Togar Situmorang: PM 118 Tak Melarang Taksi Online Masuk Bandara

Rabu, 20 Maret 2019 | 11:43 WIB
Share Tweet Share

Togar Situmorang. [foto: istimewa]

[DENPASAR, INDONESIAKORAN.COM] Kasus dugaan persekusi dan kekerasan fisik yang terjadi di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, kini sedang ditangani Polresta Denpasar. Korban persekusi didampingi tim hukum dari Law Firm Togar Situmorang & Asociates, melaporkan kasus ini ke polisi.

Advokat kawakan Togar Situmorang, SH, MH, MAP, selaku kuasa hukum korban sekaligus pelapor, berkomitmen untuk mengawal serius kasus ini. Apalagi soal operasional taksi online sesungguhnya sudah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor PM 118 Tahun 2018 Tentang Penyelenggaraan Angkutan Sewa Khusus.

Baca Juga:
Persekusi Sopir Taksi Online Berbuntut Laporan ke Polresta Denpasar

Menurut Togar, kriteria pelayanan sebagaimana diatur dalam Pasal 3 Poin A PM 118 menyebutkan bahwa wilayah operasi berada di dalam kawasan perkotaan dan dari dan ke bandar udara, pelabuhan, atau simpul transportasi lainnya.

“Artinya, tidak ada larangan yang melarang warga Negara Indonesia untuk mencari nafkah di mana saja. Termasuk taksi online tidak dilarang beroperasi di bandara,” tandas Togar, di Denpasar, Rabu (20/3/2019).

Baca Juga:
Persekusi Sopir Taksi Online, Polisi Periksa Korban dan Saksi

Togar yang juga calon anggota DPRD Provinsi Bali Dapil Kota Denpasar dari Partai Golkar itu menambahkan, saat ini zamannya dunia dalam genggaman. Artinya, cara kerja taksi online tersebut juga mengikuti kemajuan teknologi yang ada.

"Mereka datang karena adanya pesanan dari penumpang di bandara. Mereka tidak mangkal seperti taksi konvensional. Kalau memang mereka mangkal dan mengambil lahan mangkal taksi konvensional, itu beda cerita," tegas Dewan Penasihat Forum Bela Negara ini.

Baca Juga:
Togar Situmorang Optimis Melenggang Mulus ke DPRD Bali, Karena Ini

Menurut dia, para sopir taksi konvensional memang disediakan lahan oleh pihak Angkasa Pura Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai untuk parkir. Berbeda dengan taksi online, yang tidak mangkal di bandara, namun masuk bandara karena ada pesanan penumpang.

“Taksi online datang karena pesanan. Lalu mereka pergi ke tempat yang sudah ditentukan. Lalu, di mana letak salahnya? Parkir juga mereka bayar, kan?" ujar Togar, yang juga Ketua Umum POSSI (Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia) Kota Denpasar itu.

Ketika taksi online datang karena pesanan penumpang, imbuhnya, maka tidak ada alasan bagi taksi konvensional untuk mempermasalahkan hal tersebut. Apalagi, hal tersebut tidak merugikan taksi konvensional.

Baca Juga:
Togar Situmorang Komit Bela Rakyat Kecil Tanpa Imbalan

“Dari segi mananya taksi konvensional dirugikan? Ini kan sederhana, penumpang yang menghubungi driver taksi online melalui aplikasi. Jadi penumpang yang memilih taksi online," kata Togar, yang sedang menyelesaikan studi S3 Ilmu Hukum di Universitas Udayana ini.

Bagi Togar, sulit dipahami ketika para sopir taksi konvensional mempersoalkan kehadiran taksi online di bandara. Apalagi sampai melakukan persekusi hingga kekerasan terhadap sopir taksi online.

"Ini kan tergantung konsumen, dalam hal ini penumpang. Mau naik taksi konvensional yang ada di bandara atau mau menggunakan jasa taksi online. Ketika para penumpang lebih memilih taksi online, apakah hal tersebut menjadi salahnya taksi online? Mari berpikir jernih. Sama-sama cari makan, jangan arogan!" pungkas Togar.

Screenshot_2019-03-20-13-00-39_com.outthinking.collagelayout_1553058080812

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar