Kisruh Sky Garden, Manajemen Lama Ngemplang Pajak Rp25 Miliar?

Jumat, 22 Maret 2019 | 07:55 WIB
Share Tweet Share

Duda Titian Wilaras alias Kris (dua dari kanan) beserta tim memberikan klarifikasi terhadap tudingan manajemen lama Sky Garden. [foto: istimewa]

[DENPASAR, INDONESIAKORAN.COM] Konflik di internal salah satu club malam populer di Bali, Sky Garden, terus memanas. Sebelumnya, Selasa (19/3/2019) lalu, manajemen lama Sky Garden melaporkan manajemen baru masing-masing Thomas Bodo Deutsch, Duda Titian Wilaras alias Kris dan I Gusti Agung Ngurah Agung ke Mapolresta Denpasar, dengan tuduhan penipuan.

Selain manajemen baru, Notaris Ni Ketut Ardani juga dipolisikan dengan tuduhan penyalahgunaan jabatan notaris dan pemalsuan akta otentik. Mereka dilaporkan salah seorang pemegang saham perusahaan yang membawahi Sky Garden, Yuliana, dengan Nomor Reg: DUMAS/ 241/ III/ 2019/ BALI/ RESTA DPS.

Laporan ini membuat manajemen baru geregetan. Kepada wartawan di Denpasar, Kamis (21/3/2019), manajemen baru Sky Garden, Duda Titian Wilaras alias Kris, akhirnya membeberkan beberapa hal terkait manajemen lama Sky Garden.

Salah satunya, tanggungan PHR (Pajak Hotel dan Restoran) yang sengaja tidak dibayarkan oleh manajemen lama Sky Garden sejak tahun 2015. Jumlahnya mencapai miliaran rupiah. Karena ketidakmampuan membayar tanggungan tersebut, saham sebesar 66 persen akhirnya dijual kepada Kris.

Menariknya lagi, masih menurut pengakuan Kris, rupanya manajemen lama Sky Garden juga tidak pernah melunasi hutang suplayer yang menjadi rekanan, dan bahkan tidak memiliki izin mendirikan bangunan (IMB).

“Sebenarnya yang penipu itu ya, manajemen lama. Dijual ke saya itu rupanya memiliki banyak tanggungan, baik PHR maupun utang suplayer yang mencapai Rp25 miliar, yang selama setahun tidak dibayarkan. Pajak PHR di atas Rp9 miliar, tidak dibayar sama mereka. Tidak ada IMB, sewa tanah expired, izin operasional mati dan tidak ada izin dan tidak membayar pajak Video Trone,” bebernya.

Sky Garden resmi dialihkan kepada Kris sejak 16 Januari 2019 lalu. Sayangnya, dalam proses jual beli tersebut, Kris merasa dipermainkan oleh manajemen lama.

Soal tudingan manajemen lama terhadap Kris, yang diduga melakukan penipuan, dimentahkan Kris dengan beberapa bukti kuat dan kartu merah yang dikantonginya. Dalam minggu ini, Kris bersama kuasa hukumnya pun berencana melapor balik lawannya tersebut dengan tuduhan penipuan.

Kris menyebut, pemilik saham sebesar 66 persen yang dibelinya adalah warga negara Kanada, Sean Brian McAloney alias Son, yang kemudian dinominikan ke Yuliana. Sehingga dalam proses jual beli ini, Kris berurusan dengan Son, meskipun Yuliana tertera sebagai Direktur PT ESC yang menaungi Sky Garden.

Dalam kesepakatan jual beli saham senilai 66 persen tersebut, kedua belah pihak bersedia menandatangani perjanjian di notaris yang telah ditunjuk, yakni Ni Ketut Ardani. Ironisnya, Ardani ternyata turut dilaporkan Yuliana ke polisi terkait tuduhan penyalahgunaan jabatan notaris dan pemalsuan akta otentik.

“Sama sekali tidak benar apa yang dituduhkan kepada kami. Karena kami membeli saham corporase itu perjanjian dilakukan di notaris dan akta pun sudah ada. Dua akta pengesahan sudah ada. Proses yang lain-lain inilah yang dibesar-besarkan,” tandasnya.

Soal tiga unit yacht yang sebenarnya seharga Rp40 miliar sebagai pembayaran sebagian saham itu, Kris mengatakan, hal itu sesuai kesepakatan bersama Son, yang diserahkan terimakan pada 17 Januari 2019 lalu di Singapura.

Son sendiri saat itu berkeinginan membangun bisnis carter kapal dengan yacht tersebut. Sehingga pihak Son tertarik menerima pembayaran dengan 3 unit yacth tersebut.

Terkait tudingan bahwa pihaknya tidak menyelesaikan pembayaran sisa saham 66 persen tersebut, disebut Kris keliru besar. Sebab dalam kesepakatan awal dari harga saham Rp40 miliar (saham 66 persen), memang pembayaran dilakukan dengan uang Rp5 miliar sebagai tanda jadi dan 3 unit yacth senilai Rp18 miliar tersebut. Sisanya akan dicicil 10 kali.

“Kami itu sudah membayar langsung ke Son. Karena dia kan yang punya saham itu. Pembayaran langsung ke kantong Son. Yuliana itu kan nomini, sehingga urusannya dengan Yuliana itu masalah akta. Memang dalam jual beli ini dia itu niatnya sudah tidak baik. Memang sudah disetting supaya begini. Ini cara mainnya dia. Saat saya mau bayar cicilan saja ditolak,” jelas Kris.

Yang lebih mengejutkan lagi, rupanya seminggu sejak kesepakatan jual beli terhitung dari tanggal 16 Januari 2019 lalu, Kris mengelola Sky Garden tanpa ada hasil. Berbagai file dan data penting di komputer digembok, termasuk data karyawan dan suplaiyer.

Semua pendapatan hasil penjualan di Sky Garden langsung masuk ke rekening Bank Danamon, yang kini dipegang manajemen lama diblokir. Sehingga pihaknya tidak kecipratan uang hasil tersebut, bahkan untuk melunasi utang ke suplayer sebelumnya.

“Kondisinya ya demikian. Siapa yang mengambil uang? Ya mereka. Rekening Bank Danamon itu kan mereka yang pegang. Sementara tiba-tiba datang tagihan suplayer bermiliar-miliar. Mana saya tahu ternyata itu hutang sudah ada sebelumnya, yang sengaja mereka tidak membayarnya,” urai Kris.

Dalam perjanjian jual beli tersebut dengan pihak ketiga, maksimal pembayaran hanya Rp40 miliar. Dalam jual beli tersebut pun, Kris tidak pernah diizinkan untuk mengetahui terkait pajak, izin dan lain sebagainya.

Dalam perjanjian itu, tertera jika ada pembayaran yang tidak tersangkut dengan perjanjian boleh dikeluarkan dari pembayaran. Kenyataannya, tidak demikian. Sewaktu transaksi tanggal 16 Januari 2019, Kris tidak diberitahukan terkait izin yang sudah mati.

“Kami sebagai pembeli yang baik. Hendak membayar sesuai perjanjian. Tapi mereka menolak. Janjinya setelah perjanjian akan memberikan dokumen, tapi nyatanya tidak. Ini kami sudah kadung nyemplung. Tidak hanya uang Rp5 miliar. Bahkan kami sudah melunasi hutang ke suplayer sebesar Rp25 miliar," kata Kris.

"Ya, mohon maaf kalau untuk pembayaran pajak kami belum bisa membayar lantaran pembayaran kan harus melalui direksi yang tidak lain anak buahnya Rifan itu. Direksinya kan belum diganti,” imbuhnya.

Rifan, lanjut Kris, sahamnya hanya 1 persen. Hanya sekitar Rp 6 juta saja di Sky Garden. Itu pun diberikan karena jasanya.

"Kalau dibandingkan uang Rp5 miliar DP saya, banyakan mana? Nggak ada hubungannya sama kami, dia itu. Urusannya sama dia sudah selesai," pungkasnya.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar