Kondom Bekas Berserakan di Rumah Mewah Ini

Minggu, 30 Juli 2017 | 19:06 WIB
Share Tweet Share

Ilustrasi

[SURABAYA] Hasil Penyidikan aparat kepolisian menemukan kondom dan sejumlah alat bantu seks di rumah mewah kontrakan pelaku penipuan siber yang terletak di perumahan Graha Family, Jalan Mutiara Graha Family I, Blok N1, E58, E68 dan M21, Surabaya, Jawa Timur.

Hal ini diungkapkan oleh petugas keamanan kompleks yang enggan menyebutkan namanya. Menurutnya, saat digerebek dirinya ikut masuk bersama polisi.

“Ada karet terbentuk seperti alat kelamin pria. Nggak tau itu mainan atau hiasan. Kondom juga ada. Tapi nggak diperiksa, hanya dibiarkan saja sama polisinya.” ujarnya kepada wartawan, Minggu (30/7/2017).

Sekadar informasi, rumah mewah itu dihunin oleh 93 WNA asal Cina dan Taiwan. Mereka terdiri dari 26 wanita dan 67 pria. Rata-rata usia mereka masih sekitar antara 20 sampai 30 tahun ke atas.

Sementara itu, warga sekitar bernama Wasis mengatakan, dirinya tak tahu jika rumah mewah itu dihuni oleh hampir 100 orang.

“Kita nggak tahu rumahnya dihuni banyak orang. Inikan perumahan mewah, jadi nggak mungkin kenal antar tetangga,” kata Wasis.

Yang jelas, lanjut Wasis, beberapa diantaranya sering terlihat dan menyapa di pos jaga. Namun untuk yang lain, jarang terlihat melintas.

Seperti diketahui, dalam waktu semalam polisi berhasil membekuk 151 WNA asal China dan Taiwan di berbagai daerah. Kawasan pertama yakni di rumah mewah Pondok Indah, Jakarta Selatan. Di sini polisi menangkap 27 WNA asal China.

Kemudian di Surabaya di tiga rumah kawasan Bukit Darmo Golf, di wilayah ini polisi menciduk 93 WNA. Sementara di Kuta Selatan, Badung polisi meringkus 31 WNA. Ratusan WNA itu rencananya akan dideportasi ke negara asalnya untuk menjalani hukuman sesuai dengan ketentuan di negaranya.

Modus operasi penipuan dan atau pemerasan di mana pelaku mengaku sebagai aparat penegak hukum seperti polisi. Korbannya adalah warganya sendiri yang berada di Cina. Mereka mengaku bisa membekukan kasus yang menjerat para korban. Namun untuk membekukan kasus, korban harus membayar sejumlah uang. Pelaku berdalih jika uang itu sebagai jaminan.

Usai mengirimkan uang korban sadar jika kasusnya tetap berjalan. Sadar menjadi korban penipuan, korban kemudian lapor ke polisi China. Mendapat laporan tersebut, polisi China mengetahui keberadaan pelaku yakni di Indonesia. Akhirnya, mereka berkoordinasi dengan Polri sehingga pengungkapan ini dilakukan.

Editor: Mus


Berita Terkait

Komentar