Heboh Kasus Dugaan Paedofilia, Togar Dukung Sikap Tegas Polda Bali

Jumat, 22 Februari 2019 | 22:05 WIB
Share Tweet Share

Togar Situmorang. [foto: istimewa]

[DENPASAR, INDONESIAKORAN.COM] Selama beberapa pekan terakhir, masyarakat Bali gaduh lantaran kasus dugaan paedofilia yang disinyalir melibatkan salah satu tokoh masyarakat beberapa tahun lalu, justru kembali muncul ke permukaan. Bahkan beberapa kelompok mendesak agar kasus ini segera diusut tuntas oleh Polda Bali.

Hanya saja, Polda Bali tak serta - merta mengamini desakan tersebut. Dengan berbagai pertimbangan, Polda Bali justru memutuskan menghentikan penyelidikan kasus yang diduga terjadi di salah satu asrama di Klungkung, Bali itu.

“Saya tidak mau melakukan penyelidikan ataupun penyidikan yang disebut dengan testimonium de auditio. Saksi yang katanya. Jadi sampai sekarang tidak ada bisa mengatakan itu, yang bilang justru orang tidak mengerti, ini justru mencederai tugas kami kepolisian untuk menjaga privasi anak-anak, hak asasi anak-anak,” kata Kapolda Bali Irjen Petrus Reinhard Golose di Denpasar, Bali, Rabu (20/2/2019), seperti dikutip detik.com.

Baca Juga:
Togar Situmorang Optimis Melenggang Mulus ke DPRD Bali, Karena Ini

Golose menambahkan, para korban yang disebut-sebut sebagai anak-anak itu, kini sudah dewasa. Pihaknya juga tak mau kasus dugaan paedofilia itu ditunggangi untuk pencitraan pihak tertentu. 

“Harus diingat bahwa kita harus mengamankan hak orang. Kasus dugaan paedofil ini dimunculkan pada tahun 2015, kejadiannya pada waktu sebelumnya. Jadi bayangin kemudian dieksplor oleh orang-orang tertentu yang hanya tidak punya reasoning yang baik, tidak punya dasar yang baik, hanya mau mengeksploitasi berita, untuk anak-anak yang notabene korbannya sudah dewasa. Kita harus lindungi privasinya, tetapi oleh oknum-oknum tertentu dimanfaatkan untuk pencitraan dan sebagainya,” tandas Golose. 

Baca Juga:
Jika Terpilih Togar Situmorang Lirik Kursi Komisi I DPRD Bali, Kenapa?

Dikatakan, pihaknya serius mengusut kasus paedofilia. Tetapi untuk kasus yang satu ini, pihaknya enggan mengusut, karena banyak ditunggangi kepentingan. 

“Saya sudah perintahkan tidak ada itu dan tidak ada yang bicara paedofilia. Jangan kita mengangkat kata-kata ‘paedofilia’ kalau kita tidak punya dasar dan reasoning,” tegas Golose. 

Jangan Ada yang Mendongeng!

Menariknya, keputusan Kapolda Bali ini disambut positif banyak kalangan, termasuk "Panglima Hukum" Togar Situmorang, SH, MH, MAP.

“Kami dukung sikap tegas Kapolda  Bali. Sudah semestinya kasus yang tidak ada laporan dan tidak jelas siapa korban maupun terduga pelakunya ini ditutup,” ujar Togar, di Denpasar, Jumat (22/2/2019).

Ia pun meminta agar semua pihak tidak lagi memanfaatkan kasus ini. Apalagi jika hal itu justru dilakukan untuk kepentingan pencitraan semata.

"Jangan lagi ada pihak-pihak yang mendongeng! Jangan dramalah!" tandas pemilik Law Firm Togar Situmorang & Associates ini.

Baca Juga:
Togar Situmorang Komit Bela Rakyat Kecil Tanpa Imbalan

Menurut Togar, pernyataan Kapolda Bali bahwa hukum tidak bisa dinilai dari katanya atau berdasarkan testimonium de auditio, sudah tepat. Testimonium de auditio adalah kesaksian atau keterangan karena mendengar dari orang lain yang pada prinsipnya tidak dapat diterima sebagai alat bukti.

“Karena saksi menurut KUHAP adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri,” urai Togar, yang juga calon anggota DPRD Provinsi Bali Dapil Kota Denpasar dari Partai Golkar ini.

Ia menambahkan, sebagaimana diketahui bahwa berita kasus ini sudah terjadi beberapa tahun lalu. Namun saat ini, kembali berkembang ketika Ketua Komnas Perlindungan Anak (KPA) Arist Merdeka Sirait mengunjungi Ashram Klungkung untuk menemui pengelolanya.

Baca Juga:
Togar Situmorang Yakin GWK Akan Tingkatkan Perekonomian Bali

Togar menegaskan, jika ada kasus paedofilia dimanapun memang merupakan kejahatan serius yang penting untuk segera ditindaklanjuti.  Apalagi dalam Undang-undang Perlindungan Anak Pasal 78, sudah diatur jelas. Jangankan pelaku, setiap orang yang mengetahui terjadinya kekerasan dan dibiarkan pun dapat dikategorikan sebagai ikut serta mendorong pelanggaran anak dan bisa dipidana lima tahun.

Hanya saja, demikian Togar, untuk menindaklanjuti suatu kasus, para penyidik biasanya lebih profesional dalam mengumpulkan bukti-bukti agar dapat mengungkap kasus tersebut.

Terkait kasus dugaan paedofilia di Ashram ini, disebutnya sudah terjadi beberapa tahun lalu. Orang yang diduga sebagai korban, bahkan enggan memberikan keterangan.

"Atau malah sebenarnya kasus ini tidak pernah ada dan hanya halusinasi sekelompok orang tertentu yang punya agenda khusus ingin mengobok-obok Ashram dan menghancurkan nama baik Ashram serta Bali secara umum," ujar Togar, yang sedang menyelesaikan Disertasi di Ilmu Hukum Universitas Udayana itu.

Rekaman Pengakuan Pelaku Tidak Bisa Jadi Alat Bukti

Terkait informasi adanya rekaman pengakuan pelaku, Togar menegaskan, apabila benar ada rekaman tersebut, maka rekaman itu juga tidak bisa dijadikan sebagai alat bukti yang berdiri sendiri tanpa didukung oleh alat bukti lain (seperti keterangan korban, saksi, surat, ahli dan petunjuk).

"Pengakuan pelaku baru bernilai sebagai alat bukti bila diucapkan di depan sidang pengadilan (keterangan terdakwa)," bebernya.

Baca Juga:
Gaduh Unicorn, Togar: Bali Harus Punya Startup Unicorn Kelas Dunia

Mencermati hal tersebut, Togar mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga privasi anak-anak dan hak asasi anak-anak.

“Jangan menilai dari katanya, tetapi harus faktanya. Karena kasus ini bukan kasus paedofilia seperti yang diberitakan di media massa lainnya. Jangan ada yang main drama atau cari panggung di kasus ini,” tandas Togar.

Jangan Cemarkan Nama Baik Tokoh Hindu

Togar juga mengingatkan agar jangan sampai kasus ini hanya dipolitisir oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Jangan sampai kasus ini juga dimunculkan kembali dengan agenda khusus menghancurkan Ashram dan mencemarkan nama baik tokoh-tokoh Hindu di Bali.

“Sudahlah, jangan ada yang menari-nari di atas penderitaan anak-anak Ashram yang tertekan dan terintimidasi dengan pemberitaan dan isu yang tidak benar. Kasihan mereka. Kami harapkan, tegas dan jelas kasus ini tutup buku, tamat sesuai instruksi Kapolda Bali,” pungkas Togar Situmorang.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar