Pria Beranak Dua Tega Perkosa Siswi SD di Pinggir Jalan dan Kebun Kopi

Jumat, 08 Februari 2019 | 19:38 WIB
Share Tweet Share

Korban saat menunjuk lokasi dirinya diperkosa pelaku. [foto: indonesiakoran.com/ itho umar]

[LABUAN BAJO, INDONESIAKORAN.COM] Bocah berinisial NDS, siswi Sekolah Dasar (SD) di Cumbi, Desa Warloka, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, menjadi korban aksi bejat tetangganya sendiri, D (36).

Betapa tidak, D yang telah beranak dua ini justru tega memperkosa bocah ingusan itu sebanyak dua kali. Pertama pada Januari 2018, D menjalankan aksinya di pinggir jalan sekitar 300 meter dari sawah pelaku. Kedua pada September 2018, D memperkosa korban di kebun kopi dekat Kampung Cumbi.

D pun telah diamankan pihak berwajib, Kamis (29/01/2019), untuk mempertanggungjawabkan aksinya. D bahkan telah mengakui perbuatannya saat diinterogasi petugas di Polres Manggarai Barat.

Sementara NDS, usai memberikan keterangan di Polres Manggarai Barat, membenarkan peristiwa yang menimpanya. Ia menyebut, D dua kali memperkosa dirinya, masing-masing pada Januari dan September 2018. Namun dirinya baru melaporkan peristiwa ini kepada orangtua pada bulan November 2018, sejak dirinya menderita sakit. 

D menjelaskan, pada Januari 2018, saat pulang menaman padi di sawah milik D, dirinya diperkosa. Hal itu dilakukan D di pinggir jalan, sekitar 300 meter dari sawah miliknya.

Sementara pada September 2018, D diperkosa saat hendak ke kebun untuk memetik sayur. Ketika itu, dirinya bertemu pelaku.

"Saya diberi uang Rp20 ribu. Saya kira uang itu dari ayah saya yang saat itu sedang bekerja di Labuan Bajo. Kemudian Kakak D mengikuti saya. Sampai di kebun kopi, Kakak D lakukan perbuatan jahat," beber NDS.

Setiap kali telah melakukan aksinya, D mengancam akan membunuh korban apabila peristiwa tersebut dilaporkan ke orangtua korban.

Karena ada ancaman tersebut, korban yang tinggal bersama pamannya yang bekerja sebagai petani, tidak berani melaporkan aksi bejat D. Belum lagi ayah kandung D, hanya dua kali seminggu pulang rumah karena bekerja sebagai kuli bangunan di Labuan Bajo.

"Tetapi karena saya sakit pada bulan November, baru saya berani menceritakan kejadian itu kepada orangtua saya," kata NDS.

Sementara Rafael Randu, keluarga korban, merasa terpukul dengan kejadian tersebut. Ia pun berharap, penegak hukum memberikan hukuman seberat-beratnya kepada pelaku.

"Kami sampaikan terima kasih kepada pihak kepolisian yang sudah membantu kami untuk menangkap pelaku. Kami harapkan agar pelaku diberikan hukuman yang seberat-beratnya, dipenjara seumur hidup. Apalagi anak kami terganggu secara psikis akibat peristiwa tersebut," harap Rafael.

Reporter: Itho Umar

Editor: San Edison

Tag:

Berita Terkait

Komentar