Pungli Berkedok Retribusi Desa, Bendesa Ini Terancam Gagal Nyaleg

Jumat, 14 September 2018 | 18:30 WIB
Share Tweet Share

KG diinterogasi petugas di Rutan Pol Air Polda Bali. [foto: istimewa]

[DENPASAR, INDONESIAKORAN.COM] Bendesa Adat (Kepala Desa Adat) Jungutbatu, Nusa Lembongan, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, berinisial KG, ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian, Kamis (13/9/2018).

KG ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pungutan liar (Pungli) berkedok retribusi mengatasnamakan desa. Konon, KG melakukan praktik pungli terhadap pengusaha speed boad, namun hasilnya masuk kantong pribadi dan kelompok tertentu.

Penyidik Pol Air Polda Bali, saat ini terus mendalami kasus ini dengan meminta keterangan KG, terutama terkait aliran dana yang didapat dari hasil pungli berkedok retribusi mengatasnamakan desa ini.

KG ditetapkan sebagai tersangka setelah penyidik Pol Air meminta keterangan sejumlah saksi dan keterangan dua saksi ahli. Dari keterangan para saksi, diketahui bahwa retribusi itu ternyata hanya mengatasnamakan Desa Jungutbatu. Hasilnya, bukan digunakan untuk kepentingan desa.

Kasus ini bermula dari penangkapan dalam penggerebekan saat transaksi di Kantor Scoot Fast Cruises, Jalan Hang Tuah Nomor 27, Sanur Kaja, Denpasar Selatan, Minggu (12/8/2018) sekitar Pukul 15.30 WITA.

Dari tangan para pelaku, petugas mengamankan uang tunai Rp10 juta, serta kwitansi berisi nominal uang Rp30 juta dari tangan pelaku berinisial IMS.

Sebelum diamankan, petugas sudah melakukan pengintaian di kawasan Desa Jugutbatu, karena beredar kabar satu dari 13 perusahaan boat akan melakukan transaksi kurang lebih Rp20 juta di rumah milik istri pelaku. Permainan para pelaku ini cukup lihai, sehingga pergerakan sempat lolos dari pantauan.

Setelah diamankan di Kantor Scoot Fast Cruises saat itu, pelaku membenarkan uang Rp20 juta itu diserahkan ke polisi oleh istri pelaku yang berstatus sebagai saksi. Dengan demikian, uang tunai yang diamankan berjumlah Rp30 juta. Dari hasi pengambangan, uang itu disetor ke KG.

Menurut sumber yang ditemui wartawan di lapangan, sebelum ditetapkan sebagai tersangka, KG sempat dipanggil sebagai saksi. Namun saat itu, ia mangkir.

Selanjutnya dari hasil penyelidikan, didapati bukti yang cukup untuk KG dijadikan tersangka. Pelaku kemudian dipanggil sebagai tersangka.

"Kurang lebih menghabiskan waktu hampir satu minggu, akhirnya KG dipanggil dan ditetapkan sebagai tersangka," beber sumber di lingkungan kepolisian.

KG kemudian diperiksa sebagai tersangka, Kamis (13/9/2018). Dalam pemeriksaan, ia mengaku telah melakukan hal tersebut. Sayangnya, uang restribusi mengatasnamakan desa yang dipatok dari harga Rp30 juta hingga Rp50 juta kepada balasan pemilik boad setiap bulan itu, masuk ke kantong pribadi.

"Kami masih dalami keterangannya terkait ke mana aliran dana yang didapat mencapai miliar sejak awal 2017 hingga kini," ujar sumber ini.

Ditambahkan, informasi yang beredar, pihak keluarga KG berencana mengajukan surat penangguhan penahanan pascapenetapan KG sebagai tersangka dan ditahan di Rutan Pol Air Polda Bali.

"Dengar-dengar keluarga sudah ajukan surat penangguhan itu. Liat aja, itu tergantung atasan," jelasnya.

Sumber lain di lingkungan Pol Air menyebut, KG saat ini berstatus sebagai bakal calon anggota legislatif (Bacaleg) Kabupaten Klungkung Dapil Nusa Penida. Karena kasus ini, KG terancam gagal tampil sebagai Caleg pada Pileg 2019 mendatang.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar