iin Atika Malonda (kiri) bersama advokat senior Togar Situmorang. [foto: istimewa]

[DENPASAR, INDONESIAKORAN.COM] Mafia tanah benar-benar menjadi salah satu momok bagi Bali. Iming-iming harga yang menggiurkan, membuat banyak pemilik tanah yang justru tergiur untuk melakukan transaksi jual beli namun pada akhirnya malah "gigit jari".

Sudah cukup banyak pemilik tanah di Bali menjadi korban aksi para mafia tanah ini. Yang terbaru adalah Iin Atika Malonda. Perempuan yang kini bekerja di Norwegia sebagai travel consultant itu menambah daftar korban mafia tanah.

Atika Malonda menjadi korban dalam transaksi jual beli villa miliknya di Jalan Gita Kencana, Gang Kencana 2, Jimbaran, Kabupaten Badung. Dalam penjualan villa senilai miliaran rupiah tersebut, Atika Malonda justru hanya mendapatkan uang sebesar Rp 500 juta.

Ia lalu melaporkan kasus ini ke Polda Bali tahun 2018 lalu. Berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP/ 45/ IX/ 2018/ Bali/ SPKT, Polda Bali kemudian melakukan penyelidikan dan telah menetapkan dua tersangka dalam kasus ini yakni Ahmad Yuda dan Christien Hartoyo. Keduanya disangkakan pasal tindak pidana penipuan dan penggelapan.

Kedua tersangka tersebut juga telah masuk dalam DPO (Daftar Pencarian Orang) yang diterbitkan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Bali sejak tanggal 21 Maret 2019 dengan Nomor: DPO/ 06/ III/Res.1.11/ 2019/ Ditreskrimum.

Guna mengawal kasus tersebut, belum lama ini Atika Malonda juga meminta bantuan hukum kepada advokat senior Dr (C) Togar Situmorang, SH, MH, MAP. Atika Malonda bahkan langsung menemui advokat yang dijuluki Panglima Hukum itu di Law Firm Togar Situmorang & Associates, Jalan Gatot Subroto Timur nomor 22 Denpasar.

Di hadapan Togar, Atika Malonda menceritakan kronologis kejadian hingga dirinya menjadi korban mafia tanah. Ia menuturkan, kasus ini berawal ketika tanggal 27 Desember 2017 ada seorang bersama Ahmad (tersangka) datang dan menyampaikan niatnya untuk membeli obyek villa milik Atika Malonda.

"Ketika itu, disepakati bahwa harga villa tersebut sebesar Rp7,5 miliar. Disepakati pula bahwa pembayaran dilakukan dalam beberapa termin. Rinciannya, uang muka Rp 500 juta, pembayaran bulan kedua Rp 3,5 miliar, serta bulan ketiga sebesar Rp 3,5 miliar," urainya.

Menurut Atika Malonda, pada tanggal  3 Januari 2018 seharusnya dilakukan penandatanganan. Namun ketika itu, Ahmad tidak datang. Ahmad meminta Christien, partnernya, untuk menandatangani transaksi jual beli villa tersebut.

Selanjutnya pada tanggal 4 Januari 2018, Christien datang bersama dua orang anaknya untuk mengecek villa dan melihat sertifikat asli tanah tersebut. Namun penandatanganan jual beli kembali ditunda, dengan alasan Ahmad selaku partnernya masih berada di Jakarta.

"Karena saya harus pulang ke Norwegia, saya memberikan kuasa kepada Ade Novit untuk menandatangai PPJB (Perjanjian Pengikatan Jual Beli) di Notaris Edy Winarta, yang saya tunjuk," papar Atika Malonda.

Pada tanggal 14 Januari 2019, Christien (tersangka) menyampaikan bahwa mereka (Christien dan Ahmad, red) mengajukan apraisal ke bank sebesar Rp 2,5 miliar atas villa milik Atika Malonda.

"Kami diminta untuk menerima uang Rp 2,5 miliar dan selanjutnya dikembalikan ke mereka (Christien dan Ahmad, red) Rp 2 miliar," ucapnya.

Hal ini dilakukan, imbuhnya, karena sesuai perjanjian awal bahwa pihaknya selaku penjual villa akan menerima uang muka Rp 500 juta. Agar semua urusan lancar, oleh pihak Christien selanjutnya meminta agar pihak Atika mengiyakan semua yang disampaikan oleh notaris.

Dalam perjalanan, akhirnya PPJB berlangsung di notaris yang ditunjuk oleh pihak Ahmad dan Christien, yakni Notaris lKS. Namun ada kejanggalan dalam transaksi ini, di mana dalam PPJB bukan atas Christien atau Ahmad dengan Ade Novit selaku pemegang kuasa pemilik vila Atika Malonda,
melainkan atas nama AL selaku pembeli.

Saat hal ini sempat ditanyakan oleh perwakilan pihak Atika Malonda (korban), tersangka Christien hanya menjawab bahwa AL adalah pihak yang membiayai jual beli.

Singkat cerita, setelah dari notaris, semua pihak ke bank. AL kemudian mentransfer uang ke Ade Novit (pemegang kuasa Iin Atika Malonda) sebesar Rp 2,5 miliar. Kemudian Ade Novit diminta mentransfer kembali ke blanko bank yang sudah disiapkan.

"Rinciannya Rp 500 juta ke F tangan kanan AL, dan tertulis pembayaran hutang. Lalu Rp 33 juta ke notaris untuk fee. Selanjutnya Rp 1, 466 miliar ke Ahmad Yuda (tersangka)," jelas Atika Malonda.

Seluruh proses tersebut berlangsung saat Atika Malonda berada di Norwegia. Setelah kejadian tersebut dan Atika Malonda kembali ke Indonesia, Chriestien (tersangka) mengembalikan uang dan mentransfer ke F sebesar Rp 600 juta.

"Jadi sampai saat ini, saya hanya menerima Rp 500 juta uang muka seperti yang dijanjikan di awal. Sementara di PPJB, sudah dibuat lunas dan hingga saat ini saya tidak menerima sisa pembayaran sesuai yang disepakati," ujar Atika Malonda.

Ia pun berharap, Polda Bali dapat menuntaskan kasus ini. Polda Bali juga diharapkan dapat memberantas mafia tanah di Bali.

"Bapak Kapolda tolong tegakkan supremasi hukum terhadap korban mafia tanah di Bali seperti saya," harapnya.

Sementara itu advokat Togar Situmorang, pada kesempatan tersebut memastikan bahwa pihaknya siap membantu korban. Togar yang masuk daftar 100 Advokat Hebat versi Majalah Property&Bank ini juga berharap Kapolda Bali dan jajaran dapat memerangi para mafia tanah di Pulau Dewata.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar