Anak Ketua NasDem Buleleng Dilaporkan ke Polda Bali, Kenapa?

Jumat, 07 Juni 2019 | 19:22 WIB
Share Tweet Share

Komang Edi Arta Wijaya alias Dewa Jeck, warga asal Kelurahan Kampung Anyar, Buleleng, didampingi kuasa hukumnya AA Gede Parwata, SH, usai melaporkan kasus dugaan pencemaran nama baik, ke Polda Bali. [foto: istimewa]

DENPASAR, INDONESIAKORAN.COM] Dinamika di internal Partai NasDem Kabupaten Buleleng, terus memanas. Selain adanya laporan ke Mahkamah Partai NasDem serta Kapolri terkait dugaan praktik money politic yang dilakukan calon anggota DPRD Provinsi Bali Dapil Buleleng dari Partai NasDem Dr Somvir, pada Pemilu Legislatif 2019 lalu, kini giliran putra Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Buleleng I Made Suparjo, justru dilaporkan ke Polda Bali.

Wahyu Indra, putra Suparjo, dilaporkan ke polisi karena diduga telah melakukan pencemaran nama baik dengan menyebarkan video di Grup Suara Buleleng, tanggal 4 Juni 2019 lalu, melalui akun Facebook.

Adalah Komang Edi Arta Wijaya alias Dewa Jeck, warga asal Kelurahan Kampung Anyar, Buleleng, yang melaporkan Wahyu Indra ke Reserse Kriminal Khusus Polda Bali, Jumat (7/6/2019). Dewa Jeck tidak terima namanya diviralkan melalui media sosial Facebook dan disebut- sebut menjanjikan uang  Rp150.000 kepada Evi, warga asal Kebon Sari, Buleleng, pada pileg 17 April 2019 untuk memilih salah satu caleg.

Seperti disaksikan, Dewa Jeck melaporkan kasus ini ke Polda Bali dengan didampingi langsung kuasa hukumnya AA Gede Parwata, SH.

"Kami mendampingi pelapor, bahwa ada dugaan pencemaran nama baik yang dilakukan oleh akun Facebook atas nama Wahyu Indra, bahwasanya pelapor tidak terima ada uploadan di Facebook bahwa dia disebutkan menemui yang bersangkutan dengan menjanjikan uang. Karena dia tidak merasa melakukan perbuatan itu dan rasanya dihina, nama baiknya dicemar, untuk itu klien kami melaporkan akun Facebook tersebut ke Polda Bali dan menyerahkan bukti - bukti,” papar Agung Parwata, usai laporan tersebut.

Disinggung kenapa kasus ini tak dilaporkan ke Polres Buleleng, Agung Parwata menjelaskan, kasus ini sengaja dibawa ke Polda Bali karena pihaknya tidak ingin merepotkan jajaran Polres Buleleng.

“Karena ini masih menyangkut calon anggota DPRD Provinsi Bali, sehingga lebih pas ditangani Polda Bali,” tandas Agung Parwata.

Terkait pasal yang digunakan untuk menjerat terlapor, Agung Parwata mengatakan, pihaknya menggunakan UU Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), khususnya Pasal 27 ayat (3) tentang pencemaran nama baik, dan Pasal 45 ayat (1) tentang sanksi pidana penjara maksimum 6 tahun dan/ atau denda maksimum Rp 1 miliar.

Sementara itu, Dewa Jeck menjelaskan, laporannya diterima Brigadir Gede Edi Kurniawan, dengan Nomor Laporan Dumas/ 105/ VI/ 2019/ SPKT, tertanggal 7 Juni 2019.

Menurut Dewa Jeck, Wahyu Indra telah mencemarkan nama baiknya dengan menyebarkan sebuah video berisikan adegan yang menyebutkan bahwa Dewa Jeck menjanjikan kepada salah satu orang yang ada dalam video tersebut untuk mencoblos salah seorang caleg dari partai tertentu pada Pemilu Legislatif 17 April lalu.

“Dan saya dibilang menjanjikan untuk memberikan uang senilai Rp150.000 dan menyebut saya Bang Jeck dengan alamat Kampung Anyar,” beber Dewa Jeck.

Ia mengetahui video itu pada hari Selasa tanggal 3 Juni 2019 malam sekitar Pukul 19.00 WITA. Beredarnya video dugaan pencemaran nama baik Dewa Jeck yang dilakukan Wahyu Indra itu diberitahu oleh istri Dewa Jeck. Istri Dewa Jeck mengetahui video itu disebarkan melalui akun Facebook atas nama Wahyu Indra.

“Saya menilai video yang dishare oleh akun Facebook Wahyu Indra tersebut menyebut nama dan alamat tempat tinggal saya, sehingga seakan-akan saya menyuruh orang yang ada di video tersebut untuk mencoblos salah satu partai. Padahal, saya sendiri tidak kenal orang di video itu,” ujar Dewa Jeck.

“Saya merasa dicemarkan nama baik saya melalui video yang dishare melalui media sosial Facabook tersebut oleh akun atas nama Wahyu Indra,” pungkas Dewa Jeck.

Hingga berita ini diturunkan, indonesiakoran.com belum berhasil mengonfirmasi Wahyu Indra.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar