Tantangan Caleg Perempuan, Maya: Ubah Pola Pikir Masyarakat

Sabtu, 16 Februari 2019 | 08:20 WIB
Share Tweet Share

Sekretaris DPW PSI Provinsi Bali, Desak Gede Maya Agrevina. [foto: istimewa]

[DENPASAR, INDONESIAKORAN.COM] Dalam setiap Pemilu Legislatif (Pileg), tingkat keterpilihan calon anggota legislatif (Caleg) perempuan masih jauh dari harapan.

Di Bali misalnya, pada Pemilu 2004, keterwakilan perempuan di DPRD Bali hanya 4,5 persen. Selanjutnya pada Pemilu 2009 naik menjadi 7,3 persen dan Pemilu 2014 sebesar 7,5 persen. Angka ini tentu masih jauh dari harapan.

Meski demikian, menghadapi Pileg 2019, ada harapan besar akan semakin meningkatnya keterwakilan perempuan di parlemen. Di samping karena semakin tingginya tingkat kesadaran dan kerelaan partai politik memberikan ruang kepada kader perempuan duduk di posisi strategis kepengurusan, rata-rata kader perempuan yang disodorkan sebagai caleg juga memiliki kemampuan mumpuni.

Salah satu partai yang ramah perempuan misalnya adalah pendatang baru Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Maklum partai ini dipimpin oleh mantan presenter salah satu stasiun televisi swasta nasional, Grace Natalie. Bahkan di sekeliling Grace, ada pula nama Isyana Bagoes Oka hingga Tsamara Amany.

Khusus di Bali, nama mantan aktivis GMNI dan jurnalis muda Desak Gede Maya Agrevina, yang dipercaya duduk sebagai Sekretaris DPW PSI Provinsi Bali.

Kepada indonesiakoran.com di Denpasar, Jumat (15/2/2019), Maya mengatakan, bukan perkara mudah bagi caleg perempuan untuk bisa tembus parlemen. Ia pun membeberkan beberapa kondisi yang menyulitkan langkah caleg perempuan, sekaligus bagaimana meretasnya.

Peran Partai Politik

Bagi Maya, partai politik merupakan salah satu kunci utama dalam mendorong tingkat keterwakilan perempuan di parlemen. Fakta yang banyak terjadi selama ini, partai politik kurang memberikan ruang kepada perempuan untuk duduk di posisi strategis kepengurusan partai.

Kalaupun ada, hingga membentuk organisasi sayap perempuan, proses kaderisasi serta penguatan kepada kader perempuan masih setengah - setengah. Buktinya pada saat proses pencalonan legislatif, partai politik terkesan asal pasang nama caleg perempuan.

Karena itu, menurut Maya, keterlibatan perempuan di partai politik hendaknya harus dimulai dari partai politik itu sendiri. PSI sendiri sudah memulai dengan menjadi partai yang ramah perempuan. Bahkan PSI ingin memberikan peran yang lebih pada perempuan.

"Contohnya, jika syarat kepengurusan parpol adalah memiliki minimal 30 persen keterwakilan perempuan, PSI bahkan saat ini sudah mencapai 40 persen pengurus perempuan. Di Bali sendiri, pengurus DPW memiliki persentase perempuannya 42 persen," kata perempuan kelahiran Denpasar, 12 Mei 1993 ini.

Selanjutnya, perempuan yang sudah menjadi pengurus, hendaknya diberikan kesempatan memegang jabatan strategis. Ini merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan perempuan.

"Contoh nyata adalah saya sendiri. Saya bisa dibilang menjadi sekretaris parpol tingkat Provinsi Bali yang termuda karena umur saya 25 tahun dan saya adalah seorang perempuan. Ini menjadi sebuah kesempatan bagi perempuan untuk belajar berorganisasi sebelum nantinya dapat menjadi perwakilan masyarakat di parlemen," ujar Maya.

Sejatinya, kata dia, parpol itu adalah sebuah wadah kaderisasi bagi calon-calon anggota legislatif. Jika sudah memiliki partai yang berjalan dengan baik, tentu wakil rakyatnya juga akan baik.

Ubah Pola Pikir Masyarakat

Selain dari partai politik, kendala yang dihadapi para caleg perempuan selama ini adalah soal pola pikir masyarakat. Maya menyebut, kebanyakan masyarakat selama ini berpikir bahwa perempuan hanya menjadi ibu rumah tangga, mengurus anak dan mengurus keluarga.

"Akibatnya, banyak yang memandang sebelah mata jika ada perempuan maju sebagai caleg. Ini merupakan tantangan lebih bagi perempuan," tandasnya.

Maya sendiri berharap, perempuan dalam proses pencalegan tidak hanya menjadi syarat pemenuhan kuota pencalonan 30 persen.

"Ke depan, saya berharap ada regulasi yang menegaskan agar kuota 30 persen itu adalah kuota untuk caleg perempuan yang menjadi anggota legislatif. Jadi di parlemen nanti, harus ada 30 persen perempuan," ucap perempuan yang tampil sebagai calon anggota DPRD Provinsi Bali Dapil Buleleng dari PSI ini.

Maya sendiri dalam perjuangan sebagai caleg, terus berusaha mengubah pola pikir masyarakat. Bersama kader PSI lainnya di Bali, Maya memilih door to door memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai kerja anggota legislatif yang sebenarnya.

"Kami bercerita mengenai hak-hak yang memang seharusnya didapatkan oleh masyarakat, yang selama ini disamarkan dengan bansos. Bahkan masyarakat berhak memecat anggota dewan yang menyimpang dengan memberikan penilaian dan masukan ke parpol pengusungnya. Hal ini ke depan juga akan dilakukan oleh PSI yaitu membuat forum penilaian terbuka bagi anggota legislatif yang sudah menjabat," bebernya.

Maya sendiri berkeyakinan, dirinya bisa melenggang mulus ke Renon tanggal 17 April mendatang, sepanjang masyarakat memiliki pemikiran yang terbuka mengenai Pemilu dan memilih caleg bukan karena iming-iming uang.

"Jika masyarakat memilih secara rasional dan menggunakan hati, maka saya yakin kemenangan bukan hanya milik saya tapi juga milik masyarakat," pungkas Maya.

Editor: San Edison


Berita Terkait

Komentar