Beh, Ketua DPR RI Terlibat Kasus Tanah di Bali?

Selasa, 26 Juni 2018 | 10:59 WIB
Share Tweet Share

Pelapor, Vita Setyaningrum. [foto: istimewa]

[DENPASAR] Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo, diduga kuat terlibat kasus tanah di Bali. Dugaan ini diperkuat dengan adanya laporan ke pihak berwajib terkait kasus dugaan penyerobotan tanah milik Vita Setyaningrum, di Banjar Tegal Besar, Desa Negari, Kecamatan Banjarankan, Kabupaten Klungkung, Bali.

Bambang dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri dengan Nomor LP/ 618/ IV/2018 tanggal 10 Mei 2018, terkait dugaan penyerobotan tanah, dengan pasal 385 KUHP.

Masalah ini lalu dilimpahkan ke Polda Bali berdasarkan surat Kabareskrim Polri Nomor B/ 3277/ V/ Res.7.4/ 2018 tanggal 15 Mei 2018.

“Ya, laporan awal di Bareskrim Mabes Polri sudah dilimpahkan ke Polda Bali dan Pihak Ditreskrimum sudah terima pelimpahan itu sejak tanggal 22 Mei 2018. Ini ditangani oleh Penyidik Unit II Subdit II,” kata Vita Setyaningrum, kepada wartawan di lingkungan Polda Bali, beberapa waktu lalu.

Wanita kelahiran Lumajang, Jawa Timur ini kemudian merinci, sebidang tanah tersebut semula dibeli oleh dirinya bersama suami (warga negara USA), dengan status hak pakai di Banjar Tegal Besar, Desa Negari, Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, Bali.

Tanah dengan nomor sertifikat 2.06.03.07.4.00031, itu dibeli sekitar tahun 2014 lalu.

Berdasarkan sertifikat yang dipegang dan fakta saat membeli tanah, mereka memiliki jalan selebar 1 meter sampai arah pantai, dengan panjang kurang lebih 56 meter.

“Khusus untuk jalan selebar 1 meter dan panjang 56 meter ini, masuk dalam sertifikat,” bebernya, sembari menunjukkan denah lokasi dalam sertifikat.

Singkat cerita, pada tahun 2016, Bambang Soesatyo yang masih duduk sebagai anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI, dikabarkan membeli tanah di samping dan bagian belakang tanah milik korban.

“Seperti yang terlihat di denah, tanah yang dibeli Pak Bambang bentuknya huruf L. Dia tahu kok akses menuju ke pantai itu milik saya, namun malah dipagar menjadi miliknya,” tutur wanita yang pernah menjadi penerjemah bahasa Jepang untuk penyidik Kepolisian Polresta Denpasar itu.

Vita menambahkan, di antara kepemilikan tanah Bambang, terdapat akses jalan miliknya, yang kemudian dirampas untuk menyambung bidang tanah milik Bambang.

Vita sendiri sudah berupaya secara kekeluargaan, terkait masalah ini. Bulan Juli 2016 lalu, ia bertemu Bambang, di villa miliknya yang terletak bersampingan dengan rumah Vita. Saat itu, Bambang didampingi oleh orang kepercayaannya bernama Ayong.

"Dan hasil dari pertemuan itu, Bapak Bambang Soesatyo akan membeli tanah saya seharga 2 miliar rupiah. Mereka cuma mau membeli tanahnya saja, tanpa rumah yang sedang dibangun, sehingga saya keberatan," urai wanita berambut panjang ini.

Dalam pertemuan dimaksud, Vita juga sempat bertanya terkait lahannya yang sudah diambil atau ditemboki setinggi kurang lebih dua meter tanpa koordinasi atau tanpa sepengetahuan Vita.

Ketika itu, Bambang sempat mengatakan bahwa dirinya bersedia menukar akses jalan ke pantai yang sudah dirampas dengan jalan lain. Yang mana, akses itu justru lebih jauh dan memutar sehingga korban keberatan.

“Dalam obrolan itu, beliau mengaku bahwa akses itu milik saya. Artinya, beliau sadar bahwa dia merampas hak saya atau menyerobot tanah yang menjadi hak milik saya dan suami saya," tegas Vita.

Selanjutnya, sekitar akhir tahun 2017, oknum anggota polisi yang mengaku bernama Untung Laksono dan beberapa warga, datang dan memberikan informasi bahwa Bambang Soesatyo akan membeli akses jalan ke pantai yang selama ini menjadi problem, namun korban dan suaminya tidak mau.

“Ini artinya, beliau dengan sadar telah melakukan perampasan dan penyerobotan tanah milik kami,” tegas Vita.

IMG-20180626-WA0025_1529985824655

Diteror dan Diancam

Sebelumnya, diakui Vita, pihaknya diteror oleh orang yang diduga kaki tangan Bambang. Lantaran membuat perasaan tidak nyaman dan selalu dihina, bertempat di depan rumah korban, kasus ini terpaksa dilaporkan.

Dalam laporan bernomor LPB/ 98/ XII/2017/ Res Klk, tanggal 18 November 2017, ada dua nama yang dilaporkan Vita, yakni I Made Jaya dan Ni Wayan Rusni. Keduanya adalah penjaga lahan Bambang.

Lantaran belum ada pengembangan dari Polres Klungkung dan mereka terus diancam, korban lalu membuat laporan baru dengan tuduhan pengancaman. Ia melapor ke Polda Bali. Namun laporan itu bersifat Pengaduan Masyarakat (Dumas), pada Jumat (4/5/2018) Pukul 12.00 WITA.

“Dumas ini saya adukan orang bernama I Kadek Suwarta, penjaga lahan milik Pak Bambang. Ancaman orang ini mau membom rumah kami,” ujarnya, sembari mengaku bahwa ada rekaman CCTV terkait hal itu.

Ia menambahkan, video-video rekaman CCTV ini sudah diserahkan ke Bareskrim Mabes Polri, bersama sejumlah tembusan, di antaranya ke Inspektorat Mabes Polri, Kabaintelkam Mabes Polri, Kadivproman Mabes Polri, Kapolri, dan Kompolnas, juga ke Dewan Kehormatan DPR RI.

"Semuanya diserahkan pada bulan Mei. Kami sekaligus meminta perlindungan hukum,” kata Vita.

Selain meminta perlindungan hukum ke institusi Polri, korban bersurat ke Ombudsman Republik Indonesia.

“Kita sudah melakukan upaya secara kekeluargaan. Namun bukannya di gubris, malah kita diteror sampai saat ini. Pihak Polda Bali sudah beekoordinasi dengan saya, dalam waktu dekat akan dipanggil untuk dimintai keterangan,” pungkas Vita.

Hingga berita ini ditulis, Kabid Humas Polda Bali Kombespol Hengky Widjaja belum bisa dimintai keterangan. Begitu juga dengan Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, belum berhasil dikonfirmasi.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar